Oleh: Ina Rasiang Maja
Ditengah kehidupan yang semakin ramai, banyak anak muda justru merasa kesepian. Mereka berada di lingkungan kampus, tempat kerja, organisasi, dan media sosial yang penuh dengan orang. Namun, keramaian tidak selalu membuat seseorang merasa punya tempat untuk bercerita dan berbagi beban.
Hal ini terlihat dari beberapa kasus yang terjadi belakangan. Pada kamis (10/9/2026), seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri di lingkungan kampus (kompas.id, 10/09/2026). Beberapa hari sebelumnya, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Sebelum meninggal, FS sempat mengunggah pesan perpisahan dan memberikan donasi Rp.40 jt kepada komunitas kesehatan mental (kompas.id, 10/09/2026).
Masalah ini semakin perlu diperhatikan karena banyak anak muda yang mencari bantuan ketika mengalami tekanan berat. Data layanan healing119.id milik kementerian kesehatan mencatat 15.979 orang mengakses layanan tersebut selama 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026. Sebanyak 3.036 orang tercatat memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Kelompok usia 21-30 tahun menjadi kelompok terbesar, yaitu 54,08 persen, disusul usia 11-20 tahun sebesar 33,04 persen. Angka tersebut merupakan pengguna layanan yang memiliki keinginan mengakhiri hidup, bukan jumlah kematian akibat bunuh diri (cna.id, 11/09/2026).
Hidup yang Terasa Berat
Tentu, seseorang yang mengalami keinginan mengakhiri hidup tidak selalu disebabkan oleh satu masalah. Ada yang menghadapi masalah keluarga, tekanan ekonomi, perundungan, masalah hubungan, kesepian, atau tekanan dalam kehidupan sehari-hari. Kementerian kesehatan juga menyebut beberapa persoalan tersebut sebagai fakror yang dapat berkaitan dengan munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup (kesprimkom.kemkes.go.id, 07/08/2025).
Namun, ada hal yang yang lebih besar untuk dilihat, yaitu bagaimana kehidupan saat ini membentuk cara anak muda menghadapi masalah.
Dalam kehidupan sekuler, agama sering dipisahkan dari berbagai urusan kehidupan. Akibatnya, banyak orang tidak menjadikan agama sebagai dasar ketika menentukan tujuan hidup atau menghadapi masalah. Kesuksesan akhirnya sering diukur dari nilai akademik, pekerjaan, uang, penampilan, popularitas, atau pencapaian lainnya.
Anak muda pun dituntut untuk selalu berhasil. Harus berprestasi, harus produktif, harus punya banyak pencapaian, dan harus terlihat bahagia. Media sosial semakin memperkuat tekanan tersebut karena kehidupan orang lain yang terlihat hanya bagian yang baik-baik saja.
Budaya positivity juga terkadang membuat orang merasa harus selalu berpikir positif. Padahal, ketika seseorang sedang mengalami masalah berat, ia bukan hanya membutuhkan nasihat untuk “tetap semangat”, tetapi juga membutuhkan orang yang mau mendengarkan dan mendampinginya.
Akibatnya, seseorang bisa terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya sedang berjuang sendirian. Ia memiliki banyak teman di media sosial, tetapi tidak memiliki tempat untuk benar-benar bercerita. Inilah salah satu bentuk kesepian yang terjadi di tengah keramaian.
Islam Memberikan Pegangan
Islam memandang kehidupan dengan cara yang berbeda. Seorang muslim tidak hidup hanya untuk mengejar kesuksesan dunia. Hidup adalah amanah dari Allah dan setiap manusia akan mendapatkan ujian. Allah SWT. Berfirman:
... لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا...
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Keyakinan ini menjadi salah satu pegangan ketika seseorang menghadapi masalah. Seorang muslim memahami bahwa kesulitan bukan berarti hidupnya tidak berarti. Ada Allah yang menjadi tempat meminta pertolongan dan setiap ujian memiliki nilai di hadapan-nya.
Islam juga melarang seseorang menghilangkan nyawanya. Allah SWT. Berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا....
“Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)
Namun, ayat ini tidak boleh menjadi alasan untuk menyalahkan orang yang sedang mengalami krisis. Orang yang berada dalam kondisi seperti itu justru membutuhkan bantuan dan pendampingan. Larangan bunuh diri dalam islam berjalan bersama kewajiban untuk menjaga kehidupan dan menolong orang yang sedang kesulitan.
Tidak Membiarkan Orang Sendirian
Islam juga mengajarkan agar manusia tidak hidup hanya memikirkan dirrinya sendiri. Keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga satu sama lain. Rasulullah SAW. Bersabda:
...مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ...
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Muslim)
Artinya, ketika ada seseorang yang sedang kesulitan, ia tidak seharusnya dibiarkan sendirian. Keluarga perlu menjadi tempat pertama untuk pulang. Masyarakat juga perlu memiliki kepedulian, bukan hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Kita itu sesama manusia dan harus saling tolong menolong.
Negara Berperan Membentuk Generasi
Masalah kesehatan mental memang membutuhkan penanganan langsung. Layanan seperti Healing 119.id penting untuk membantu orang yang sedang mengalami tekanan berat atau berada dalam kondisi krisis. Kementerian kesehatan menyediakan layanan tersebut sebagai dukungan awal bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan (kesprimkom.kemkes.go.id, 07/08/2025).
Namun, penangan tidak cukup hanya dilakukan ketika seseorang sudah berada di titik terendah. Cara hidup yang membentuk manusia juga perlu di perhatikan.
Dalam pendangan islam, negara memiliki tanggung jawab besar dalam mengurus rakyat. Dalam sistem khilafah, islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan ekonomi. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk mendapatkan pekerjaan dan mengejar prestasi, tetapi juga membentuk akidah dan kepribadian islam. Sementara itu sistem ekonomi islam mengatur agar kebutuhan dasar masyarakat dapat di penuhi.
Dengan begitu, yang di bangun bukan hanya individu yang pintar dan sukses, tetapi juga individu yang memiliki iman, tujuan hidup, dan kepedulian terhadap orang lain. Masyarakat pun di bangun dengan ikatan yang kuat sehingga seseorang tidak merasa harus menghadapi semua masalah seorang diri.
Kesepian yang dialami generasi muda tidak cukup dijawab dengan meminta mereka untuk lebih kuat. Mereka membutuhkan pegangan hidup, keluarga yang hadir, masyarakat yang peduli, dan sistem yang menjaga kehidupan mereka.
Islam menawarkan semua itu melalui akidah, hubungan sosial, dan peran negara dalam mengurus rakyat. Sebab, manusia tidak seharusnya hanya diajarkan bagaimana menjadi sukses, tetapi juga bagaimana memiliki tujuan hidup dan tetap merasa bahwa dirinya tidak sendirian.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar