Maulid: Momentum Meneladani Metode Perjuangan Nabi, Antara Ritual dan Realita


Oleh: Ai Dewi Mulyawati 

Umat Islam di seluruh dunia saat ini tengah merayakan kelahiran Rasulullah Saw. dengan penuh kegembiraan. Majelis-majelis shalawat digelar, tabligh akbar dilaksanakan, pawai keagamaan berjalan meriah, dan lontaran puji-pujian kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. menggema di mana-mana. Namun di tengah hingar-bingar perayaan ini, muncul satu pertanyaan yang jujur namun menyentuh hati, “Apakah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad Saw. hanya berhenti pada lisan dan emosi, atau benar-benar diwujudkan dalam cara hidup dan perjuangan yang beliau contohkan?


Fakta yang Terjadi di Lapangan
 
Perayaan maulid saat ini kerap terjebak pada aspek ritual semata. Kita berkumpul, membaca shalawat, menangis karena cinta, lalu pulang kembali ke rutinitas yang sama. Substansi pengikutan atau ittiba' kepada Rasulullah Saw. masih sebatas pembahasan tentang keteladanan akhlak, yang memang penting, namun jarang menyentuh kesadaran bahwa beliau datang bukan hanya untuk memperbaiki perilaku individu semata, melainkan mengubah seluruh sistem kehidupan yang pada awalnya adalah jahiliyah (sistem yang menjadikan dunia, harta, kekuasaan, dan hawa nafsu sebagai tuhan selain Allah).
 
Ketika kita berbicara tentang perubahan, tuntutan itu memang sudah muncul di kalangan umat. Banyak yang merasakan bahwa keadaan saat ini tidak benar, ketidakadilan merajalela, hukum yang bisa dibeli, kekayaan menumpuk di tangan segelintir orang, sementara mayoritas rakyat tetap terjebak dalam kemiskinan dan kebodohan. Namun sayangnya, arah dan metode perjuangan yang diambil masih jauh dari apa yang dicontohkan Rasulullah Saw. Perubahan diusahakan melalui sistem yang ada, padahal sistem itulah yang menjadi sumber masalah.
 
Sungguh memprihatinkan, di zaman ini, banyak generasi muda (termasuk remaja putri yang lahir dari keluarga Muslim) justru lebih mengagungkan, mengidolakan, dan meluapkan rasa cinta kepada tokoh-tokoh yang jelas-jelas bukan pemeluk Islam. Contoh nyata terlihat saat artis Korea Selatan Kim Soo-hyun berkunjung ke Indonesia, ribuan gadis muslimah berebut melihatnya, berdesak-desakan hingga hilang kendali diri, menangis histeris, dan menempatkan sosok tersebut sebagai pusat kekaguman bahkan pengabdian emosional. Padahal Rasulullah Saw. dengan susah payah berjuang membebaskan dan memuliakan wanita dari perbudakan, penghinaan, dan penindasan di masa jahiliyah, namun kini kemuliaan itu dipertaruhkan demi kekaguman kepada sesama manusia yang tidak membawa cahaya tauhid.


Cinta yang Harus Berkonsekuensi
 
Cinta kepada Rasulullah Saw. tidak cukup hanya dengan melantunkan shalawat yang merdu. Allah SWT. sendiri telah menetapkan ukuran kecintaan itu adalah yang termaktub dalam Surah Ali Imran ayat 31:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu."
 
Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. berarti keterikatan penuh pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa. Jika beliau diutus untuk meruntuhkan sistem jahiliyah dan menggantinya dengan sistem Islam yang berlandaskan penghambaan hanya kepada Allah SWT. maka mencintainya berarti juga berjuang untuk hal yang sama.
 
Namun kenyataannya, maulid hari ini sering kali tereduksi menjadi ekspresi emosional tanpa konsekuensi ideologis. Umat seolah lupa bahwa penghambaan kepada selain Allah tidak hanya berupa menyembah berhala seperti yang terjadi di zaman Jahiliyah, akan tetapi juga menjadikan hukum buatan manusia, kepentingan dunia, idola, dan hawa nafsu sebagai pedoman hidup. Demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme adalah wajah jahiliyah modern yang menempatkan kehendak manusia di atas syariat Allah, menjadikan materi dan popularitas sebagai ukuran segala sesuatu, dan melepaskan manusia dari keterikatan pada aturan Ilahi.
 
Fenomena kegilaan pada tokoh luar negeri hanyalah satu gejala, hati yang seharusnya penuh cinta dan pengikutan kepada Nabi Muhammad Saw, justru diisi oleh kekaguman kepada mereka yang tidak mengenal risalah Islam. Padahal Nabi Muhammad Saw. datang untuk mengangkat derajat wanita, memuliakan, menjaga kehormatan, dan meletakkan wanita pada tempat yang mulia, bukan menjadikannya pengikut yang terbuai oleh penampilan dan popularitas semata.
 
Dan sistem ini (kapitalisme-sekuler) tidak akan berdiam diri. Demi mempertahankan kekuasaannya, ia akan terus berusaha membungkam suara kebangkitan Islam, mengalihkan perhatian umat pada hal-hal yang bersifat simbolik dan hiburan, serta membuat umat percaya bahwa kebahagiaan dan teladan bisa diambil dari mana saja, tanpa perlu kembali kepada sumber cahaya yang dibawa Rasulullah Saw.


Kembali ke Metode Nabi Muhammad Saw
 
Makna maulid yang sesungguhnya bukan sekadar merayakan kelahiran beliau, melainkan meneladani sepenuhnya metode perjuangan yang beliau tempuh untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi:
 
• Mengembalikan Makna Ittiba' secara Utuh
Mengikuti Nabi Muhammad Saw. berarti menerima seluruh apa yang beliau bawa, bukan hanya sebagian saja. Ini mencakup akhlak, ibadah, maupun sistem kehidupan yang beliau perjuangkan. Syariat Allah harus berlaku menyeluruh (kaffah), mulai dari urusan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga negara. Hati yang mencintai Nabi Muhammad Saw. akan menempatkan beliau sebagai teladan utama, bukan orang lain. Sebagaimana Allah SWT. berfirman dalam Surah Al Ahzab ayat 21:
لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا ؕ‏
"Sesungguhnya pada Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
 
• Menegakkan Sistem Islam Melalui Kepemimpinan Islam
Karena sistem yang menguasai negeri-negeri muslim saat ini berlandaskan kapitalisme dan sekulerisme yang menciptakan kekosongan nilai lalu mengisinya dengan idola dan budaya asing, maka perjuangan umat Islam haruslah mengarah pada penggantian sistem tersebut secara menyeluruh dengan sistem yang bersumber dari wahyu Allah. Seperti yang dilakukan Rasulullah Saw. di Makkah, dakwah ditujukan untuk mengubah pola pikir masyarakat, membebaskan mereka dari penghambaan kepada selain Allah, dan mempersiapkan tegaknya kepemimpinan Islam (Khilafah) yang menjalankan syariat Allah secara totalitas, sehingga generasi muda tumbuh dengan teladan yang benar, nilai yang lurus, dan kemuliaan yang dijamin Allah.
 
• Menempuh Metode Tiga Tahapan Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw. tidak mengubah sistem dalam semalam. Beliau menempuh jalan yang terstruktur dan sistematis, yaitu:
 
- Tatsqif
Membangun kesadaran dan pemahaman umat tentang Islam, meluruskan konsep tauhid, membersihkan hati dari kekaguman yang salah arah, dan menanamkan bahwa teladan sejati hanyalah Rasulullah Saw.

- Tafa'ul ma'al Ummah
Berinteraksi dan membangun kedekatan dengan masyarakat luas, menyampaikan kebenaran, mengingatkan akan kemuliaan yang dibawa Nabi Muhammad Saw. bagi wanita, dan membentuk kekuatan masyarakat yang meyakini perubahan itu.

- Istilahamul Hukmi
Menerima kekuasaan dan menegakkan pemerintahan Islam, sehingga hukum Allah berlaku sepenuhnya, nilai-nilai Islam terjaga, dan generasi tumbuh dalam lingkungan yang memuliakan ajaran Nabi Muhammad Saw.
 
Dengan metode inilah, Islam akan kembali tegak bukan hanya sebagai simbol atau nama, melainkan sebagai sistem kehidupan yang nyata, sehingga benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam.
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
"Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." 
(QS. Al-Anbiya: 107).
 
Maulid bukan sekadar peringatan masa lalu. Ia adalah momentum kebangkitan. Cinta kita kepada Rasulullah Saw. hari ini diuji dengan beberapa pertanyaan, kepada siapa hati kita berlabuh? Siapa yang kita jadikan teladan? Dan perubahan apa yang kita perjuangkan?
 
Nabi Muhammad Saw. berjuang mengubah sistem jahiliyah di mana manusia menyembah manusia dan di mana wanita dihina, menjadi sistem tauhid di mana semua tunduk kepada Allah SWT. dan wanita dimuliakan. Maka, meneladaninya berarti kita pun tengah berjuang agar hati tidak lagi terhamba kepada idola atau sesama manusia, syariat-Nya menjadi hukum tertinggi dalam kehidupan, dan kemuliaan yang beliau perjuangkan benar-benar dirasakan oleh setiap jiwa. Maulid bukan hanya merayakan kelahiran beliau, tetapi melanjutkan perjuangan beliau.

Wallahu’alam bishshawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar