Oleh : Ummu Aulia (Muslimah Pejuang Peradaban)
Zionis kembali membuat ulah dengan menangkap sekitar 370 anak Palestina. Ulah mereka seakan tidak ada habisnya, merenggut kebahagiaan masa kecil anak-anak Palestina.
Anak-anak yang ditangkap dan dipenjara oleh Israel, sebagian besar ditahan di Penjara Megiddo dan Ofer. Data dari Palestinian Center for Prisoners' Advocacy per Agustus 2026. 370 anak ini hanya sebagian dari 9.400 lebih tahanan. Dari jumlah itu, 3.000 lebih berstatus "Tahanan Administratif" — ditahan tanpa dakwaan, tanpa pengadilan, dan dapat diperpanjang tanpa batas.
Sungguh ironis. Di saat anak-anak dari belahan bumi lain sibuk mempersiapkan sekolah, anak-anak Palestina justru harus merasakan dinginnya jeruji besi tanpa tahu kapan penderitaan itu berakhir.
Penangkapan oleh Zionis bukan kali ini saja terjadi. Komisi Palestina Urusan Tahanan mencatat: sejak 1967, Israel telah menangkap lebih dari 50.000 anak Palestina, dengan rata-rata usia penangkapan 12–17 tahun. Alasannya? Hanya karena "melempar batu". Ini berarti setiap generasi anak Palestina tumbuh dengan trauma penjara.
Ini bukan insiden biasa. Ini adalah kebijakan sistematis yang bertujuan untuk menghancurkan generasi, agar anak-anak takut melawan, menghancurkan masa depan, dan mematahkan perlawanan anak-anak Palestina.
AKAR MASALAH: KAPITALISME
Sistem kapitalisme yang dianut saat ini menyebabkan Israel dapat menjajah Palestina lebih dari 58 tahun. Kapitalisme menganggap keuntungan lebih penting daripada nyawa. Palestina adalah negeri yang kaya dan berada di tengah jalur perdagangan dunia. Menjajah Palestina memberi keuntungan bagi perusahaan senjata dan real estate. Maka dari itu, penjajahan terus berlangsung.
Bagi Zionis, anak Palestina bukan manusia, melainkan "penghambat" yang harus dipenjarakan atau bahkan dimusnahkan.
Kapitalisme juga melahirkan nasionalisme. Sekat nasionalisme membagi 2 miliar umat Muslim menjadi terkotak-kotak dalam 50+ negara. Sekat inilah yang membuat setiap bangsa sibuk dengan urusan dalam negerinya sendiri, tanpa memikirkan umat Muslim di belahan bumi lain yang tertindas.
Padahal dalam Islam yang menyatukan adalah aqidah. Selama dia Muslim, di mana pun dia berada, tetap saudara yang wajib dibela. Rasulullah ﷺ bersabda: "Perumpamaan kaum mukmin dalam cinta kasih, sayang menyayangi, dan bahu membahu bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)
Karena sekat nasionalisme inilah, umat sebanyak 2 miliar tidak bisa menyelamatkan 370 anak yang dipenjara Israel.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), produk kapitalisme, juga terkesan mandul. Pelanggaran yang dilakukan Zionis terhadap Resolusi PBB 2334 dan Konvensi Jenewa tentang Anak terus terjadi. Zionis berani berbuat arogan karena pemegang hak veto adalah pendukung utamanya: Amerika. Segala perbuatannya, termasuk memenjarakan anak-anak Palestina, didukung penuh oleh Amerika.
Sistem kapitalisme inilah yang membuat para penguasa Muslim hanya bungkam melihat penderitaan saudara di Palestina. Alih-alih membebaskan anak-anak Palestina yang dipenjara, mereka malah sibuk mengamankan negaranya masing-masing. Mereka punya tentara, tetapi hanya sibuk di istananya. Punya anggaran militer, malah dipakai untuk membeli senjata di tempat yang sama dengan negara pemasok senjata untuk Israel. Ini adalah bentuk nyata pengkhianatan para pemimpin Muslim.
Menargetkan anak merupakan kejahatan perang menurut Konvensi Jenewa IV. Ini juga merupakan bentuk nyata penghinaan terhadap syariah.
Dalam fiqih jihad, Imam Al-Kasani dalam Kitab Bada’iush Shana’i dan Kitab Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah jilid 2 menegaskan: Anak, wanita, orang tua, dan pendeta dilarang dibunuh. Tawanan wajib diberi makan, pakaian, tempat tinggal, dan tidak boleh disiksa. Jika yang ditawan adalah anak, maka wajib dikembalikan kepada walinya.
SOLUSI ISLAM
Sistem kapitalisme yang dipakai saat ini berbeda jauh dengan sistem Islam. Islam punya aturan yang tegas dan integral dalam mengatasi masalah anak-anak Palestina.
Allah tidak memerintahkan umat Muslim untuk "berdoa dan mengutuk" menghadapi kezaliman. Tetapi diperlukan aksi nyata, yakni dengan berperang. Allah ﷻ berfirman: "Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan untuk orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan, dan anak-anak..." (QS. An-Nisa: 75)
Ayat ini turun saat umat Muslim tertindas sebelum Fathu Makkah. Umat Muslim disiksa oleh kaum kafir dan mereka berdoa kepada Allah meminta pertolongan. Allah langsung membalas dengan menurunkan ayat dan bertanya: "Kenapa kamu tidak memerangi mereka yang menindasmu?" Berperang melawan kezaliman itu kewajiban, bukan pilihan.
Al-Aqsha adalah kiblat pertama umat Muslim, tempat pertama kali Rasulullah ﷺ melakukan Isra Mi'raj. Kewajiban menjaga tanah ini bukan hanya terletak di pundak penduduk Palestina, tetapi di pundak seluruh umat Muslim di dunia. Jihad fi sabilillah adalah satu-satunya solusi, bukan jalur diplomasi, apalagi membagi jadi 2 negara.
Dalam Islam, pemimpin adalah Ra’in — penggembala yang bertanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap kalian adalah Ra’in/penggembala dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya." (HR. Bukhari no. 893 dan HR. Muslim no. 1829)
Pemimpin dalam Islam wajib menjaga rakyatnya agar tidak terzalimi, kelaparan, ditindas, serta terjajah. Karena mereka menganggap bahwa jabatan itu adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Saking beratnya amanah ini, Umar bin Khattab pernah berucap: "Cukuplah Umar saja yang jadi pemimpin. Jangan keturunanku." Karena beliau paham siksa yang sangat pedih di akhirat bagi pemimpin yang berkhianat.
Melindungi 370 anak yang dipenjara Zionis adalah tanggung jawab pemimpin Muslim. Mereka dapat memutus perjanjian militer dan ekonomi, serta membuka perbatasan untuk para tahanan.
Sejarah telah membuktikan, selama Khilafah tegak, tidak ada musuh yang berani semena-mena terhadap umat Muslim. Contohnya: Khalifah Al-Mu’tashim langsung menggerakkan 10.000 pasukan setelah mendengar teriakan seorang wanita yang diganggu hingga tersingkap sedikit auratnya. Sang Khalifah langsung mengirimkan 10.000 pasukan dan menaklukkan 2 benteng Romawi.
Demi menjaga kehormatan 1 orang wanita, sang Khalifah mengirimkan puluhan ribu pasukan. Apalagi untuk membebaskan 370 anak Palestina yang ditahan, pasti lebih wajib lagi.
Semua itu hanya bisa terwujud jika Khilafah tegak. Hanya Khilafah institusi yang dapat menyatukan tentara, harta, dan politik, serta menjaga darah, tanah, dan aqidah umat Muslim.
Saatnya lepas dari sekat nasionalisme. Umat harus bersatu menyeru kepada pemimpin untuk kembali menerapkan aturan Allah, kembali kepada aturan Islam sebagai satu-satunya aturan yang dipakai di muka bumi.
Semoga kita bukan termasuk orang yang diam saat saudara kita, bahkan anak kecil, ditindas. Karena jika kita hanya diam, bagaimana kita akan menjawab ketika Allah bertanya: "Ke mana kamu saat mendengar berita anak-anak Palestina dipenjara?"
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar." (QS. Ali Imran: 104)
Wallahu a’lam bishawab
Referensi Data: Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy, Agustus 2026; Komisi Palestina Urusan Tahanan
Referensi Syar’i: HR. Bukhari, HR. Muslim, QS. An-Nisa: 75, QS. Ali Imran: 104, Kitab Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah jilid 2, Kitab Bada’iush Shana’i
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar