Maulid Nabi dan Cinta Hakiki


Oleh: Rya

Rabi'ul awal adalah bulan lahirnya Rasulullah Muhammad saw. Salah satu bulan yang ditunggu-tunggu umat Islam. Berbagai kegiatan diadakan untuk menyambut bulan kelahiran beliau. Kementerian Agama ( Kemenag ) mengadakan Blissful Mawlid 1448 H sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad saw dengan agenda gema selawat kebangsaan. (sindonews.com, 23/8/2026). Di masyarakat ada yang mengadakan pawai maulid, safari maulid pengajian, tabligh akbar dan sebagainya. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai wujud cinta kepada Rasulullah Muhammad saw. serta meneladani akhlaknya. 

Sayangnya umat muslim saat ini hanya meneladani Rasulullah saw. dalam hal ibadah ritual saja seperti salat, puasa, bayar zakat dan ibadah haji tapi tidak dalam kehidupan sehari-hari serta bernegara. Mereka jauh dari meneladani Rasulullah saw. Lihat saja moral generasi saat ini jauh dari kemuliaan. Pergaulan bebas, kriminalitas, kekerasan, perilaku menyimpang dan sebagainya. Mereka mudah sekali membuka aurat padahal itu diharamkan. Tidak hanya itu, sistem pemerintahan saat ini menggunakan sistem demokrasi dimana manusia sebagai pembuat hukum. Sedangkan sistem khil4f4h warisan Rasulullah saw. tidak digunakan. Sistem ekonominya pun berbasis riba yang diharamkan oleh Islam. 

Kecintaan kepada Rasulullah saw. harusnya dibarengi dengan kesadaran untuk merubah sistem kehidupan jahiliyah saat ini yaitu menghamba kepada dunia dan hawa nafsu kepada sistem buatan Pencipta yaitu sistem Islam. Kesadaran kaum muslim sudah muncul hanya saja metode perubahan masih jauh dari metode perjuangan yang dicontohkan beliau. 

Cinta hakiki kepada nabi saw. tidak cukup hanya dengan selawat dan membaca kisah hidup beliau tapi dibuktikan dengan perbuatan, berupa kesiapan untuk taat secara mutlak sebagai seorang hamba Allah Swt, mengikuti segala yang diajarkannya, serta menjadikan beliau sebagai teladan utama. Tapi faktanya kaum Muslim saat ini terlena dengan aturan manusia. Mereka tidak sadar sejatinya masih menghamba kepada sekulerisme, demokrasi, kapitalisme, liberalisme dan pemikiran sesat lainnya. Mereka menjadikan dunia dan hawa nafsu tujuan hidupnya. Lupa jati dirinya sebagai seorang hamba, Allah Swt. Alhasil Umat Islam pun jatuh ke dalam jurang kehinaan yang sangat dalam. Ketika mereka ingin bangkit, akan sulit sekali karena sistem kapitalisme tidak akan membiarkannya untuk bangkit kembali. 


Mencintai Nabi Era Saat ini

Sebagaimana QS Ali Imran: 31 yang artinya: "Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Maka umat Islam harus mengembalikan makna ittiba' kepada Rasulullah saw. dengan keterikatan total terhadap hukum syara' dan metode perjuangan beliau. Sistem kapitalisme dan turunannya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Wajib ikhtiar untuk melakukan perubahan dari sistem rusak kepada sistem Islam sebagai tuntutan dari Allah Swt. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw. ketika merubah masyarakat Makkah yang jahiliyah menjadi masyarakat Islam.

Metode yang digunakan oleh beliau melalui tiga tahapan yaitu: tasqif, tafa'ul ma'al ummah, dan istilamul hukmi. Pertama, tasqif atau pembinaan yaitu membangun kepribadian Islam pada kader dakwah, serta memperbanyak jumlahnya,”. Kedua, tafa'ul ma'al ummah atau interaksi dengan masyarakat, yaitu membina masyarakat dengan akidah dan syariah Islam; pergolakan pemikiran berupa kritik dan penentangan terhadap ide-ide diluar Islam, seperti demokrasi, nasionalisme, dan mengkritik riba; membongkar rencana jahat negara kafir Barat; serta mengkritik dan mengoreksi penguasa yang tidak menerapkan Islam secara kaffah. Ketiga, istilamul hukmi atau penyerahan kekuasaan untuk menegakkan pemerintahan Islam dengan cara baiat, menerapkan hukum Islam secara kaffah di dalam negeri secara syamil dan kamil, dan mengemban dakwah Islam ke penjuru dunia. Akhirnya Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh Alam.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar