Oleh: Essy Rosaline Suhendi (Aktivis Muslimah Karawang)
Seorang mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya diduga melakukan percobaan bunuh diri. Ia melompat dari lantai 6 gedung kampus, walaupun pada akhirnya selamat dan harus dioperasi karena mengalami cedera serius (www.kompas.com, 10/09/26).
Sebelumnya, juga terjadi di ibu kota Jakarta, tepatnya di kawasan Gelora Bung Karno. Ditemukan seorang pria berinisial FS (30 tahun) tergeletak meninggal dan diduga bunuh diri. Ia sempat mengunggah pesan perpisahan serta mendonasikan Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental (www.kompas.com, 10/09/26).
Hari ini kita hidup dalam dunia yang sangat bising. Setiap hari, telinga dan pikiran kita dijejali oleh narasi tentang kesuksesan finansial, kebebasan individu, dan pencapaian materi. Seakan terjebak dalam sebuah ruang hampa yang terus menekan cara berpikir dan bertindak tanpa memiliki standar kebahagian yang benar dan tujuan hidup yang jelas.
Sekulerisme dan Kebahagiaan Semu
Begitulah sistem sekularisme yang memisahkan agama dari roda kehidupan, telah berhasil mendikte standar kebahagiaan manusia dan membuat manusia bingung dengan tujuan hidupnya. Bahagia didefinisikan dengan terpenuhinya hawa nafsu tanpa memperdulikan aturan agama hingga menganggap agama hanya pantas dipakai dalam ranah ibadah dan boleh menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkan.
Di satu sisi, dalam bayang gemerlap pencapaian materi dan kemudahan teknologi hari ini, sistem sekularisme menciptakan generasi yang paling kesepian. Sedangkan di sisi lain, individu yang memiliki rumah ternyata tidak merasa hidup di dalam rumah tersebut. Hingga akhirnya, mereka tidak mendapatkan ketenangan dan mencari solusi atas masalah dengan cara tragis, seperti bunuh diri.
Maka tak heran, jika angka depresi dan bunuh diri di kalangan generasi muda justru melonjak tajam di tengah dunia yang katanya semakin maju. Hal demikian disebabkan sistem sekularisme mengukur kebahagiaan sebatas angka. Manusia dianggap sukses hanya jika jabatannya tinggi, rumahnya mewah dan tabungannya melimpah, namun abai pada kebutuhan ruhani hingga melahirkan manusia ibarat mesin. Jiwa manusia dianggap kenyang hanya dengan hiburan, liburan, dan validasi di media sosial.
Selain itu, ruang lingkup masyarakat pun sibuk dengan kompetisi tanpa akhir. Generasi dipaksa bertarung dalam rat race (perlombaan tikus) yang melelahkan. Akibatnya, muncul kecemasan akut (anxiety), perasaan tidak pernah cukup, dan ketakutan akan kegagalan.
Sistem Salah Tidak Menyelesaikan Masalah
Untuk itulah kita mesti menyadari, bahwa sistem sekularisme memiliki cacat bawaan sejak lahir. Ketika agama dipinggirkan ke sudut tempat ibadah saja, maka manusia akan kehilangan kompas spiritualnya. Aturan hidup sekuler hanya mendidik generasi untuk fokus pada dua hal, yaitu materi (kekayaan) dan eksistensi diri.
Padahal, saat materi yang dikejar itu berhasil digenggam, malah banyak anak muda yang justru termenung dan bertanya, "Saya sudah punya segalanya, tapi mengapa hati saya tetap hampa?" Kejenuhan spiritual inilah yang berubah menjadi kesepian akut. Menyebabkan beban mental tak lagi tertahankan dan tidak menemukan solusi atas problematika kehidupan yang dihadapi, hingga bunuh diri dianggap sebagai jalan pintas untuk menghentikan rasa hampa tersebut.
Lantas, apakah ada sistem selain sekularisme yang mampu menyelamatkan manusia dari kesepian? Menemukan tujuan hidup yang hakiki serta mendapatkan ketenangan dalam menjalani kehidupan di tengah permasalahan manusia yang semakin beragam.
Selama ini, solusi yang ditawarkan oleh sistem sekuler saat menghadapi krisis mental generasi hanyalah solusi kosmetik atau individual. Ketika anak muda depresi, mereka disuruh healing, datang ke psikolog, atau mempraktikkan mindfulness. Dan di mimbar-mimbar, mereka hanya dinasihati untuk lebih banyak beribadah secara pribadi.
Tentu saja, solusi di atas jelas tidak akan pernah cukup. Mengapa? Karena akar masalahnya adalah sistemik. Sungguh berat bagi seorang individu untuk tetap tenang dan menjaga kesehatan mentalnya, sementara sistem pendidikan, pergaulan, media massa, ekonomi, hukum, budaya dan lingkungan sosial di sekelilingnya terus-menerus memborbardir mereka dengan ide sekuler-liberal yang beracun, semisal Individualisme, narsisme, hedonisme, dan sebagainya.
Islam Solusi Hakiki
Oleh karena itu, solusinya harus mengarah pada perubahan yang mendasar dan menyeluruh, yaitu mencabut sistem sekularisme dan menggantinya dengan sistem Islam sebagai aturan hidup masyarakat. Beberapa perubahan mendasar tersebut diantaranya:
Pertama, perubahan paradigma negara dan sistem hidup: negara tidak boleh mengadopsi sekularisme sebagai sistem kehidupan. Aturan hidup yang diterapkan dalam aspek hukum, ekonomi, politik, budaya dan pergaulan sosial harus bersumber dari syariat Islam.
Terkait sistem ekonomi yang diterapkan, negara akan menjamin kebutuhan hidup rakyat tercukupi serta membuka lapangan pekerjaan yang luas dan layak, khususnya untuk laki-laki yang sudah baligh. Namun, Islam memandang tugas negara bukan sekadar memutar roda ekonomi, melainkan menjaga agama dan jiwa rakyatnya agar tidak tersesat dalam kehampaan hidup.
Kedua, sistem pendidikan berbasis akidah Islam:kurikulum pendidikan sekuler yang mencetak generasi pemburu materi harus dirombak total. Islam menawarkan sistem pendidikan yang mampu membangun syakhshiyah Islamiyah (kepribadian Islam). Generasi dididik untuk menyelaraskan tujuan hidupnya demi mencari rida Allah SWT (QS. Az-Zariyat: 56), sehingga mental mereka tangguh dan tidak mudah rapuh menghadapi ujian dunia, serta menjadikan Islam sebagai solusi atas setiap permasalahan hidup.
Selain itu, sistem pendidikan Islam harus diterapkan sedini mungkin dalam lingkup terkecil yaitu keluarga. Setiap anggota keluarga juga turut berperan dalam menciptakan rumah yang aman dan tenang. Orang tua mendidik dan membimbing anak-anak dengan kebiasaan dan gaya hidup seorang muslim, sehingga syaksiyah Islam pun akan mudah terbentuk.
Terakhir, ekosistem sosial yang saling menguatkan: dalam Islam, masyarakat dibangun atas asas ketakwaan kolektif, bukan kebebasan individu yang egois atau apatis. Melalui mekanisme amar ma'ruf nahi munkar, masyarakat akan saling peduli, saling menasihati dalam kebenaran, dan mengulurkan tangan bagi mereka yang kesulitan.
Circle pertemanan yang terbentuk pun atas dasar ketakwaan bukan manfaat. Ekosistem demikian niscaya mampu mengikis rasa kesepian karena setiap individu merasa menjadi bagian dari persaudaraan yang utuh (ukhuwah) dan saling menghargai, menghormati dan menyayangi atas dasar keimanan.
Hidup Tenang dalam Penerapan Syariat Islam
Akhirul kalam, tenang versi Islam adalah ketika manusia hidup di bawah aturan syariat Islam yg berasal Allah Ta'ala Sang Pencipta manusia, sehingga hamba-Nya mampu menjadikan ibadah dan Rida Allah SWT sebagai tujuan hidup serta menjadikan dunia sebagai jalan untuk beramal shaleh dan menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup.
Menyelesaikan krisis mental generasi hari ini tidak bisa dengan menambal sulam aturan yang rusak dan berharap ketenangan lahir dari rahim sekularisme yang gersang akan spiritualitas. kegaduhan ide sekuler terbukti gagal merawat jiwa manusia. Ia hanya melahirkan generasi yang kaya secara materi, namun sekarat secara spiritual dan kesepian di tengah keramaian, hingga memilih mengakhiri hidup.
Sudah saatnya kita bergerak menuju perubahan mendasar: kembali pada aturan Islam secara kaffah, yang tidak hanya menata urusan ibadah, tetapi juga menata seluruh aspek kehidupan demi terciptanya ketenangan jiwa yang hakiki. Namun, penerapan Islam secara sempurna hanya bisa terlaksana dalam bingkai daulah khilafah Islamiyyah.
Wallahu a'lam bishshawab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar