Dilema Gen Z Terhimpit Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis dan Tujuan Hidup


Oleh : Sitti Radimatsulmah, S.Pd (Aktivis Muslimah)

Hampir separuh dari generasi Z hari ini hidup dalam bayang-bayang kecemasan keuangan. Realitas di lapangan menunjukkan mayoritas dari mereka berhadapan dengan gaji yang stagnan, sulitnya menembus lapangan kerja formal, hingga dominasi pekerjaan lepas (freelance/gig work) yang minim jaminan kesehatan maupun dana pensiun. 

Di saat yang sama, harga kebutuhan pokok, biaya sewa tempat tinggal, hingga inflasi terus naik. Dikutip melalui Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 menunjukkan bahwa 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Angka ini memotret kondisi riil di mana banyak Gen Z merasa pendapatan mereka cuma menumpang lewat untuk bertahan hidup dari bulan ke bulan, tanpa punya tabungan atau jaring pengaman yang memadai.

Di tengah rasa tidak aman secara finansial itu, mirisnya pola pengeluaran Gen Z justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Porsi anggaran untuk kopi kekinian, liburan singkat (staycation/healing), konser, hingga belanja barang-barang hobi menjadi rutinitas bulanan dan terus naik level. Fenomena ini didorong oleh persepsi bahwa pengeluaran tersebut bukan lagi disebut foya-foya, melainkan kebutuhan emosional yang wajib dipenuhi sebagai sebutan self-reward .

Namun kembali lagi, himpitan ekonomi yang dialami Gen Z kini, bukan sekadar masalah "kurang kerja keras" atau salah kelola keuangan pribadi, melainkan buah dari sistem ekonomi kapitalistik yang eksploitatif. Biaya hidup dasar seperti hunian, pendidikan, dan kesehatan terus melambung tinggi, sementara kenaikan gaji dan lapangan kerja yang layak kian minim. 

Di saat yang sama, negara terkesan melepaskan tanggung jawab utamanya sebagai penjamin kebutuhan rakyat dan menyerahkan segalanya pada mekanisme pasar. Akibatnya, generasi muda dibiarkan berjuang sendirian di tengah kompetisi yang tidak setara, tanpa jaring pengaman sosial yang memadai.

Tekanan sistemik tersebut makin parah ketika dipertemukan dengan pandangan hidup sekuler-liberal. Ketika ruang hidup makin sempit dan masa depan terasa serba tidak pasti, self-reward, healing, dan belanja hedonis dialihfungsikan menjadi pelarian singkat atas kepenatan mental. Ditambah lagi, paparan algoritma media sosial secara konstan mencekoki Gen Z dengan standar hidup artifisial. Budaya FOMO (Fear of Missing Out) dan konsumerisme dijustifikasi sebagai bentuk penyayangan diri (self-love), padahal sebenarnya itu adalah jebakan industri yang memeras sisa-sisa kemampuan finansial mereka demi kenikmatan semu.

Di balik himpitan ekonomi dan maraknya budaya konsumtif, terdapat akar masalah yang jauh lebih mendasar, yaitu krisis identitas dan tujuan hidup. Ketika sekularisme memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari, tolok ukur kebahagiaan pun bergeser secara drastis hanya diukur dari materi, status sosial, dan kepuasan fisik sesaat. 

Gen Z kehilangan arah karena tidak paham untuk apa mereka hidup dan ke mana mereka akan kembali. Tanpa pijakan akidah yang kuat, kebahagiaan sejati yang bersumber dari ridha Allah SWT dan kemuliaan Islam tergantikan oleh perburuan kesenangan duniawi yang tidak pernah ada habisnya.

Islam memberikan sudut pandang tersendiri yang khas dalam menyelesaikan persoalan yang dialami Gen Z. Sebab Islam memberikan solusi yang kontras dari sistem kapitalisme melalui peran negara (Khilafah) yang bertindak sebagai pengurus rakyat (ra'in). Negara tidak boleh lepas tangan, melainkan wajib mengelola Sumber Daya Alam (SDA) secara mandiri untuk kemakmuran umum dan mengembalikannya kepada rakyat dalam bentuk fasilitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur gratis berkualitas. 

Selain itu, negara wajib membuka lapangan kerja yang luas dan layak bagi para pria agar mampu menjalankan peran sebagai pencari nafkah. Dengan jaminan sistemik ini, Gen Z tidak lagi dibiarkan berjuang sendiri sendirian demi sekadar bertahan hidup.

Untuk menghentikan gaya hidup hedonis dan konsumtif yang merusak generasi, Islam menerapkan regulasi tegas pada arus informasi dan media publik. Negara menutup celah bagi penyebaran pemikiran sekuler-liberalisme serta membatasi konten yang memicu FOMO dan gaya hidup konsumtif. Media tidak lagi dijadikan alat jualan industri kapitalis, melainkan diarahkan sebagai sarana edukasi, pembentuk kepribadian Islam, dan sarana untuk meningkatkan ketakwaan masyarakat. Lingkungan yang kondusif ini membuat Gen Z terbebas dari tekanan sosial yang dangkal.

Di atas segalanya, Islam menyembuhkan krisis tujuan hidup dengan menancapkan paradigma akidah yang benar, bahwa manusia diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT (QS. Adz-Dzariyat: 56). Kebahagiaan tidak lagi diukur dari tumpukan materi atau kepuasan fisik sesaat, melainkan dari sejauh mana ridha Allah diraih. 

Dengan fondasi iman yang kokoh dan paham akan hakikat kehidupan, Gen Z akan bertransformasi dari generasi yang rapuh dan terhimpit menjadi generasi pemimpin yang bervisi besar yaitu sebagai pembangun dan pembawa peradaban Islam yang gemilang. Semua bisa terealisasikan jika Islam hadir dalam sistem kehidupan menyeluruh dalam bingkai Khilafah. Wallahu 'alam bishowab




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar