Maulid: Momentum Meneladani Metode Perjuangan Nabi ﷺ


Oleh : Bunda Erma E. (Pemerhati Generasi)

Bulan Rabiulawal jutaan umat Islam di negeri ini kembali merayakan Maulid Nabi Muhammad ﷺ dengan berbagai rangkaian kegiatan, seperti shalawat, tabligh akbar, bahkan pawai, namun substansinya kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional. Nasihat atau tausiyah yang disampaikan dalam setiap pembahasan ittiba' kepada Nabi ﷺ pada momentum Maulid ini masih dibatasi pada aspek meneladani akhlak Nabi ﷺ, belum menyentuh pada kesadaran mengubah sistem jahiliyah yang menjadikan penghambaan manusia lebih kepada dunia dan hawa nafsu menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah SWT.

Berbarengan dengan momen kemerdkaan negeri ini yang ke-81 tahun, tuntutan perubahan sebenarnya telah muncul di kalangan umat Islam, namun arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan Rasulullah ﷺ. Pasalnya perubahan yang dikehendaki sebatas tuntutan-tuntutan parsial yang belum menyentuh akar masalah dari tumpukan persoalan masyarakat dan negeri ini. 

Maulid bagi umat Islam di negeri ini tereduksi menjadi ekspresi kecintaan yang sifatnya rutinitas dan ritual semata. Padahal, Rasulullah telah meninggalkan warisan yang mulia, yakni berupa risalah Islam yang sempurna. Sehingga mestinya cinta kepada Rasulullah ﷺ harus melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa.

Berikutnya, Umat juga telah kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik, melalui Demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang menjadikan dunia serta hawa nafsu sebagai orientasi hidup. Pasalnya, konsep pemikiran ini telah menjadi pemahaman yang melekat di benak umat ini sudah sejak lahir, oleh karena itu sikap dan keputusan pastinya dipengaruhi oleh pemahamannya. Disisi lain pemikiran dan pemahaman yang berasal dari Islam yang komprehensif telah dijauhkan dari benak umat, sehingga yang tersisa hanyalah ajaran Islam yang mengatur ritual dan akhlak saja. 

Hal inilah yang menjadikan hilangnya Islam politik dan ideologis di benak umat. Sebaliknya umat seolah dipaksa menerima penerapan sistem kapiitalisme- demokrasi. Demi mempertahankan eksistensi sistem Kapitalisme hari ini, maka segala cara akan dilakukan untuk menghalangi apapun dan siapapun yang berusaha menyingkirkan sistem ini termasuk suara kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan sistem.

Wujud mencintai Nabi ﷺ berarti mengikuti (ittiba’) apa yang sudah dibawa oleh Nabi ﷺ, yakni terikat pada syariat dan metode perjuangan Nabi ﷺ, tidak cukup mengambil ibadah ritual saja (Ali Imran: 31). Sudah seharusnya jika dikembalikan pada misi hidup umat Islam adalah untuk beribadah kepada Allah SWT, seharusnya menjadikan semua perbuatannya terikat pada syariat Islam secara total. 

Hari ini ketika umat Islam mulai meninggalkan syariat Islam, karena penerapan sistem kapitalis sekuler telah menggantikan posisi syariat sebagai pengatur semua urusan rakyat, maka berbagai problem bermunculan tak kunjung selesai, karena rusaknya sistem. 

Kondisi ini telah menjadi triger umat Islam untuk melakukan perjuangan. Namun sayangnya perjuangan umat ini masih sebatas perubahan kebijakan dan reshuffle pejabat, tanpa menyentuh perubahan sistem. Padahal problem negeri ini adalah problem sistemik yang mengharuskan adanya perubahan yang sifatnya mengakar dan sistemik, yakni penerapan syariat Islam secara total karena merupakan aturan yang berasal dari Dzat yang Maha Benar yang menciptakan manusia. 

Penerapan sistem Kapitalisme-sekuler di negeri-negeri Muslim mewajibkan umat Islam memperjuangkan penerapan syariat kaffah melalui kepemimpinan Islam (Kh1l4f4h) sebagaimana dakwah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ di Makkah.

Metode perjuangan Rasulullah ﷺ ditempuh melalui tiga tahapan (marhalah): tatsqif, tafa'ul ma'al ummah, dan istilamul hukmi (penerimaan kekuasaan). Dengan metode inilah kehidupan Islam akan tegak kembali, sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya [21]: 107)






Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar