Oleh : Nikmatus Sa’adah
Kultur empati yang kacau ditengah-tengah masyarakat hari ini sudah mulai merembet di kalangan medis yang seharusnya mereka adalah contoh dari kepedulian manusia. Hal ini dialami oleh Yuzrial, berawal dari unggahan di akun Threads Yuzrial pasien BPJS yang mengatakan bahwa dirinya belum mendapatkan ruang inap meski sudah menunggu selama 8 jam di IGD RSCM.
Unggahan yuzrial ini viral dan memicu komentar dari netizen. Komentar yang dilontarkan ternyata lebih banyak komentar yang tergolong perundungan, mencibir, merendahkan dan menunujukkan empati yang kacau dari masyarakat hari ini. Lebih parahnya komentar nirempati ini diucapkan oleh tenaga medis yang notabene harusnya mereka menjunjung tinggi empati terhadap pasien dimanapun berada.
Selain itu, RSCM adalah rumah sakit rujukan nasional yang memiliki kapasitas terbatas dalam menyediakan kamar untuk perawatan. Hal ini mengakibatkan pasien harus mengatre lama untuk mendapatkan kamar perawatan.
Analisa Persoalan
Kasus ini jika dilihat memiliki dua persoalan besar, yaitu kultur nirempati pada diri nakes hari ini dan rusaknya sistem kesehatan yang membedakan pasien mandiri dan BPJS.
Pertama, komentar mencibir dan perundungan terhadap pasien BPJS dari dokter dan nakes merupakan sikap yang nirempati atau cacat kepribadian. Ketika seorang dokter atau nakes sudah disumpah untuk mengutamakan kemanusiaan dan empati yang besar terhadap pasien. Seharusnya sumpah ini telah melekat pada kepribadiannya yang harus memiliki empati terhadap kondisi pasien dimanapun.
Kondisi nirempati ini menunjukkan kondisi sistem pendidikan hari ini tidak mampu mencetak diri seseorang memiliki kepribadian Islam dan berakhlak. Kepribadian yang dibentuk hanya sekedar formalitas kerja, diluar jam kerja mereka sesuai keinginan mereka sendiri dalam memperlakukan orang.
Kedua, pasien BPJS harus menunggu lama untuk mendapatkan ruang perawatan adalah bukti sistem kesehatan yang rusak dan diskriminatif. Dalam system sekuler kapitasme hari ini, Kesehatan bukanlah hak dasar bagi Masyarakat. Kesehatan dijadikan komoditas dan objek bisnis. Negara berlepas tangan atas tanggungjawab pembiayaan pasien. Negara melakukan mekanisme pembayaran melalui asuransi seperti BPJS.
Dari sistem kesehatan semacam ini, fasilitas, kecepatan pelayanan dan sikap petugas seringkali ditentukan dari kemampuan finansial pasien. Sehingga yang terjadi adalah antara pasien mandiri dan BPJS diperlakukan berbeda. Pasien BPJS haru menunggu berjam-jam sedangkan pasien mandiri bisa mendapatkan pelayanan yang lebih cepat.
Inilah buah dari sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini. Semua distandarkan pada materi dan kemampuan finansial untuk mendapatkan pelayanan yang bagus dan cepat. Sehingga wajar jika ada pasien yang tidak memiliki finansial lebih harus meninggal Ketika menunggu untuk mendapatkan perawatan.
Islam Solusi Sempurna Untuk Sistem Kesehatan
Jika dilihat, satu kasus ini tadi telah lahir dua akar permasalahan, yaitu sistem pendidikan yang tidak mampu mencetak generasi hari ini memiliki kepribadian islam dan berakhlak, dan system Kesehatan yang rusak karena penerapan system kapitalisme oleh negara.
Dalam pandangan Islam, output dari pendidikan haruslah mencetak generasi yan memiliki kepribadian islam, maka pelajaran adab itu harus benar-benar dibentuk dan didahulukan sebelum ilmu praktis yang menunjang kehidupan manusia.
Selain itu, dalam pandangan Islam, sistem kesehatan adalah hak dasar yang wajib dijamin oleh negara. Negara menjamin rakyatnya atas sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan yang didapatkan secara Cuma-Cuma dan berkualitas dari negara. Pembiayaan dari jaminan ini diambil dari kas negara di dalam Baitul mal yang dananya diperoleh dari pengelolaan harta milik umum dalam negara. Hal ini dilakukan karena kewajiban negara sebagai raa’in atau pengurus dan pelayan masyarakat.
Maka, sistem kesehatan Islam sangat jauh berbeda dengan sistem kesehatan kapitalisme yang membebandan pembiayaannya pada pasien. Untuk menerapkan sistem Kesehatan Islam ini, hanya bisa dilakukan ketika negara menerapkan Islam secara kaffah. Maka sudah saatnya Masyarakat hari ini membuka mata, bahwa satu-satunya solusi atas seluruh permasalahan hari ini adalah Kembali kepadaaturan Islam yang diamana aturan Islam ini adalah aturan yang dibuat oleh sang pencipta manusia yaitu Allah SWT.
Wallahu’alam
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar