Oleh : Aluna Alma
Sekitar 200 mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta menggelar unjuk rasa di Simpang Empat Gramedia pada Selasa (1/9/2026). Tuntutan yang mereka bawa sesungguhnya krusial: evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembenahan manajemen bencana karhutla dan gempa bumi Flores, serta penyelidikan tuntas atas kerusuhan 27 Agustus 2026. Namun, aksi yang berlangsung sejak sore hingga malam itu berujung ricuh. Sedikitnya enam mahasiswa dari UGM dan UNY dilaporkan terluka, mulai dari memar hingga luka robek, bahkan dua di antaranya sempat mengalami trauma dan sesak napas (CNN Indonesia, 2 September 2026; Kompas.id, 2 September 2026).
Kericuhan dipicu oleh benturan antara massa aksi dengan kelompok yang mengaku warga sekitar, yang merasa terganggu karena jalan ditutup hingga malam hari (CNN Indonesia, 2 September 2026). Sejumlah mahasiswa menuding kerusuhan tersebut melibatkan kelompok preman yang mengejar dan menyerang massa aksi saat mereka berupaya membubarkan diri. Di tengah kericuhan, seorang jurnalis mahasiswa mengaku dipukul menggunakan kaleng hingga kehilangan kesadaran saat sedang meliput (Herald.id, 4 September 2026). Polisi sendiri mengklaim insiden itu murni kesalahpahaman dan menyebut adanya anggota mereka yang terkena semprotan diduga cairan merica (CNN Indonesia, 2 September 2026).
Dari titik inilah persoalan bergeser. Publik dan media ramai memperdebatkan siapa yang memprovokasi, benarkah ada cairan merica, mengapa jalan diblokade sampai malam, hingga siapa yang harus bertanggung jawab atas luka-luka yang terjadi. Pertanyaan mendasar tentang mengapa mahasiswa turun ke jalan justru tertutup oleh perdebatan tentang bagaimana aksi itu berlangsung.
Akibatnya, energi mahasiswa yang semula terarah untuk mengawal isu MBG, karhutla, dan kerusuhan Agustus lalu, kini terkuras untuk hal lain: merawat korban, mengurus aduan hukum, serta meluruskan berbagai tudingan teknis yang menyudutkan mereka. Posisi yang tadinya menyerang kini berubah menjadi bertahan. Pesan kritik yang seharusnya menjadi sorotan utama perlahan tenggelam, seolah menjadi buku penting yang belum sempat dibaca publik karena semua orang sibuk memperdebatkan sampulnya yang robek akibat kericuhan di lapangan. Ini adalah kerugian strategis bagi gerakan mahasiswa.
Pola pengalihan semacam ini bukan kali pertama terjadi dan tampak berulang setiap kali muncul gerakan sipil yang mengusung isu-isu krusial yang berpotensi mengancam kenyamanan penguasa. Hal ini konsisten dengan watak demokrasi yang sesungguhnya lebih berpihak pada kehendak penguasa dan oligarki yang menyokongnya, ketimbang benar-benar mengakomodasi suara rakyat banyak.
Islam memiliki pandangan yang berbeda secara mendasar. Demokrasi kerap menghalalkan segala cara demi mempertahankan kekuasaan, sementara Islam melarang tegas daulah bulisiyah, yakni model kekuasaan yang menyalahgunakan fungsi aparat keamanan (syurthah) sebagai alat melindungi kepentingan pribadi penguasa, membungkam suara rakyat, atau mengintimidasi para pengkritik.
Muhasabah atau koreksi terhadap penguasa justru hukumnya wajib, terlebih ketika penguasa melakukan penyimpangan. Begitu pentingnya kedudukan muhasabah ini, rakyat yang gugur karena menyampaikan koreksi kepada penguasa yang zalim disejajarkan kedudukannya dengan penghulu para syuhada. Islam pun menjamin fungsi muhasabah dan akuntabilitas pemerintahan berjalan melalui berbagai mekanisme yang sah secara syariah, dan negara wajib memastikan mekanisme ini berjalan tanpa hambatan maupun intimidasi.
Perbedaan mendasar lainnya terletak pada standar benar dan salahnya seorang penguasa. Dalam demokrasi, standar itu bersifat relatif dan mudah berubah sesuai kepentingan yang sedang berkuasa. Sebaliknya, dalam Islam, standar penyimpangan seorang penguasa dikembalikan pada syariah, yakni apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, bukan pada tafsir sepihak kekuasaan yang tengah memegang kendali.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar