Dibalik Pengakuan Internasional akan Prestasi Penjagaan Perempuan, Islam Justru Lebih Dulu Memuliakannya


Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd (Alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin)

Kota Samarinda mendapat pengakuan internasional dari World Health Organization (WHO) atas upaya pencegahan kekerasan dan mendorong kesetaraan gender. Penghargaan diterima dalam pertemuan kota-kota dunia di Sydney, Australia, Selasa (1/9/2026). Ketua Forum Kota Sehat (Forkots) Samarinda Rinda Wahyuni menerima langsung penghargaan tersebut. Samarinda mengangkat tema pencegahan kekerasan dan kesetaraan gender dalam program kota sehat yang dinilai WHO.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan terhadap berbagai upaya yang telah dijalankan Samarinda dalam menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih aman, terutama bagi kelompok rentan. Samarinda membawa tema mencegah kekerasan dan mendorong kesetaraan gender. Diharapkan capaian tersebut menjadi dorongan untuk memperkuat program kota sehat dan perlindungan masyarakat.

WHO memberikan penghargaan tersebut atas upaya Samarinda dalam melakukan perubahan sistem, norma, dan ruang perkotaan untuk mendukung pencegahan kekerasan serta kesetaraan gender. WHO juga menyoroti pendekatan multisektoral yang diterapkan Samarinda. Program tersebut melibatkan berbagai sektor dengan dukungan kepemimpinan di tingkat lokal. Penilaian juga mencakup integrasi layanan kesehatan dan sosial, keterlibatan forum anak, sistem pelaporan digital, partisipasi masyarakat, penganggaran responsif gender, serta pembiayaan program secara berkelanjutan. 
https://radarbontang.com/samarinda-raih-penghargaan-who-kesetaraan-gender-dan-perlindungan-anak-jadi-perhatian/


Perempuan Dikorbankan Bukan Dimuliakan 

Dengan ditetapkannya sebagai kota yang menerima penghargaan dari WHO menegaskan bahwa Kota Samarinda sudah menjalankan program dan target yang ditetapkan oleh SDGs. Artinya indikator penilaian harus sesuai mereka. Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas nampak keseteraan gender terus diaruskan hingga predikat kota sehat dan perlindungan bagi kelompok rentan layak disemat. Namun bagaimana jika kita bandingkan dengan data kekerasan terhadap perempuan, pantaskah penghargaan tersebut?

Laporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Samarinda periode Januari -Juni 2026 berdasarkan data terbaru, terdapat 149 kasus kekerasan yang menimpa 150 korban. Rincian kasus kekerasan adalah sebagai berikut:
- Kekerasan terhadap perempuan: 56 kasus dengan 56 korban.
- Kekerasan terhadap anak: 93 kasus dengan 94 korban.

Dengan demikian ditetapkan Samarinda sebagai "kota sehat" perlu dicermati lebih mendalam. Ketika berbicara keseteraan gender maka sebenarnya telah masuk dalam jebakan para kapitalis. Keseteraan gender berhasil dengan perempuan yang banyak menjadi pejabat publik, aktifnya para perempuan terlibat dalam pemberdayaan ekonomi, dan meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja. Sebaliknya peran strategis perempuan terabaikan yang berakibat serius pada perkembangan dan kualitas generasi serta keluarga.

Kapitalisme dengan semua nilai turunannya yakni feminisme telah menyerukan kebangkitan perempuan melalui permissivisme (serba boleh) hingga hilanglah khas peradaban Islam khususnya bagi kaum muslimah. Perempuan diharuskan mengejar karier atau bekerja, padahal dalam agamanya dia yang dinafkahi oleh suami atau walinya. 

Kota Sehat seharusnya memuliakan perempuan. Namun sayangnya masih banyak perempuan sakit karena berbagai ancaman dan persoalan kehidupan. Perempuan dianggap berdaya dengan bekerja, dia dikorbankan agar menyumbang devisa negara melalui TKW, buruh terbanyak dan murah pun perempuan, UMKM juga melibatkan perempuan, hingga dia minder jika di rumah saja. Standar kemuliaan perempuan kini berubah seiring runtuhnya peradaban Islam sehingga berkiblat ke Barat. 

Sistem Kapitalisme Sekuler telah menjajah negeri-negeri muslim menjadikan standar kemulian perempuan dengan keseteraan. Memandang problem perempuan dengan perspektif gender padahal persoalan perempuan sebenarnya terlahir dari ideologi Kapitalisme itu sendiri. Persoalan perempuan tidak sendiri, karena kekerasan, kemiskinan, ketidakadilan, dan berbagai problem lainnya juga menimpa kaum lelaki. 

Kapitalisme sebenarnya diambang kehancuran. Rezim kapitalisme global terus memperlambat kehancurannya dengan menguatkan hegemoninya di negeri-negeri Islam dan dunia. Indonesia sebagai negara maju dan muslim terbesar terus disetir dengan progam SDGs sehingga tak menyadari perempuan justru jadi korban. 

 
Peradaban Islam Memuliakan Perempuan 

Islam bukan sekedar agama, Islam dengan kumpulan masyarakat yang satu perasaan, pemikiran dan peraturan pernah terbentuk dalam sebuah peradaban khas. Salah satu yang menonjol adalah menempatkan perempuan sesuai fitrahnya. Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna memiliki pandangan tersendiri tentang perempuan. Islam begitu memuliakan perempuan dengan seperangkat aturan khususnya, seperti auratnya tertutup, dilarangnya tabarruj dan ikhtilat, serta mulianya menjadi isteri dan ibu.

Posisi perempuan sebagai pembentuk peradaban, tidak lepas dari peran yang telah Allah gariskan bagi mereka dalam ajaran Islam, yakni sebagai ibu dan istri, serta berkiprah membangun umat melalui kerja sama dengan laki-laki. Perempuan dalam Islam dijamin bisa menjalankan perannya untuk mencetak generasi Islam yang tangguh, dengan support sistem negara maka dari rumahlah peradaban Islam bermula. Selanjutnya negara yang akan mengembangkannya menjadi peradaban dunia.

Sejarah telah mencatat bahwa pada masa kegemilangan Islam, peran perempuan sungguh tidak bisa diabaikan. Pertama, peran sebagai ibu yang telah melahirkan dan membentuk orang-orang besar, seperti ibu dari Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Muhammad al-Fatih, dan sebagainya. Kedua, peran sebagai istri pemimpin yang mengharumkan nama suami, seperti Fatimah binti Abdul Malik, istri khalifah Umar bin Abdul Aziz; dan Zubaydah binti Abu Ja’far al-Manshur, istri dari Khalifah Harun al-Rasyid.

Tidak ketinggalan, peran sebagai ulama dan penasihat para penguasa, seperti Sayyidah Naafisah salah satu guru Imam Syafi’i, Fathimah binti Alauddin Muhammad, atau Karimah binti Muhammad bin Hatim. Mereka menulis beberapa buku hadis dan fikih yang dijadikan rujukan oleh para ulama pada zamannya. (Sumber: Ali Fikri, 1995, Wanita Teladan Zaman).

Dengan demikian terungkap kritis bahwa di balik pengakuan internasional WHO akan prestasi penjagaan perempuan, Islam justru lebih dulu memuliakan dan menyelematkan perempuan. Perempuan muslimah yang menjaga fitrah dan ketaatan kepada Allah in syaa Allah diakui langit, para malaikat akan mendoakannya. Perempuan muslimah hanya butuh pengakuan Allah, meski tidak terkenal tetapi hasil perjuangan mereka harum semerbak di surga nanti in syaa Allah aamiin allahumma aamiin.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar