Oleh : Asilka I. (Pendidik & Pemerhati Generasi)
Setiap memasuki bulan Rabiul Awal umat Islam gegap - gempita menyambut bulan kelahiran Rasulullah ini dengan menggelar berbagai acara seperti pawai, sholawatan dan tabligh akbar.Di tahun ini kemenag mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk merayakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar melalui kegiatan Blissful Maulid 1448 H dengan agenda utamanya adalah “Gema Sholawat Kebangsaan” yang merupakan gerakan nasional dengan tujuan mengajak masyarakat agar memperkuat kecintaan kepada Rasulullah.
Namun, di balik perayaan peringatan Maulid setiap tahunnya ada pertanyaan yang patut kita ajukan : Apakah peringatan Maulid ini sudah membekas dalam kehidupan kita sehari-hari dan menjelma menjadi komitmen untuk menegakkan seluruh risalah yang beliau bawa ataukah hanya berhenti pada aspek ritual dan perayaan emosional tahunan semata?
Harus diakui, pembahasan ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah pada momentum Maulid Nabi selama ini masih dibatasi pada pembahasan keteladanan akhlak secara individu. Umat diajak meneladani sikap jujur, sabar dan santun beliau dalam kehidupan sehari-hari. Narasi yang dibangun belum menyentuh kesadaran yang mendasar, yaitu mengubah sistem jahiliyah - penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu- menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah SWT.
Akibatnya, perayaan Maulid tereduksi menjadi ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi ideologis. Dan seringkali kita melupakan bahwa ittiba’ kepada Rasulullah bukan hanya sekedar meneladani akhlak beliau tetapi juga melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa.
Hari ini, umat seolah kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik. Melalui jerat sekularisme, kapitalisme dan liberalisme yang menjadikan dunia dan hawa nafsu sebagai orientasi hidupnya.
Walaupun tuntutan perubahan sebenarnya telah muncul di kalangan umat Islam, namun arah dan metode yang digunakan masih jauh dari metode perjuangan Rasulullah. Ditambah lagi, demi mempertahankan eksistensinya sistem kapitalis akan terus berusaha menghalangi suara kebangkitan umat yang menginginkan dan menuntut perubahan sistem.
Oleh karena itu, di momen Maulid ini kita harus mengembalikan makna ittiba’ yang sesungguhnya. Yakni, sebagai bentuk keterikatan kepada syariat dan metode perjuangan Rasulullah, bukan sekedar ungkapan emosional dan perbaikan akhlak individu saja. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT: Katakanlah (Muhammad), “Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Q.S. Ali Imran [3]: 31)
Penerapan sistem kapitalisme - sekuler di negeri-negri muslim mewajibkan umat Islam memperjuangkan penerapan syariat Islam kaffah melalui institusi kepemimpinan Islam (Kh1l4f4h) sebagaimana perjuangan dakwah yang dicontohkan Rasulullah saat di Mekkah.
Untuk mewujudkannya kita perlu meniru metode perjuangan Rasulullah yang di tempuh melalui 3 tahapan (marhalah), yaitu: Tasqif (Pembinaan), Tafa’ul ma’al ummah (Berinteraksi dengan umat), dan Istilamul Hukmi (Penerimaan kekuasaan).
Dengan mengikuti metode Rasulullah inilah kehidupan Islam akan tegak kembali. Sehingga, Islam akan hadir kembali menjadi rahmat bagi seluruh alam, seperti firman Allah di dalam Al Quran: "Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (Q.S. Al Anbiya [21]: 107)
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar