Momentum Maulid Nabi, Belajar Meneladani Perjuangan Nabi

Oleh : Nikmatus Sa’adah 

Maulid nabi 12 Rabiul Awal 1448 H yang bertepatan pada tanggal 25 Agustus 2026 disambut dengan penuh suka cita oleh masyarakat di berbagai daerah. Momen ini dirayakan oleh masyarakat dengan melakukan pembacaan sholawat, tabligh akbar, dan pawai. Selain itu, Kemenag juga melaksanakan kegiatan Blissful Mawlid dengan agenda utamanya yaitu Gema Sholawat. Di dalam agenda tersebut, kemenag dan mengajak umat muslim di seluruh penjuru Indonesia untuk bersholawat dan mengajak masyarakat untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW (sindonews.com/30/08/2026). 

Momen maulid nabi ini sesungguhnya kerap dirayakan dengan penuh meriah namun yang sangat disayangkan adalah substansinya berhenti pada aspek ritual dan emosional. Pembahasan meneladani Rasulullah pada momen maulid nabai, masih dibatasi pada keteladanan akhlak. Padahal masalah yang dihadapi oleh umat hari ini cukup kompleks. Tidak hanya akhlak umat yang merosot, namun ada hal yang jauh lebih besar. Yaitu mengapa akhlak umat islam hari ini merosot dan sulit untuk meneladani kehidupan Rasulullah dalam kehidupan hari ini?. 

Problem ini nyatanya tidak hanya disebabkan oleh individu-individu umat muslim hari ini. Problem ini ternyata disebabkan oleh system jahilliyah yang diterapkan hari ini. Sistem jahiliyah inilah yang membuat umat tidak bisa meneladani kehidupan Rasulullah SAW secara menyeluruh. 

Umat islam hari ini, telah kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik, melalui Demokrasi, Kapitalisme dan Liberalisme yang menjadikan hawa nafsu sebgai orientasi kehidupan. Hawa nafsu yang dijadikan orientasi hidup inilah, yang mengakibatkan peringatan maulid nabi hanya seremonial belaka. Tidak sampai pada arah perubahan secara menyeluruh untuk meneladani Rasulullah secara kaffah hingga metode perjuangan yang dilakukan Rasulullah untuk menegakkan negara islam. 

Sistem kapitalisme hari ini, demi mempertahankan eksistensinya akan terus berusaha menghalangi suara kebangkitan Islam yang menuntut perubahan Sistem. Umat muslin hanya akan disibukkan dengan urusan individu mereka yang tidak ada habisnya karena sulitnya hidup dalam sisten kapitalisme hari ini. 

Maka, sudah selayaknya umat hari ini mngembalikan makna ittiba’ sebagai keterikatan pada syariat dan metode perjuangan nabi, bukan sekedar ritual saja. “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali-Imran : 31).

Sesungguhnya penerapan kapitalisme hari ini, mewajibkan seluruh umat muslim untuk mengembalikan penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah dengan perjuangan dakwah Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Ketika beliau berada di Makkah. 

Metode perjuangan Rasulullah ditempuh dengan tiga tahapan yaitu:

Tahap tasqif (pembinaan dan pembentukan kepribadian Islam), tahap ini adalah pembinaan individu-individu muslim untuk memahami islam secara menyeluruh dan menjadikan Islam sebagai ideologi kehidupan. Sehingga terbentukalah individu muslim yang memiliki iman yang kokoh, pemikiran ideologis, dan kepribadian yang tunduk total kepada Allah dan RasulNya. 

Tahap tafa’ul ma’al ummah. Tahapan untuk berinteraksi secara aktif dengan umat, saling mempengaruhi dan menghadirkan gagasan Islam ke ruang publik. Dakwah ini dilakukan hingga opini tentang ISalam terbentuk ditengah-tengah masyarakat. 

Tahap istilamul hukmi (penerimaan kekuasaan), Ketika umat sudah faham tentang islam dan merek setuju dengan penerapan Islam dalam kehidupan mereka, maka saat itulah kekuasaan diambil alih untuk menegakkan islam secara kaffah, sebagaimana Rasulullah menerima kekuasaan dari Masyarakat Madinah pada saat itu. 

Dengan metode inilah khilafah akan tegak Kembali, sehingga Islam rahmatan lil’alamin benar-benar terwujud ditengah-tengah manusia. Wallahu’alam




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar