Oleh: Ai Dewi Mulyawati
Kabar pemberhentian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatannya menggema di seluruh penjuru negeri. Banyak yang terkejut, tak sedikit yang bertanya-tanya, bagaimana seorang menteri yang dikenal bekerja tekun, mencoba menertibkan keuangan negara, dan berupaya menyeimbangkan anggaran dapat digantikan begitu saja?
Peristiwa ini bukan sekadar pergantian pejabat. Ia adalah cermin nyata dari sesuatu yang lebih mendasar dan mengkhawatirkan, sebagaimana pun baiknya seseorang, jika sistemnya rusak, maka hasil akhirnya tetap rusak.
Tersingkirnya Purbaya, Cermin Kebingungan Mengelola Negeri
Pergantian ini memperlihatkan betapa bingungnya kekuasaan mencari jalan keluar dari tumpukan persoalan ekonomi yang makin pelik. Di satu sisi, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus melebar, sementara di sisi lain beragam program berskala raksasa menelan biaya yang tak kunjung habis. Belum lagi beban warisan proyek strategis nasional rezim sebelumnya, seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan proyek kereta cepat Woosh yang terus menggerogoti anggaran negara dari tahun ke tahun.
Di tengah tekanan sedemikian rupa, sosok yang berusaha menegakkan ketertiban justru disingkirkan. Inilah kenyataan pahit yang terus berulang.
Jika seseorang tidak terbawa arus sistem yang buruk, jika ia tidak mau ikut bermain sesuai kepentingan yang menguasai, maka ia akan disingkirkan, dengan alasan apa pun, dan dengan cara apa pun.
Bukan karena kinerjanya gagal. Melainkan karena ia tidak sejalan dengan arah yang diinginkan oleh kekuatan yang mengatur sistem tersebut. Di dalam sistem yang mengutamakan keuntungan segelintir pihak di atas kepentingan rakyat, kejujuran dan ketegasan justru dianggap gangguan.
Sistem yang Mengulang Kesalahan yang Sama
Peristiwa ini bukan yang pertama, dan jika tidak ada perubahan menyeluruh, tidak akan menjadi yang terakhir. Pemimpin, menteri, hingga pejabat tinggi akan terus berganti silih berganti, namun wajah kemiskinan, ketimpangan, dan penderitaan rakyat tidak akan berubah.
Pergantian pejabat tidak akan pernah berarti selama Kapitalisme tetap menjadi dasar perekonomian di tanah air.
Sistem ini menjadikan pajak sebagai satu-satunya andalan untuk menambal kebocoran anggaran, sementara kekayaan alam negeri justru dibuka lebar-lebar melalui liberalisasi pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang menguntungkan pihak asing dan pengusaha besar.
Prinsip meritokrasi pun ditinggalkan, bukan orang yang cakap dan jujur yang dipilih, melainkan mereka yang dekat dengan kekuasaan melalui klientelisme. Akibatnya, tata kelola pemerintahan jauh dari sehat, keadilan terabaikan, dan kesejahteraan rakyat diabaikan.
Allah SWT. berfirman:
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
“Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Satu Orang Tidak Bisa Mengubah Segalanya, Harus Bersatu Mengganti Sistem
Perubahan sejati tidak akan lahir dari pergantian nama di kursi kekuasaan. Perubahan suatu negara tidak dapat dilakukan oleh satu orang saja. Seorang pemimpin paling saleh sekalipun, jika berdiri sendirian melawan arus sistem yang kuat, pada akhirnya akan kalah atau tersisih.
Perubahan yang kita butuhkan dimulai dari memilih penguasa yang benar-benar kredibel, amanah, dan bermental pelayan rakyat, bukan karena kedekatan pribadi, bukan pula sebagai bayaran utang politik. Kita membutuhkan pemimpin yang memegang teguh prinsip keadilan dan kesejahteraan bersama, bukan yang tunduk pada kepentingan segelintir kelompok.
Dan perubahan ini tidak bisa setengah-setengah. Kita wajib meninggalkan sistem Kapitalisme beserta segala keburukannya, dan beralih sepenuhnya kepada sistem ekonomi Islam yang diatur oleh hukum Allah SWT.
Hanya Syariat Islam yang Menyelamatkan Bangsa
Sudah saatnya kita menyadari bahwa sistem yang kita andalkan kini telah gagal. Ia menjanjikan kemakmuran namun menyebarkan kesenjangan. Ia mengaku menjamin kebebasan namun membiarkan rakyat menderita. Sistem Islam harus segera diterapkan secara menyeluruh, sebab hanya dengan tegaknya syariat Islam, penyelamatan bangsa ini dapat terwujud.
Dalam sistem yang berpijak pada hukum Allah SWT. Pejabat negara tidak hanya takut kepada atasan atau kepada rakyat, melainkan takut kepada Allah SWT.
Kekayaan negara dikelola dengan jujur, tidak ada yang dikorupsi atau disalurkan untuk kepentingan pribadi.
Sumber daya alam dikelola untuk kemaslahatan seluruh rakyat, bukan dikeruk untuk keuntungan asing.
Keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu, kaya maupun miskin, berkuasa maupun biasa, semuanya sama di hadapan hukum.
Kesejahteraan rakyat menjadi tujuan utama, bukan sekadar janji kampanye.
Allah SWT. menegaskan prinsip dasar kepemimpinan yang benar:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa:58).
Ketika aparatur negara memiliki ketakwaan dan kesadaran bahwa segala yang mereka lakukan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, maka pengelolaan negara akan berubah sepenuhnya. Anggaran tidak lagi bocor, proyek tidak lagi memakan harta sia-sia, dan rakyat tidak lagi diabaikan.
Pemberhentian Purbaya Yudhi Sadewa adalah satu peringatan lagi bagi kita, jangan berharap keadaan akan membaik hanya dengan mengganti orang. Gantilah sistemnya. Tinggalkanlah jalan yang telah terbukti menyesatkan dan kembalikan urusan bangsa ini kepada aturan Yang Menciptakan alam semesta secara utuh dan menyeluruh.
Mari kita bersatu, memperkuat keimanan, dan berjuang bersama agar syariat Islam menjadi dasar kehidupan bernegara. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesadaran, dakwah, dan persatuan. Karena hanya dengan tegaknya hukum Allah, negeri ini akan benar-benar sejahtera, adil, dan diberkahi.
Wallahu'alam bishshawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar