Oleh: Isnawati (Muslimah Penulis Peradaban)
Maudy Ayunda meminta maaf setelah konten tentang “diet berita” dan mindfulness menuai kritik karena dinilai kurang mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat Indonesia. Ia mengaku telah mengevaluasi pernyataannya dan berkomitmen untuk lebih banyak mendengar, berempati, serta belajar dari berbagai sudut pandang (detikSumut, 21/9/2026).
Ketenangan Bukan Tujuan
Persoalan ini sebenarnya bukan sekadar tentang boleh atau tidaknya seseorang membatasi berita yang dikonsumsi, melainkan tentang bagaimana seseorang memandang persoalan yang terjadi di sekitarnya. Mengatur informasi memang dapat membantu seseorang menjaga kondisi emosional, tetapi menjadi persoalan ketika ketenangan diri ditempatkan lebih penting daripada kepedulian terhadap kehidupan bersama.
Seseorang boleh merasa lelah melihat berita buruk setiap hari, boleh mengambil jeda dari media sosial, bahkan boleh memilih informasi yang sesuai dengan kapasitas dirinya. Namun, persoalan sosial tidak ikut menghilang hanya karena seseorang berhenti membacanya, sebab penderitaan tetap berlangsung meskipun mata kita memilih tidak melihat.
Di sinilah “diet berita” perlu dilihat lebih dalam. Jika seseorang hanya diajarkan untuk menyaring berita buruk, menghindari informasi yang membuat tidak nyaman, lalu kembali fokus pada kehidupan pribadi, persoalan masyarakat berisiko dipandang sebagai sesuatu yang cukup dikelola dari dalam diri masing-masing.
Padahal, tidak semua orang memiliki kemewahan untuk mengambil jarak dari masalah. Bagi seseorang yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, menghadapi mahalnya biaya pendidikan, sulit memperoleh layanan kesehatan, kehilangan pekerjaan, atau mengalami ketidakadilan, berita tentang persoalan tersebut bukan sekadar informasi yang bisa dimatikan dengan menekan tombol.
Baik buruk mindfulness itu tidak boleh disandarkan hanya pada akal. Persoalannya adalah ketika ketenangan diri menjadi tujuan utama sampai seseorang merasa cukup dengan berkata, “Saya harus menjaga kesehatan mental saya,” sementara persoalan yang membuat orang lain kehilangan ketenangan justru tidak pernah disentuh.
Ketenangan yang hanya berputar di dalam diri akhirnya dapat melahirkan sikap individualistis. Masalah bersama perlahan dianggap sebagai urusan masing-masing, penderitaan orang lain cukup disaksikan dari kejauhan, sedangkan seseorang merasa sudah melakukan hal yang benar selama dirinya tetap tenang.
Padahal, manusia tidak hidup sendirian. Apa yang terjadi pada keluarga, tetangga, lingkungan kerja, masyarakat, bahkan bangsa, pada batas tertentu akan saling memengaruhi.
Peduli Harus Bertindak
Dalam Islam, manusia tidak diciptakan hanya untuk mengejar kenyamanan dirinya sendiri. Allah berfirman dengan tegas bahwa, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS adz-Dzariyat: 56).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar mencari ketenangan pribadi. Seorang Muslim tidak hanya dituntut mengurus dirinya, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kehidupan sesuai ketentuan Allah dan memperhatikan keadaan orang lain.
Islam memandang manusia mempunyai kebutuhan jasmani dan berbagai naluri yang harus dipenuhi secara benar. Manusia membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, keamanan, sekaligus membutuhkan kasih sayang, kehidupan bermasyarakat, dan pemenuhan naluri beragama.
Berbagai kebutuhan tersebut tidak mungkin seluruhnya diselesaikan secara individual. Ketika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok, ketika pendidikan bermasalah, pelayanan kesehatan buruk, kemiskinan meluas, atau ketidakadilan terjadi, tentu penyelesaiannya tidak cukup dengan menyuruh setiap orang mengatur emosinya sendiri.
Di sinilah letak perbedaan antara sekadar membuat manusia mampu bertahan menghadapi masalah dengan menyelesaikan masalah itu sendiri. Yang pertama berusaha membuat seseorang tetap tenang ketika menghadapi penderitaan, sedangkan yang kedua berusaha mencari akar persoalan agar penderitaan tersebut tidak terus terjadi.
Jika masyarakat terus-menerus diajarkan untuk berdamai dengan keadaan tanpa diarahkan untuk memperbaiki keadaan, lama-kelamaan penderitaan dapat dianggap sebagai sesuatu yang normal. Kemiskinan diterima sebagai takdir sosial, ketidakadilan dianggap kenyataan hidup, dan berbagai persoalan struktural cukup dihadapi dengan nasihat agar setiap individu tetap positif.
Cara pandang seperti ini berbahaya karena dapat menggeser perhatian dari akar masalah. Orang sibuk memperbaiki dirinya agar kuat menghadapi keadaan, tetapi lupa bertanya mengapa keadaan tersebut terus berulang dan siapa yang seharusnya bertanggung jawab mengatasinya.
Dalam perspektif Islam kaffah, persoalan manusia tidak dipisahkan hanya menjadi persoalan mental pribadi. Kehidupan manusia membutuhkan aturan yang mengatur hubungan individu, masyarakat, dan negara agar kebutuhan masyarakat dapat diurus serta keadilan dapat ditegakkan.
Negara memiliki tanggung jawab dalam mengurus berbagai kepentingan masyarakat, termasuk menjamin kebutuhan dasar, menjaga keamanan, menyediakan pelayanan yang layak, menegakkan hukum, dan mencegah kemungkaran sesuai ketentuan syariat. Oleh karena itu, penyelesaian persoalan sosial tidak cukup dibebankan kepada individu dengan meminta mereka lebih sabar, lebih kuat, atau lebih mampu mengendalikan emosi.
Dalam kerangka politik Islam yang menjadi perspektif tulisan ini, penerapan syariah secara menyeluruh membutuhkan institusi negara yang menjalankannya, yakni Khilafah. Dengan demikian, perubahan yang dibutuhkan bukan hanya perubahan cara seseorang mengelola pikiran, tetapi juga perubahan tata kehidupan agar pengurusan manusia berjalan berdasarkan aturan yang diyakini bersumber dari Allah.
Tentu, menjaga kesehatan mental tetap penting. Membatasi paparan informasi yang berlebihan juga dapat dilakukan agar seseorang tidak tenggelam dalam kecemasan, tetapi semua itu seharusnya menjadi sarana untuk menjaga kekuatan diri, bukan alasan untuk menjauh dari kepedulian terhadap persoalan umat.
Sungguh, dunia tidak menjadi lebih baik hanya karena kita berhasil membuat diri sendiri tenang. Dunia berubah ketika manusia yang tenang mampu melihat penderitaan dengan jernih, peduli terhadap sesama, berani menyuarakan kebenaran, dan ikut mencari jalan untuk menghilangkan sumber masalah.
Maka, jangan sampai ketenangan berubah menjadi kenyamanan untuk tidak peduli. Manusia memang perlu belajar berdamai dengan dirinya, tetapi masyarakat juga membutuhkan manusia yang mau bangkit, melihat kenyataan, dan berusaha mengubah keadaan yang tidak semestinya terus dibiarkan. Wallahualam bissawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar