Cinta Nabi Harusnya Bukan Sekadar Seremoni


Oleh: Ainul Ma'rifah, S.Si. (Pendidik dan Aktivis Muslimah)

Tanggal 12 rabiul awal tahun hijriyah adalah tanggal kelahiran Rasulullah Muhammad saw. Kaum Muslimin di Indonesia tiap tahun merayakan serta memperingatinya sebagai simbol dari kesenangan akan kelahiran utusan Allah yang terakhir. Perayaan diadakan begitu meriah dan mewah, dari mulai shalawatan, tabligh akbar, hingga pawai dilaksanakan hampir di seluruh penjuru negeri. Namun sayang, peringatan seperti ini kerap hanya berhenti pada aspek ritual dan emosional semata. Minim pemahaman akan keteladan serta bagaimana perjuangan Rasulullah saw. menegakkan Islam serta mendakwahkannya, dari negeri Arab nan jauh disana hingga ke seluruh penjuru dunia.

Meskipun demikian, tidak sedikit juga kaum muslimin yang memperingatinya dengan mulai memahami keteladanan serta 'ittiba' kepada Rasulullah Muhammad saw. Hanya saja, pembahasan 'ittiba' ini masih sebatas pada keteladanan akhlak saja. Belum menyentuh kesadaran bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah yakni Islam, adalah agama yang diturunkan oleh Allah, untuk mengembalikan penghambaan manusia hanya kepada Allah swt., bukan yang lain.

Kaum muslimin juga belum paham bahwa konsekuensi dari penghambaan kepada Allah swt. tidak cukup mengakui Allah swt. sebagai dzat yang menciptakan manusia saja. Tapi bahwa Allah swt. juga adalah dzat yang mengatur seluruh kehidupan manusia. Itulah mengapa Rasulullah diutus ke dunia, bukan hanya mengurusi ibadah ritual semata, tapi juga sampai penegakan syariat dalam level bernegara. 

Memang sebagian kecil kaum muslimin sadar akan konsekuensi itu, mereka berusaha menuntut perubahan di tengah-tengah umat. Hanya saja arah dan merode pergerakannya belum sesuai dengan metode yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sebagian pergerakan kaum muslimin masih ada yang berkompromi dengan sistem rusak hari ini.

Inilah potret buram ekspresi yang salah dari kaum muslimin hari ini dalam memperingati hari kelahiran rasulnya. Maulid tereduksi menjadi kecintaan tanpa konsekuensi ideologis. Peringatan hanya sebatas seremonial tanpa ada makna keimanan. Bukankah makna cinta harus melahirkan ketundukan dan keterikatan pada seluruh risalah yang beliau bawa serta perjuangan dakwahnya?

Sungguh miris fakta kaum muslimin, bahwa kecintaan pada nabinya jauh makna dari pada rasa. Mereka kehilangan kesadaran bahwa hari ini mereka dibelenggu oleh sistem rusak sekular kapitalisme. Kehilangan kesadaran bahwa tingkah laku mereka dituntun oleh paham kebebasan yang menjadikan kesenangan hawa nafsu sebagai tujuan hidup mereka di dunia. 

Memang itulah tujuan sistem rusak demokrasi kapitalisme. Menjauhkan kaum muslimin dari agamanya. Tidak akan tinggal diam jikalau ada sekelompok kaum muslimin yang ingin mengembalikan penghambaan manusia hanya kepada Allah swt. Mereka akan menghalangi kebangkitan umat Islam yang menginginkan penegakan syariat Islam di seluruh aspek kehidupan.

Oleh karenanya, harus ada upaya mengembalikan makna maulid nabi dengan menjelaskan bahwa 'ittiba' kepada Rasulullah itu tidak cukup hanya dengan peringatan maulid semata. Tapi 'makna 'ittiba' itu adalah ketundukan dan keterikatan pada seluruh risalah yang beliau bawa. Sebagaimana Allah menjelaskan dalam qur'an surat Ali Imron ayat 31: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Selain itu, harus ada upaya menjelaskan kepada umat bahwa penerapan sistem sekular kapitalisme adalah kedzoliman yang nyata. Harus ada kesadaran untuk penegakan syariah islam secara sempurna melalui kepemimpinan islam (khilafah). Sebagaimana dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Karena hanya dengan penegakan Islam secara sempurna, rahmat bagi sekalian alam itu akan terwujud. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an, surat al-Anbiya' ayat 107, "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."

Wallahua'lam bisshowab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar