Oleh : Ni’mah Fadeli
Sekolah menjadi rumah kedua bagi anak. Bahkan untuk anak yang bersekolah dengan sistem full day school, waktu yang dihabiskan di sekolah akan lebih banyak daripada di rumah. Apalagi bagi anak yang menuntut ilmu di pondok atau boarding school. Selain ilmu, orang tua tentu juga berharap anaknya mendapat lingkungan sekolah yang kondusif dan menyenangkan. Namun, bagi sebagian anak, sekolah tidak menjadi tempat yang ramah karena adanya bullying atau perundungan disana.
Banyak contoh bullying terjadi di sekolah, tetapi tidak semua diungkap ke media. Salah satu yang kasus terungkap terjadi di Banda Aceh. Seorang siswa SMA mengalami dugaan penganiayaan oleh kakak kelasnya. Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin pun mengecam aksi tersebut. (detik.com, 22 September 2026)
Dugaan bullying kakak kelas yang berakibat fatal juga terjadi di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah (MTs) mengalami cedera serius, yaitu dua jari kirinya putus diduga karena perundungan oleh sejumlah kakak kelasnya. (detik.com, 2 Agustus 2026)
Bullying PR Semua
Tidak ada manusia menjadi mulia dengan melakukan perundungan. Apapun bentuk perundungan yang dilakukan. Entah itu menjadikan seseorang lelucon, mengancam, menyerang fisik, maupun berkomentar sinis dan menyerang di media sosial.
Banyak faktor penyebab bullying. Menurut ahli, pelaku bullying cenderung berasal dari keluarga yang menormalisasi kekerasan dalam rumah tangga. Terbiasa dengan kekerasan, baik secara verbal maupun fisik di rumah membuat pelaku bullying menganggap wajar untuk melakukannya juga di sekolah. Keluarga yang kurang perhatian juga menjadi penyebabnya sehingga pelaku mencari validasi di luar rumah, tetapi dengan cara yang salah.
Adanya rasa iri, ingin terlihat hebat, minimnya empati, takut dikucilkan, dan pernah menjadi korban perudungan juga dapat menjadikan seseorang memiliki kecenderungan untuk membully. Tetap terjadinya bullying juga karena ada kecenderungan egosentris di masyarakat. Jika perundungan tidak menimpa diri atau keluarganya, maka rasa peduli itu tidak muncul.
Padahal bullying adalah PR bagi semua. Bukan hanya bagi korban dan keluarganya, tetapi semua pihak harus bekerjasama agar hal serupa tidak kembali terjadi. Hal ini mencakup kasih sayang yang cukup dalam keluarga, kepedulian antar sesama, dan tentu penjagaan negara terhadap rakyatnya.
Pelaku bullying tidak mendapat sanksi tegas karena alasan masih di bawah umur. Padahal apa yang dilakukan sudah dalam tahap membahayakan nyawa. Hal ini jelas menunjukkan kurangnya penjagaan negara. Pengetahuan agama yang minim menjadikan individu tumbuh dengan benteng keimanan yang rapuh. Batasan untuk tidak menyakiti sesama didominasi oleh pengalaman yang dirasakan dan lingkungan sekitar, bukan karena landasan keimanan.
Muslim tidak Menyakiti
Rasulullah saw. bersabda, "Seorang Muslim adalah orang yang lisan dan tangannya tidak menyakiti Muslim lainnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah sebagai utusan Allah, memiliki akhlak paling mulia dan terlepas dari dosa telah memberi peringatan agar Muslim tidak saling menyakiti, baik secara lisan maupun perbuatan. Sayangnya, Islam yang dibawa Rasulullah hanya dipandang sebagai salah satu agama ritual seperti yang lain. Padahal Islam adalah sistem lengkap berisi panduan hidup agar manusia selamat dunia dan akhirat.
Islam membentuk Muslim senantiasa peduli karena adanya kewajiban amar ma'ruf nahi munkar. Muslim tidak boleh egois dan membiarkan kezaliman terjadi. Akidah sebagai landasan utama dibangun sejak dini. Bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Negara memegang peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi rakyatnya. Pendidikan berbasis akidah tidak memberi ruang untuk pelaku perundungan. Sanksi tegas akan diberlakukan bagi pembully yang telah baligh tanpa memandang usia.
Dalam Islam, setiap individu yang telah baligh sudah menanggung taklif atau beban hukum atas perbuatannya. Sanksi yang diberikan bagi pembully akan memberi efek jera dan peringatan bagi yang lain agar tidak berlaku sama. Setiap syariat Islam akan membawa ketenangan, keamanan, kesejahteraan, dan keberkahan dalam masyarakat. Hal ini karena fungsi Islam diturunkan adalah untuk membawa rahmat bagi seluruh alam.
Wallahu a’lam bishawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar