Kenaikan Harga ditengah Klaim Swasembada


Oleh : Siami Rohmah 

Pusing, ibu-ibu rumah tangga dan pedagang harus memutar otak karena kenaikan harga bahan pokok di pasaran. Harga bahan pokok yang sedang meroket adalah daging ayam. Daging ayam mengalami kenaikan, rata-rata kenaikan nasional di harga Rp 41.000/kg,di beberapa daerah harga diatas Rp41.000 rupiah, seperti di Kabupaten Bangka di harga Rp48.000/kg, sementara di Rokan Hilir diatas 50 ribu,bahkan ada yang tembus Rp 100.000/kg,ini terjadi di Kabupaten Intan Jaya. Kenaikan harga ini terjadi di 220 kabupaten/kota,angka ini berarti 61,11 persen wilayah Indonesia terjadi kenaikan harga.(CNN Indonesia/27/08/2026).

Naiknya harga ayam menyusul harga bahan pokok lain, seperti beras,minyak goreng tentu semakin menambah beban ekonomi masyarakat. Padahal pemerintah beberapa kali mengklaim negeri ini sudah swasembada.Faktanya,masyarakat harus memutar otak mencukupkan pemenuhan kebutuhan ditengah himpitan berbagai beban pengeluaran yang lain Namun, yang harus menjadi perhatian juga ditengah melambungnya harga di pasaran,kadang ternyata tidak memberikan keuntungan di tingkat petani ataupun peternak.Misalkan kenaikan harga ayam ternyata tidak berkorelasi dengan keuntungan disi peternak.Hal ini disinyalir adanya permainan ditingkat distributor.

Fakta di lapangan yang tidak berkorelasi antara klaim swasembada dan kenaikan harga berakar pada sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan tolok ukur kesejahteraan hanya pada besarnya produksi. Hasil produksi yang secara angka besar dianggap cukup,tanpa memastikan bagaimana hasil produksi itu bisa sampai kepada setiap individu rakyat. Seolah angka produksi yang besar otomatis bisa dinikmati oleh masyarakat dengan harga terjangkau., padahal di lapangan banyak praktek monopoli, oligopoli yang harga dapat diatur sesuai keinginan para oligarki produsen besar maupun distributor.

Dalam kapitalisme negara hanya menjalankan fungsi sebagai regulator yang hanya memberikan regulasi.Pemerintah lepas tangan dari pemenuhan masing-masing individu rakyat, bagaimana tersampaikannya barang kepada rakyat bukan menjadi masalah Kesejahteraan hanya rata-rata sebatas angka.Data yang seolah luar biasa tanpa memastikan setiap individu bisa mengakses kebutuhan tersebut atau belum.

Dalam Islam masalah utama ekonomi adalah distribusi.Untuk apa secara produksi besar tapi tidak bisa dijangkau oleh masyarakat.Pangan merupakan salah satu kebutuhan individu diluar sandang dan papan yang pemenuhannya dijamin oleh negara. Negara akan memastikan setiap individu rakyat bisa terpenuhi kebutuhannya.Selain itu negara akan memastikan kebutuhan itu bisa diakses oleh setiap individu rakyat dengan harga terjangkau tanpa membuat rugi produsen dengan harga dibawah biaya produksi Negara akan mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan.Inovasi dan teknologi yang akan meningkatkan produksi. Negara akan mencegah dan melarang terjadinya monopoli oligopoli yang akan mengendalikan harga pasar.

Pemimpin adalah penanggung jawab atas seluruh rakyat, setiap kebutuhan rakyat harus dipenuhi dengan sebaik-baiknya.Memastikan setiap individu bisa mengakses bukan data rata-rata.Aplikasi seperti ini hanya akan terwujud jika pemimpin dan negeri ini menerapkan dan taat kepada hukum Allah.Ketaqwaan yang mengalahkan pengaruh para konglomerat yang akan memonopoli laju ekonomi.Sebagaimana Khalifah Umar bin Khattab yang memikirkan keledai terperosok jika jalanan berlubang.Kisah yang masyhur ketika beliau memanggil sendiri karung gandum untuk diberikan kepada rakyatnya yang sedang kelaparan. MasyaAllah..




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar