Oleh : Hanum Hanindita, S.Si (Penulis Artikel Islami)
Belum lama ini, berita duka datang bertubi-tubi dari generasi muda. Di Malang, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus. Kasus lain yaitu seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Sebelum pergi ia sempat mengunggah pesan perpisahan di media sosial dan bahkan mendonasikan uang sebesar Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental. (kompas.id, 10-09-26)
Data dari hotline pencegahan bunuh diri Healing119.id mencatat bahwa klien yang menghubungi mereka sepanjang periode 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026 didominasi oleh kelompok usia 21-30 tahun. (detik.com, 18-09-26) Artinya, krisis kesehatan mental paling banyak menimpa generasi muda.
Ketika Akar Iman Dicabut dari Dada
Generasi hari ini tumbuh dalam sistem sekularisme. Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya boleh ada di masjid, di musala, di sajadah. Tapi di kampus, di kantor, di sistem ekonomi dan politik, agama tidak boleh ikut campur. Akibatnya, akidah dicabut dari kehidupan.
Sejak kecil anak-anak kita dididik untuk pintar secara prestasi akademik, tetapi tidak dididik untuk mengenal siapa Rabb-Nya, untuk apa ia diciptakan, dan akan kemana setelah mati. Ketika ia menghadapi tekanan hidup, ia tidak punya pegangan ataupun benteng.
Bagi seorang Muslim yang beriman, kesulitan adalah ujian dari Allah. Ia tahu ada Allah yang maha segalanya sebagai tempat mengadu dan meminta pertolongan. Ia tahu bunuh diri itu haram dan dosa besar. Keyakinan ini menjadi rem yang sangat kuat.
Namun bagi generasi sekuler, ketika nilai ujian jelek, ketika skripsi ditolak dosen, ketika putus cinta, ketika tidak dapat kerja, dunia terasa runtuh. Tidak ada tempat mengadu. Tekanan yang seharusnya bisa diatasi malah terasa sangat berat. Hal ini disebabkan dadanya kosong dari iman, maka keputusasaan mudah masuk. Inilah yang membuat kasus bunuh diri di kalangan generasi muda terus berulang.
Lahirnya Manusia Kesepian di Tengah Keramaian
Sekularisme berjalan beriringan dengan kapitalisme. Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang menjadikan materi sebagai tujuan hidup. Sistem ini melahirkan budaya individualistik yang sangat kuat. Semua orang dikondisikan untuk berjuang sendiri-sendiri melalui penanaman nilai-nilai hustle culture, toxic positivity, dan self-love yang kebablasan.
Di berbagai media sosial, kita dicekoki pesan: "kamu harus sukses sendiri, kamu harus hebat sendiri, kamu harus healing sendiri, kamu harus bisa mengatasi semuanya sendiri. Jangan merepotkan orang lain dan fokus pada dirimu". Akibatnya, manusia menjadi asosial. Peduli pada pencapaian pribadi, tapi tidak peduli pada orang terdekat yang sedang kesulitan.
Kita lihat saja misal di kos-kosan mahasiswa. Satu lantai berisi puluhan orang, tapi tidak ada yang saling kenal. Di apartemen mewah, satu gedung berisi ratusan keluarga, tapi tidak ada yang saling sapa. Di kantor, satu ruangan berisi puluhan karyawan, tapi semua sibuk dengan laptop masing-masing. Ramai, tapi sepi.
Inilah yang disebut kesepian di tengah keramaian. Secara materi mungkin berkecukupan, memiliki gadget mahal, uang saku tak kekurangan, tetapi jiwanya kosong. Tidak ada yang menemani. Tidak ada tempat berbagi beban. Ketika sedih, ia hanya bisa curhat di media sosial bukan kepada keluarga dan masyarakat yang tulus menolongnya. Kapitalisme telah merampas ikatan sosial itu.
Negara Mencetak Generasi Rapuh
Generasi rapuh dan kesepian ini tidak lahir begitu saja. Mereka dibentuk. Siapa yang membentuknya? Selain ada peran pola asuh dari keluarga dan dipengaruhi lingkungan, negara juga tak luput dari hal ini.
Negara inilah yang menerapkan sistem pendidikan sekuler. Di sekolah dan kampus, agama hanya diberi porsi sangat minin, hanya sebagai formalitas. Anak tidak dibina menjadi hamba Allah yang bertakwa, tapi dibina menjadi pekerja untuk mengisi industri kapitalis.
Negara inilah yang menerapkan sistem ekonomi kapitalisme. Lapangan kerja sempit, biaya hidup mahal, harga properti melangit, sedangkan kekayaan hanya berputar di kalangan pemilik modal. Anak muda dipaksa bersaing secara brutal untuk sekadar bertahan hidup. Mereka yang kalah, akan rentan depresi, dan merasa menjadi beban.
Jadi, negara dengan sistem ini secara sistematis melahirkan dua hal: individu yang rapuh karena tidak punya akidah, dan masyarakat yang individualistik karena tidak punya kepedulian yang kuat.
Islam Memberi Solusi yang Menyeluruh
Berbeda jauh dengan sistem rusak hari ini, Islam datang dengan solusi yang sempurna dan menyeluruh.
Pertama, Islam membangun akidah sebagai benteng jiwa sejak dini. Sejak anak masih kecil, ia sudah ditanamkan bahwa pada hakikatnya hidup ini adalah ujian dan akan selalu datang kemudahan setelahnya. Allah Swt. berfirman:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya." (QS. Al-Baqoroh: 286)
"Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Hal yang paling penting lagi, ajaran Islam memberi peringatan bahwa bunuh diri adalah haram. Allah Swt. berfirman: "...Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa: 29)
Seorang Muslim yang memahami ini, seberat apapun masalahnya, ia tidak akan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Ia akan bersabar dan kembali kepada Allah. Akidah inilah benteng yang paling kokoh.
Kedua, Islam membangun ikatan yang kuat antara keluarga dan masyarakat berdasarkan akidah yang sama. Dalam Islam, seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Tidak boleh ada seorang pun yang dibiarkan menanggung beban hidupnya sendirian. Ketika ada tetangga yang kelaparan, tetangga lain wajib membantu. Ketika ada yang sakit atau bersedih, yang lain datang menjenguk. Ada kewajiban silaturahmi, ada ta'awun (tolong-menolong), ada amar makruf nahi munkar. Semua hidup dalam rasa kebersamaan yang indah.
Ketiga, negara yang menerapkan Islam secara kaffah. Negara itulah Khilafah. Khilafah akan menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Tujuan pendidikan bukan mencetak pekerja, tapi mencetak hamba Allah berkepribadian Islam, yang kuat akidahnya, luhur akhlaknya dan ahli di bidangnya.
Khilafah juga akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan setiap individu. Kebutuhan pokok seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan dijamin oleh negara. SDA dikelola untuk rakyat, bukan untuk oligarki. Lapangan kerja dibuka luas. Dengan begitu, tekanan hidup yang menjadi pemicu depresi akan hilang.
Di bawah naungan Khilafah, akan lahir individu yang kokoh imannya, masyarakat yang saling peduli, dan negara yang menjadi perisai. Bukan seperti hari ini, yang lahir adalah generasi yang rapuh, kesepian, dan putus asa di tengah keramaian kota metropolitan.
Khatimah
Fenomena generasi muda yang rapuh dan kesepian ini membuktikan bahwa tercapainya tujuan materi dan teknologi saja tidak cukup untuk menjamin kebahagiaan sejati. Jiwa manusia membutuhkan iman dan kepedulian tulus dari lingkungan sekitarnya agar tidak mudah goyah saat diterpa ujian kehidupan. Oleh karena itu, kita harus mulai meninggalkan gaya hidup individualistis dan kembali mendekatkan diri pada tuntunan agama yang menenangkan. Dukungan penuh dari keluarga, masyarakat, dan negara sangat dibutuhkan untuk menciptakan ruang hidup yang sehat bagi kesehatan mental anak muda. Hanya dengan kembali pada sistem Islam, generasi masa depan dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, bahagia, dan terarah. Wallahu'alam bishowab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar