Darurat Kesehatan Mental 2026: Buah Penerapan Kapitalis-Sekuler


Oleh: Desi Ummu Idris

Tahun 2026 dibuka dengan alarm yang memekakkan telinga. Dalam satu pekan di awal September saja, dua nyawa muda hampir dan telah hilang karena bunuh diri. Mirisnya lagi keduanya merupakan generasi muda yang seharusnya disibukkan dengan masa produktif.

Pada Kamis (10/9/2026), seorang mahasiswi yang berinisial RR (19) dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, diduga mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus. (Kompas.id, 10-9-2026)

Beberapa hari sebelumnya, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri di kawasan GBK, Jakarta Pusat, pada Minggu (6/9/2026) dini hari. Ia sempat menulis pesan perpisahan dan mendonasikan Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental sebelum pergi. (Kompas.id, 10-9-2026)

Dua peristiwa ini bukan kasus tunggal. Hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id mencatat, klien yang datang didominasi kelompok usia 21–30 tahun. Ini menegaskan bahwa krisis kesehatan mental pada 2026 telah menjadi darurat nasional yang paling banyak menghantam generasi muda.

Mengapa generasi yang hidup di tengah gemerlap kemajuan, akses internet 24 jam, dan fasilitas serba ada, justru menjadi generasi yang paling kesepian?


Saat Sekularisme Mencabut Benteng Akidah

Fenomena bunuh diri tidak bisa disederhanakan sebagai gangguan kimiawi otak atau masalah personal semata. Hal tersebut merupakan gejala sosial dari sistem hidup yang rusak.

Sosiolog Emile Durkheim sejak lama menjelaskan, tingkat bunuh diri akan melonjak pada masyarakat yang ikatan sosialnya lemah dan kehilangan makna hidup. Psikolog UI, Bagus Takwin, juga menyebut bahwa krisis makna hidup menjadi pemicu utama depresi pada generasi muda saat ini.

Inilah buah pahit dari penerapan sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Tuhan hanya ditempatkan di masjid dan ritual privat. Sedangkan di kampus, di kantor, di negara, manusia diminta hidup tanpa aturan sang Pencipta. Akidah dengan sengaja dicabut dari cara berpikir dan berperilaku manusia.

Akibatnya, ketika seorang mahasiswi kedokteran yang cerdas dan berprestasi dihadapkan pada tekanan akademik atau ekspektasi orang tua, ia tidak memiliki jangkar. Dalam kacamata sekuler, hidup adalah tentang dirinya sendiri. Jika gagal, maka habislah segalanya.

Tanpa iman, kesulitan kecil terasa seperti kiamat. Padahal Islam telah memberikan benteng jiwa yang kokoh. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa: 29).

Rasulullah SAW menegaskan:
مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, maka ia akan disiksa dengan itu pada hari kiamat." (HR. Bukhari Muslim).

Keyakinan bahwa setiap kesulitan adalah ujian dan bunuh diri adalah haram, inilah rem paling kuat yang telah hilang dari benak generasi sekuler.

Di sinilah relevansi pemikiran Syekh Taqiyuddin an-Nabhani. Dalam kitabnya Nizhamul Islam, beliau menjelaskan bahwa manusia hidup dengan mafahim (pemahaman) tentang kehidupan. Jika mafahim-nya sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan, maka perilakunya akan rapuh. Beliau menegaskan bahwa kebahagiaan hakiki manusia bukan terletak pada pemenuhan materi semata, melainkan pada ketenangan karena meraih ridha Allah SWT. Ketika tolok ukur kebahagiaan diganti menjadi materi ala kapitalisme, maka kekecewaan dan keputusasaan menjadi keniscayaan.


Kapitalisme Melahirkan Generasi Rapuh

Faktor kedua yang tak kalah berbahaya adalah penerapan sistem kapitalisme. Kapitalisme bukan hanya sistem ekonomi, lebih dari itu kapitalisme merupakan cara pandang hidup yang melahirkan manusia-manusia individualistik dan asosial.

Budaya toxic positivity dan hustle culture yang lahir dari kapitalisme menuntut setiap orang untuk selalu sukses, kaya, dan bahagia versi kapitalis dan dunia maya. Nilai manusia diukur dari produktivitas dan materi semata.

Psikolog sosial Erich Fromm dalam karyanya Escape from Freedom menyebut masyarakat kapitalistik modern melahirkan keterasingan. Manusia terasing dari dirinya sendiri dan dari orang lain.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah membongkar akar masalah ini. Beliau menjelaskan bahwa kepribadian manusia (syakhshiyah) terdiri dari aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap). Sistem pendidikan sekuler-kapitalisme merusak keduanya. Aqliyah dibentuk untuk berpikir pragmatis dan materialistis, sementara nafsiyah dibentuk untuk mengejar manfaat pribadi. Tidak heran lahir generasi yang secara akademik cerdas, namun secara nafsiyah rapuh, mudah cemas, dan asosial.

Inilah yang menjelaskan paradoks kesepian di tengah keramaian. Di kos-kosan, mahasiswa satu atap tidak saling mengenal. Di apartemen mewah Jakarta, tetangga bertahun-tahun tidak bertegur sapa. Semua sibuk dengan gadget dan dunianya sendiri. Bahkan ketika materi berkecukupan seperti kasus FS yang masih mampu mendonasikan Rp40 juta, hatinya tetap kosong.


Bercermin pada Sejarah Emas Pendidikan Islam

Islam memiliki model yang terbukti melahirkan generasi tangguh, bukan generasi rapuh.

Dalam sejarah peradaban Islam, pendidikan dibangun di atas akidah. Tujuannya bukan mencetak pekerja, melainkan mencetak hamba Allah yang bertakwa dan pemimpin peradaban.

Sejak masa Khalifah Umar bin Khattab ra., negara mendirikan Kuttab di setiap wilayah. Di sana anak-anak sejak usia dini diajarkan Al-Qur'an, akidah yang kokoh, dan adab sebelum ilmu lainnya. Buahnya, lahir generasi seperti Abdullah bin Abbas, ahli tafsir ulung sejak remaja dengan mental yang luar biasa kuat.

Puncaknya adalah Madrasah Nizamiyah yang didirikan Wazir Nizam al-Mulk pada abad ke-11 di Baghdad. Madrasah ini mengajarkan fikih, teologi, kedokteran, astronomi, dan matematika dalam satu kesatuan tauhid. Dari rahim sistem inilah lahir Imam Al-Ghazali, ilmuwan sekaligus pakar penyucian jiwa. Karyanya Ihya Ulumuddin hingga hari ini menjadi rujukan utama dunia untuk mengatasi kegelisahan batin.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk syakhshiyah Islamiyah, yaitu individu yang seluruh aqliyah dan nafsiyahnya dibangun di atas akidah Islam. Pola pikirnya menjadikan halal-haram sebagai standar, dan pola sikapnya dipenuhi dengan ketenangan karena senantiasa terikat dengan Allah. Inilah yang hilang dalam sistem pendidikan sekuler hari ini yang hanya berorientasi mencetak tenaga kerja industri. Agama hanya diajarkan 2 jam seminggu sebagai tempelan.


Solusi Hakiki: Tegakkan kembali Negara Islam

Maka solusi darurat kesehatan mental 2026 ini harus sistemik, sebab setiap persoalan hari ini di bentuk secara struktural, sehingga tidak bisa lagi digunakan solusi individual yang tidak menyentuh akar.

Pertama, Islam membangun benteng jiwa sejak dini melalui akidah. Keyakinan bahwa hidup adalah ujian, sabar dan syukur adalah kunci, serta bunuh diri adalah dosa besar yang diharamkan, menjadi penahan terkuat dari keputusasaan.

Kedua, Islam membangun ikatan sosial yang kuat berbasis akidah. Islam mewajibkan silaturahmi, memerintahkan tetangga saling peduli, dan mewajibkan umat saling menasihati. Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ
"Bukanlah mukmin orang yang kenyang sementara tetangganya lapar di sampingnya." (HR. Bukhari).

Dalam masyarakat Islam, tidak ada seorang pun yang dibiarkan menanggung beban hidupnya sendirian hingga merasa kesepian.

Ketiga, negara Khilafah berperan sebagai raa'in atau pengurus rakyat. Negara menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah yang melahirkan individu kokoh, dan sistem ekonomi Islam yang menjamin kebutuhan pokok setiap warga – sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan – sehingga tekanan hidup akibat kemiskinan sistemik dapat dicegah.

Sebagaimana diuraikan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Muqaddimah Dustur, Khilafah wajib menjamin terpeliharanya akidah umat dan menerapkan kurikulum pendidikan yang menjadikan akidah Islam sebagai asasnya. Dengan begitu, negara tidak hanya mencegah bunuh diri dengan hotline, tetapi mencabut akar keputusasaan itu sendiri.

Kasus RR dan FS bukan sekadar data, telah banyak kasus sebelumnya yang mengalami kejadian serupa. Mereka adalah potret kelam kegagalan negara sekuler-kapitalis dalam menjaga jiwa rakyatnya. Sudah saatnya kita berhenti memberikan solusi sementara, dan mulai memikirkan perubahan mendasar kembali kepada sistem yang benar-benar memanusiakan manusia: penerapan Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah.

Wallahu'alam bishshowwab.

---
Sumber:
https://www.kompas.id/artikel/diduga-berniat-bunuh-diri-mahasiswa-kedokteran-universitas-brawijaya-lompat-dari-lantai-6-kampus
https://www.kompas.id/artikel/membaca-pesan-dari-pria-yang-mengakhiri-hidup-di-gbk




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar