Oleh : Ria Nurvika Ginting,S.H., M.H (Dosen-FH)
Perayaan ulang tahun ke-27 Aisyah Thisia Bianty, yang merupakan istri Gubenur Kalimantan (Kalteng), Agustiar Sabran, menjadi sorotan masyarakat Kalteng di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selain itu, acara perayaan ulang tahun Hj.Masrupah Syarifuddin, istri Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalsel, H.Muhammad Syarifuddin, M.Pd yang ke-58 bernuansa mewah dengan mengusung tema “Kembali Muda” digelar di Resto Lima, Km 3,5 Banjarmasin, pada Jumat, 28 Agustus 2026 lalu juga lebih dulu viral di tengah kondisi Kalsel yang masih ditutupi oleh kabut asap, dan para petugas yang berjuang untuk memadamkan api dari kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan. (Inilah.com, 03/09/26)
Kedua acara ini menunjukkan betapa pejabat hari ini kehilangan sensitivitas kepedulian sesama dan nirempati yang semakin menjauhkan kepedulian pejabat kepada rakyatnya sendiri. Anggota Komisi II DPR RI Muhammad Khozin, menyampaikan bahwa sensitivitas pejabat dan keluarga pejabat terhadap situasi yang dihadapi masyarakat perlu ditingkatkan, terlebih ketika suatu daerah sedang menghadapi bencana. Meski beberapa pihak menyampaikan bahwa publik harus menunggu klarifikasi resmi terlebih dahulu dikarenakan kegiatan syukuran pribadi pada dasarnya tidak melanggar hukum selama tidak menggunakan anggaran negara. Namun, bagi warganet dan korban terdampak karhutla menyatakan bahwa etika publik dan rasa empati pejanat di kala bencana merupakan hal mendasar yang seharusnya dijunjung tinggi. (kanalkalimantan.com, 03/09/26)
Para pemimpin/pejabat hari ini merupakan sosok yang lahir dari sistem yang mengenyampingkan agama dari kehidupan (bernegara) serta menempatkan standar kehidupan adalah materi atau manfaat. Sistem itu ialah sistem kapitalis-sekuler yang melahirkan sosok individu baik pejabat maupun pemimpin yang bersikap individualis, di mana hanya memikirkan kepentingan pribadi, meski di sekitar sedang mengalami bencana. Sistem ini juga melahirkan liberalisme (kebebasan). Selama anggaran untuk pesta ultah para istri pejabat tersebut tidak mengambil anggaran negara maka sah-sah saja untuk mengadakan seremonial pribadi di tengah bencana yang melanda.
Sistem ini juga menempatkan fungsi negara bukan sebagai pelayan rakyat tetapi hanya sebagai regulator (pembuat uu). Karhutla yang terjadi di Kalimantan juga disebabkan oleh adanya UU yang dibuat oleh manusia di mana diperbolehkan untuk melakukan pembukaan lahan dengan pembakaran. Siapa yang berani untuk melakukan hal tersebut? Mengapa negara tidak menindak tegas? Tentu saja ini dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki modal sehingga dapat dengan mudah menawar aturan yang ada. Sungguh, ketika menyerahkan pengurusan rakyat (aturan) kepada manusia maka hanya kesengsaraan yang akan dirasakan. Bukan hanya bagi manusia tetapi juga bagi seluruh makhluk hidup.
Pemimpin/pejabat yang lahir dari sistem ini tidak akan berpihak kepada rakyat. Mereka hanya berpihak kepada para pemilik modal (kapital). Hal ini dikarenakan sistem ini merupakan sistem yang mahal. Ketika ingin menjabat maka akan dibutuhkan modal yang besar. Modal ini tentu saja, salah satunya dapat diperoleh dari para kapital. Mereka selama menjabat akan sibuk dengan mengembalikan modal tersebut sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan rakyat. Atau sibuk untuk membuat aturan yang hanya berpihak kepada para kapital bukan kepada rakyatnya.
Pemimpin dalam Islam
Kepemimpinan merupakan perkara pokok dalam hidup berjamaah, bahkan merupakan salah satu qiyam (penopang) suatu masyarakat. Seorang penyair jahiliyah bernama Afwah al-Audi pun mengakui hal tersebut. Sebagaimana dikutip oleh al-Imam Ibn Qutaibah ad-Dainuri: Tidak akan baik suatu kaum itu hidup tercerai-berai tanpa memiliki pemimpin dan tidak terhitung memiliki pemimpin jika orang-orang bodoh di kalangan mereka yang menjadi pemimpin. (Asy-Syi’r wa asy-Syu’ara’, I/217).
Rasulullah merupakan tauladan dan panutan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan. Rasulullah adalah seorang pemimpin teragung dan terbaik yang pernah ada dalam sejarah manusia. Jules Masserman, seorang peneliti independen sekaligus seorang professor di Universitas Chicago Amerika, pernah melakukan penelitian untuk menentukan pemimpin terbaik dunia. Secara jujur beliau menyampaikan bahwa barangkali pemimpin teragung sepanjang sejarah adalah Muhammad. Dalam sistem Islam yang berdiri atas dasar akidah Islam di mana hanya sang Khaliq yang berhak untuk menetapkan hukum bagi manusia, yakni Allah Swt. seorang kepala negara (khalifah) akan memiliki rasa takut akan pertangungjawaban kelak di akhirat ketika menjalankan seluruh aktivitasnya yakni menerapkan seluruh syariat Islam dalam kehidupan bernegara. Hal ini dikarenakan sistem Islam menjadikan standar halal/haram dalam kehidupan bukan materi atau manfaat.
Sistem Islam juga menempatkan kepala negara sebagai peri’ayah umat (pengurus) yakni pelayan bagi rakyatnya. Rasulullah saw. bersabda: “Setiap Imam (khalifah) merupakan pengurus rakyatnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia urusi.”(HR Abu Daud) Selain itu, Rasulullah saw. juga bersabda: ”Sebaik-baik pemimpin kaliana adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR Imam Muslim).
Sehingga dalam Islam pemimpin akan menjadi garda terdepan dalam mengayomi rakyatnya. Terlebih lagi dalam kondisi di tengah bencana atau musibah. Sikap pemimpin dalam Islam akan mengedepankan rakyatnya bukan agenda seremonial yang tidak ada kaitannya dengan kemaslahatan rakyatnya. Pemimpin seperti ini hanya lahir dari sistem yang shahih yakni sistem Islam yang menerapkan seluruh syariat Allah Swt. dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah.
Wallahu'alam bish-shawwab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar