Gen Z Takut Menikah: Ketika Masa Depan Terasa Lebih Menakutkan daripada Kesendirian


Oleh: Eka Sulistya (Aktivis Muslimah) 

Menikah hari ini bagi sebagian Gen Z bukan lagi sekadar persoalan menemukan pasangan yang cocok. Pernikahan justru sering di pandang sebagai keputusan besar yang penuh resiko. Ada yang takut menikah karena melihat banyak rumah tangga berakhir dengan perceraian. Ada pula yang memilih childfree karena merasa tidak sanggup memikul tanggung jawab membesarkan anak.

Di sisi lain, persoalan ekonomi semakin membuat pernikahan terasa berat. Harga rumah tinggi, biaya pendidikan meningkat, kebutuhan hidup terus bertambah, sementara penghasilan sebagian anak muda masih berada di kisaran UMR. Akhirnya muncul anggapan, “Bagaimana mau menikah kalau membeli rumah saja belum mampu?”

Media sosial pun turut membentuk cara pandang generasi muda. Mereka disuguhi kisah perselingkuhan, perceraian, konflik rumah tangga, hingga beban finansial keluarga. Pernikahan akhirnya terlihat seperti sesuatu yang menakutkan, bukan ibadah yang mendatangkan ketenangan. Sesungguhnya, persoalan ini tidak semata-mata tentang Gen Z yang takut berkomitmen. Ada perubahan cara pandang terhadap kehidupan yang perlu dicermati.

Dalam sistem kehidupan sekuler-materialistik, keberhasilan sering diukur dari kepemilikan materi: rumah harus sudah punya, kendaraan harus tersedia, tabungan harus cukup, karier harus mapan, bahkan standar pesta pernikahan pun di buat tinggi. Akibatnya, menikah seolah-olah baru boleh dilakukan setelah seseorang “sempurna” secara ekonomi. Padahal Islam tidak menjadikan kepemilikan rumah sebagai syarat sah pernikahan. Islam memang memerintahkan laki-laki untuk menunaikan kewajiban nafkah, tetapi kemampuan tersebut tidak identik dengan harus memiliki rumah sendiri atau kehidupan serba mewah sejak awal.

Begitu pula ketakutan terhadap perceraian. Melihat banyaknya perceraian memang semestinya menjadi bahan muhasabah, tetapi bukan alasan untuk menganggap pernikahan sebagai institusi yang gagal. Perceraian terjadi ketika berbagai persoalan rumah tangga tidak diselesaikan dengan tuntunan syariat, ditambah kuatnya individualisme, lemahnya pemahaman tentang hak dan kewajiban suami istri, serta tekanan kehidupan yang semakin berat.

Demikian pula childfree. Ketika anak dipandang hanya sebagai beban biaya, persoalannya bukan sekadar keputusan memiliki anak atau tidak, tetapi cara pandang terhadap kehidupan. Dalam Islam, anak adalah amanah sekaligus bagian dari keberlangsungan generasi. Kelahiran seorang anak tidak semestinya dipandang hanya melalui kalkulasi materi. Disinilah pentingnya nafsiyah Islam. Seorang Muslim tidak menjadikan kondisi dunia sebagai satu-satunya ukuran dalam mengambil keputusan hidup. Ia menyandarkan pilihan kepada hukum Allah dan meyakini bahwa rezeki berada di tangan-Nya.

Allah SWT berfirman: “Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 32). Ayat ini bukan berarti seseorang boleh mengabaikan persiapan pernikahan. Justru Islam mendorong kesiapan, tanggung jawab, dan ikhtiar. Namun, jangan sampai standar kehidupan yang dibentuk masyarakat membuat generasi muda takut menjalankan salah satu sunnah kehidupan.

Butuh solusi pasti agar tidak ada ketakutan menikah di kalangan gen Z, jika hal ini terjadi maka negara akan krisis generasi. Berikut solusi yang ditawarkan oleh Islam agar gen Z tidak takut menikah.

Pertama, perlu dibangun kembali pemahaman bahwa menikah adalah ibadah dan amanah, bukan hanya sekedar proyek finansial. Kesiapan menikah harus mencakup kesiapan agama, mental, ilmu, komunikasi, dan tanggung jawab, bukan hanya saldo rekening dan kepemilikan rumah.

Kedua, generasi muda perlu memiliki nafsiyah Islam yang kuat. Ketika menghadapi persoalan kehidupan, standar berpikirnya bukan “kata orang” atau trend media sosial, tetapi halal-haram dan ridha Allah. Kekhawatiran terhadap masa depan tidak boleh mengalahkan keyakinan kepada Allah.

Ketiga, keluarga dan masyarakat perlu menghilangkan standar pernikahan yang memberatkan. Mahar, pesta, gaya hidup, dan tuntutan materi jangan dijadikan penghalang bagi pernikahan yang sederhana dan syar'i.

Keempat, negara juga memiliki tanggung jawab menciptakan kehidupan yang memungkinkan generasi muda membangun keluarga. Lapangan pekerjaan, upah yang layak, pendidikan, kebutuhan pokok, hingga akses tempat tinggal harus menjadi perhatian serius.

Pada akhirnya, Gen Z tidak membutuhkan sekedar motivasi “jangan takut menikah”. Mereka membutuhkan cara pandang Islam yang benar tentang kehidupan, pernikahan, rezeki, dan keluarga. Sebab menikah bukan jaminan hidup tanpa masalah. Tetapi bagi seorang Muslim, pernikahan adalah jalan ibadah. Maka jangan sampai ketakutan terhadap kemungkinan buruk membuat kita kehilangan keberanian untuk menjalani kebaikan. Bukan harus menunggu hidup sempurna untuk menikah. Yang dibutuhkan adalah kesiapan untuk menjalani kehidupan bersama dalam ketaatan kepada Allah.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar