Suara yang Mengguncang Jadi Hiburan tanpa Batasan


Oleh: Ai Dewi Mulyawati
 
Di sejumlah wilayah Jawa Timur dan sekitarnya, kini terdengar bunyi yang bukan sekadar nyaring — ia menggetarkan tanah, mengguncang dinding rumah, hingga membuat jantung berdegup kencang seakan mau lepas. Itulah "Sound Horeg."

Fenomena sistem suara raksasa yang kini menjadi sorotan tajam, bukan karena keindahannya, melainkan karena bahayanya yang nyata dan kerusakannya yang meluas.


Apa Sebenarnya Sound Horeg itu?
 
Kata "Horeg" berasal dari bahasa Jawa, berarti bergetar, berguncang — persis seperti guncangan gempa bumi. Dipasang di atas truk atau kendaraan besar, dipasangi puluhan hingga ratusan pengeras suara sekaligus. 

Kekuatan suaranya mencapai 120–135 desibel, setara suara pesawat jet saat lepas landas — jauh melampaui batas aman WHO yang hanya 85 desibel. Kegiatan ini diadakan saat pawai, hajatan, atau perayaan, tujuannya sekadar adu kekuatan suara antar kelompok.


Fakta di Lapangan: Kerusakan Nyata, Nyawa Melayang
 
Jepara, Agustus 2026: Getaran suara merobohkan plafon, memecahkan kaca jendela, dan meretakkan dinding rumah warga. Penduduk tak berani tidur di dalam rumah saat truk melintas.

Jember, 29 Agustus 2026: Seorang warga lanjut usia meninggal dunia setelah kanopi rumahnya runtuh tertimpa getaran truk sound horeg yang melintas tepat di depan rumahnya.

Di banyak daerah: Jalan ditutup untuk pawai, sehingga truk pemadam kebakaran dan ambulans terhambat menuju lokasi darurat. Lansia pingsan, anak-anak menangis ketakutan, warga terpaksa mengungsi demi ketenangan.

Dampak kesehatan permanen: Suara di atas 120 desibel merusak pendengaran selamanya, memicu serangan jantung, menaikkan tekanan darah, dan menimbulkan stres yang tak kunjung usai.
 
Bagi para pelaku usaha pun bahayanya nyata: Mengoperasikan alat sekuat itu membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain — getaran yang tak terkendali bisa merusak kendaraan, menyebabkan kecelakaan, dan menimpa siapa saja yang berada di sekitarnya.

 
Lebih dari Sekadar Suara: Pemandangan yang Membawa Dosa
 
Di belakang truk-truk raksasa itu, terpampang pemandangan yang jauh dari pantas: para wanita berjoget dengan pakaian terbuka, berlenggak-lenggok di hadapan kerumunan — termasuk anak-anak dan remaja. Ini bukan sekadar hiburan. Ini mendekati perbuatan zina, karena mereka menampakkan aurat dan memikat pandangan yang seharusnya dijaga. Ibarat diskotik yang berjalan, di mana keramaian semacam itu kerap beriringan dengan minuman keras dan perbuatan tercela lainnya.
 
Yang menyedihkan: semua kegembiraan yang tampak itu hanyalah kepuasan semu. Di balik suara menggelegar dan tawa yang riuh, sesungguhnya ada kegelisahan yang ditutupi, kerusakan yang dibiarkan, dan kemaksiatan yang dibiarkan berkembang — terutama membius para remaja yang sedang dalam masa pencarian jati diri.


Pentingnya Pembinaan Remaja: Jangan Biarkan Generasi Terlena
 
Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi kita semua: para remaja dan generasi muda adalah kelompok yang paling mudah tergoda dan terlena oleh kemeriahan yang tampak menyenangkan namun hakikatnya menyesatkan. Mereka ikut berkerumun, bertepuk tangan, dan menganggap hal ini sebagai kebanggaan — padahal perlahan-lahan akhlak mereka tergerus, pandangan mereka ternoda, dan hati mereka terbiasa dengan kemaksiatan.
 
Karena itu, pembinaan terhadap remaja tidak boleh ditunda lagi:

Di rumah, orang tua wajib menjadi teladan, mengisi waktu anak dengan kegiatan yang bermanfaat, serta mendekatkan mereka kepada Al-Qur'an dan ibadah — agar hati mereka terisi cahaya, sehingga tidak haus mencari kepuasan di tempat yang salah.

Di lingkungan dan masjid, para pemuka agama dan tokoh masyarakat perlu menyediakan alternatif kegiatan yang positif: kajian, olahraga, seni yang islami, hingga bakti sosial — agar energi remaja tersalurkan ke jalan yang diridhai Allah SWT.

Di sekolah, pendidikan akhlak dan kesadaran akan bahaya lingkungan serta kemaksiatan harus ditanamkan sejak dini, bukan sekadar pelajaran teori, melainkan pembiasaan hidup yang benar.
 
Rasulullah Saw. bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Maka menjaga generasi muda dari jerat hiburan yang menyesatkan adalah tanggung jawab bersama — sebelum mereka terlanjur jauh dan sulit kembali.
 

Akar Masalah: Kebebasan Tanpa Batas
 
Mengapa hal ini bisa terjadi dan dibiarkan terus berlangsung? Ini adalah buah dari sistem Kapitalisme-Liberalisme yang menganut kebebasan tanpa batas — kebebasan berekspresi yang mengesampingkan hak orang lain, kebebasan mencari keuntungan tanpa peduli kerugian yang ditimbulkan, dan negara yang membiarkan segala hal terjadi atas nama "hak warga". Padahal kebebasan itu bukan berarti boleh melanggar batas yang Allah tetapkan.
 

Islam Mengajarkan: Hiburan Ada, Batasan juga Ada
 
Islam tidak melarang kegembiraan maupun hiburan. Namun segala sesuatu memiliki batasan yang ditetapkan syariat. Rasulullah Saw. bersabda: "Tidak boleh membahayakan dan tidak boleh saling membahayakan." (Hadits Riwayat Ibnu Majah).
 
Dari prinsip ini, jelaslah:
• Membahayakan diri sendiri dan orang lain — mengoperasikan alat yang merusak pendengaran dan bangunan adalah perbuatan dilarang.

• Menyakiti tetangga — Rasulullah Saw. mengingatkan: "Siapa yang menyakiti tetangganya, ia tidak akan masuk surga." Mengganggu tidur, ketenangan, dan kesehatan tetangga termasuk menyakiti mereka.

• Menghambat pertolongan — jika jalan tertutup sehingga pertolongan tak sampai, dosanya menimpa siapa yang mengadakan keramaian tersebut.

• Membuang harta sia-sia — menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk menggebahkan suara tanpa manfaat kebaikan adalah pemborosan yang dilarang Allah.

• Menjaga pandangan dan kesopanan — menampakkan aurat dan berbuat maksiat di tempat umum bertentangan dengan perintah Allah SWT:
 وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
"Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-A'raf: 56).

Suara yang memecahkan kaca, meruntuhkan bangunan, merenggut nyawa, serta menampakkan kemaksiatan — itu bukan hiburan. Itu kerusakan. Dan Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.
 
Kegembiraan tidak harus bising. Kebersamaan tidak harus menggebah. Islam mengajarkan kelembutan, ketenangan, dan menjaga hak sesama. Sudah saatnya kita kembali kepada jalan yang diridhai Allah: merayakan kebahagiaan dengan cara yang damai, menyejukkan hati, membimbing generasi muda ke jalan yang lurus, dan berkah — bukan menebar ketakutan dan kerusakan.

Wallahu’alam bishshawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar