Oleh : Nikmatus Sa’adah
Sebuah Lembaga Hak Asasi Manusia Palestinian Center For Prisoners Advocacy menyatakan bahwa tahanan palestina oleh zionis mencapai 9.400 per awal Agustus. Di dalam angka tersebut, didalamnya termasuk anak-anak. Zionis telah menculik 276 anak Palestina selama enam bulan pertama tahun 2026 (hidayatullah.com/6/10/2026). Sehingga total anak-anak yang mendekam di penjara-penjara israel saat ini mencapai 370 anak dan Sebagian besar ditahan di penjara Megiddo dan Ofer (antaranews.com/6/10/2026).
Penangkapan anak-anak ini sudah tercatat sejak tahun 1967 atau sejak awal pendudukan Israel atas wilayah Palestina. Kepala penelitian Komisi Palestina Urusan Tahanan dan Mantan tahanan Abden Nasser Farawneh mengatakan terjadi lebih dari 50.000 kasus penangkapan anak Palestina sejak pendudukan Israel atas wilayah Palestina. Setelah itu, sedikitnya 16.655 kasus penangkapan anak-anak sejak meletusnya Intifida (Aksi Perlawanan) atau Intifida Al-Aqsa kedua pada tahun 2000 (antaranews.com/6/10/2026).
Melihat fakta ini, dapat dilihat bahwa penjajahan zionis atas palestina sudah diluar batas kebrutalan manusia. Dimana ana-anak yang tidak berdosapun mereka bantai dan dihilangkan masa depannya. Namun hal yang miris adalah respon dari penguasa-penguasa muslim yang diam seribu bahasa dalam masalah genosida ini. Peran PBB pun seolah juga tidak ada gunanya. Karena mereka hanya bisa mengeluarkan resolusi dan kecaman semata.
Kebijakan yang Menghancurkan
Penangkapan anak dibawah umur oleh zionis ini sesungguhnya adalah bagian dari kebijakan sistematis Zionis untuk menghancurkan masa depan anak-anak Palestina. Semanagat jihad anak-anak Palestina yang dibentuk oleh orangtua mereka, berusaha dihilangkan dengan cara ini. Memenjarakan anak Palestina juga strategi untuk menekan dan mengintimidasi perlawanan rakyat Palestina.
Penangkapan dan pemenjaraan ini adalah kejahatan manusia yang jelas bertentangan dengan syariat Islam. Anak-anak yang seharusnya dijaga dan dirawat oleh orang dewasa merupakan kewajiban Islam. Maka sesungguhnya menjaga anak-anak Palestina termasuk kewajiban yang ada dipundak setiap umat muslim.
Namun, yang terjadi adalah umat muslim diluar Palestina, mereka diam seribu bahasa. Para penguasa negeri muslim juga bisu dan tidak mampu membebaskan anak-anak Palestina dari penjara Israel. Hal ini sangat wajar terjadi karena kondisi umat muslim hari ini tidak bersatu. Umat muslim telah dikotak-kotakkan dengan Nasionalisme. Penguasa negeri muslim sibuk dengan perjanjian-perjanian yang telah mengikat mereka dengan negara-negara kafir. Penguasa muslim tidak mampu melawan orang-orang kafir karena kondisi mereka yang lemah karena kecilnya umat muslim hari ini.
Sesungguhnya jika penguasa muslim berani untuk menyatukan pandangan mereka dengan tujuan persatuan umat dimanapun umat Islam berada, maka sesungguhnya kekuatan umat muslim cukup besar untuk melawan negara-negara kafir termasuk Israel.
Persatuan Umat adalah Solusi
Langkah awal agar umat muslim hari ini bisa bersatu yaitu, dengan terus menyadarkan umat dan penguasa di neger-negeri muslim bahwa kejahatan Zionis terhadap anak-anak Palestina tidak boleh dibiarkan, bahkan harus dilawan dan diperangi dengan jihad fi sabilillah.
Tidak ada solusi selain persatuan umat, jihad dan tantara Islam. Karena sudah dicoba dengan berbagai cara dalam system demokrasi hari ini. Dengan adanya bantuan logistic, kecaman, gencatan senjata, kebijakan PBB, nyatanya semua itu tidak bisa membebaskan penderitaan palestina secara total.
Persatuan umat, jihad dan pengiriman tantara Islam ini sesungguhnya hanya bisa dilakukan jika kita mengembalikan kejayaan umat muslim dengan bingkai negara Khilafah. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dahulu. Wallahu ‘alam
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

0 Komentar