Oleh : Sayuti Nakuli
Generasi Z tumbuh di tengah dunia yang bergerak sangat cepat. Teknologi berkembang, informasi datang tanpa henti, dan media sosial membuat kehidupan terasa semakin terbuka. Di satu sisi, kondisi ini memberikan banyak kemudahan. Namun di sisi lain, Gen Z juga menghadapi tekanan yang tidak sederhana.
Mereka dituntut berprestasi, memiliki pekerjaan yang mapan, mengikuti perkembangan zaman, tampil menarik, dan sekaligus menemukan makna hidup. Di tengah tuntutan tersebut, muncul budaya hedonis yang menawarkan kesenangan instan sebagai jalan keluar dari kejenuhan. Akibatnya, banyak anak muda terhimpit antara tekanan hidup, gaya hidup konsumtif, dan pertanyaan besar tentang sebenarnya untuk apa mereka hidup.
Gen Z mengalami tekanan hidup tidak hanya berasal dari lingkungan keluarga atau pendidikan, tetapi juga dari standar kesuksesan yang terus dipertontonkan. Media sosial sering kali menampilkan kehidupan orang lain dalam versi terbaiknya: liburan, kendaraan, pakaian bermerek, makanan mahal, karier yang sukses, hingga pencapaian pribadi. Tanpa disadari, semua itu dapat menjadi standar pembanding. Seseorang akhirnya merasa tertinggal ketika melihat teman sebaya sudah memiliki pekerjaan, membeli rumah, bepergian ke berbagai tempat, atau menjalani kehidupan yang terlihat sempurna. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan keseluruhan realitas kehidupan seseorang.
Di tengah tekanan tersebut, budaya hedonisme hadir menawarkan kebahagiaan melalui konsumsi dan kesenangan. Bahagia kemudian sering diidentikkan dengan kemampuan membeli sesuatu, nongkrong di tempat tertentu, memiliki barang terbaru, atau mengikuti tren. Masalahnya, kesenangan yang diperoleh dari konsumsi biasanya bersifat sementara. Setelah mendapatkan sesuatu yang diinginkan, muncul keinginan baru yang harus dipenuhi. Siklus tersebut dapat membuat seseorang terus mengejar kepuasan tanpa pernah merasa cukup.
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari sistem ekonomi kapitalis yang menempatkan aktivitas ekonomi dan kepemilikan materi sebagai bagian penting dalam kehidupan. Dalam budaya yang sangat berorientasi pada pasar, manusia sering diposisikan sebagai konsumen. Berbagai kebutuhan baru diciptakan, dipromosikan, dan dibuat seolah-olah harus segera dimiliki. Anak muda akhirnya mudah terjebak dalam pola hidup “bekerja untuk membeli, membeli untuk bahagia, lalu bekerja lagi untuk mendapatkan lebih banyak.”
Persoalannya bukan sekadar memiliki barang atau menikmati fasilitas kehidupan. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengharamkan kenikmatan dunia.
Persoalan muncul ketika materi dan kesenangan menjadi tujuan utama kehidupan. Ketika ukuran keberhasilan hanya berdasarkan uang, popularitas, penampilan, dan status sosial, manusia dapat kehilangan arah. Ia mungkin memiliki banyak hal, tetapi tetap merasakan kekosongan dalam dirinya.
Di sinilah pertanyaan tentang tujuan hidup menjadi penting. Manusia tidak diciptakan hanya untuk bekerja, mencari uang, mengejar popularitas, kemudian mati.
Dalam perspektif Islam, kehidupan memiliki tujuan yang lebih tinggi, yaitu beribadah kepada Allah. Ibadah pun tidak hanya dipahami sebagai ritual seperti salat dan puasa, tetapi juga mencakup seluruh aktivitas kehidupan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan Allah dan ditujukan untuk mendapatkan keridaan-Nya.
Islam memberikan cara pandang yang berbeda terhadap dunia. Dunia bukan sesuatu yang harus ditinggalkan, tetapi juga bukan sesuatu yang layak dijadikan tujuan akhir. Harta, karier, pendidikan, teknologi, dan berbagai fasilitas kehidupan dapat digunakan sebagai sarana untuk menjalankan amanah.
Dengan cara pandang tersebut, kesuksesan tidak lagi semata-mata diukur dari seberapa banyak seseorang memiliki, tetapi juga dari bagaimana apa yang dimilikinya digunakan secara benar.
Kembali kepada Islam berarti mengembalikan kehidupan kepada aturan dan nilai yang bersumber dari wahyu. Gen Z membutuhkan identitas yang tidak mudah berubah hanya karena tren. Mereka membutuhkan prinsip yang mampu menjadi pegangan ketika menghadapi tekanan hidup, godaan konsumtif, serta ketidakpastian masa depan. Islam menawarkan prinsip tersebut melalui akidah, syariat, dan akhlak.
Dalam Islam, manusia juga diajarkan untuk tidak menjadikan dunia sebagai ukuran utama kebahagiaan. Ada konsep qanaah, yaitu merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan, tanpa berarti berhenti berusaha. Seorang Muslim tetap boleh memiliki cita-cita besar, membangun karier, menjadi kaya, dan meraih prestasi. Namun semua itu ditempatkan sebagai sarana, bukan sebagai Tuhan baru yang menentukan nilai dirinya.
Karena itu, Gen Z perlu membangun kembali hubungan dengan Allah sekaligus membangun kesadaran kritis terhadap budaya yang ada di sekitarnya. Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua keinginan harus dipenuhi. Tidak semua standar kesuksesan yang viral harus dijadikan tujuan hidup. Keberanian untuk berkata “cukup” di tengah budaya konsumtif justru merupakan bentuk kemerdekaan diri.
Kembali kepada Islam juga bukan berarti menolak kemajuan zaman. Justru generasi muda Islam perlu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan berbagai bidang kehidupan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Yang perlu diubah adalah orientasi hidupnya. Teknologi digunakan untuk kemaslahatan, harta digunakan untuk kebaikan, ilmu digunakan untuk memberi manfaat, dan prestasi digunakan sebagai jalan untuk menjalankan amanah.
Pada akhirnya, persoalan terbesar Gen Z bukan hanya kurangnya kesempatan atau banyaknya tekanan, tetapi hilangnya kompas kehidupan. Ketika seseorang tidak mengetahui untuk apa ia hidup, kesenangan sesaat mudah menjadi pelarian dan materi mudah menjadi tujuan. Islam hadir memberikan jawaban mendasar tentang siapa manusia, dari mana manusia berasal, untuk apa manusia hidup, dan ke mana manusia akan kembali.
Maka, di tengah dunia yang semakin materialistis, sudah saatnya Gen Z berani mengambil jalan yang berbeda. Bukan hidup tanpa cita-cita, melainkan memiliki cita-cita yang lebih tinggi. Bukan menolak dunia, melainkan menempatkan dunia pada tempatnya. Bukan mengejar kesenangan tanpa batas, melainkan mencari kebahagiaan yang memiliki makna.
Saatnya Gen Z kembali kepada Islam: menjadikan Allah sebagai tujuan, syariat sebagai pedoman, dan kehidupan dunia sebagai jalan menuju kehidupan akhirat.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar