Oleh : Ai Dewi Mulyawati
Siapa yang belum kepincut sama drakor seru Teach You a Lesson? Ceritanya bener-bener bikin melek mata! Kisahnya ngikutin Na Hwa-jin yang diperankan Kim Mu-yeol, mantan kapten Pasukan Khusus yang akhirnya jadi komandan tim BPHP, lembaga khusus yang dibentuk pemerintah Korea Selatan buat beresin masalah perundungan yang udah parah banget di sekolah-sekolah.
Ceritanya dia gabung ke tim ini karena nggak terima tunangannya yang merupakan seorang guru, tewas dibunuh muridnya sendiri karena berusaha melawan kejahatan. Barengan sama dua temen kecenya, Im Han-rim yang diperankan aktris berbakat Jin Ki-joo, anggota pasukan khusus juga mantan anak buah Hwa-jin, dan satu lagi si jenius Bong Geun-dae, yang cerdas luar biasa, mereka bertiga bergerak total penumpas ketidakadilan dalam kasus perundungan di Sekolah.
Ketiganya turun langsung ke lapangan, bongkar kelompok perundungan, ungkap korupsi, dan bersihin sistem yang udah busuk. Mereka kasih "pelajaran" yang bener-bener bikin pelaku kapok, nggak main-main! Tapi perjalanan mereka nggak mulus, dihadang kritik, musuh politik, sampai ternyata kejahatan itu melibatkan orang-orang berkuasa. Akhirnya kebenaran terungkap, tapi mereka sadar, cara kekerasan itu tetap ada risikonya dan nggak selamanya benar.
Oh iya, drakor 10 episode ini nggak cuma bahas perundungan lho! Ada juga narkoba, perjudian, kenakalan remaja, sampai pola asuh yang salah. Dikemas seru penuh aksi, makanya langsung jadi favorit banyak orang di Netflix!
Kok Rasanya Cerita Ini Kayak Terjadi di Sekitar Kita? Bener banget, banyak banget kesamaannya sama kondisi di Indonesia sekarang.
1. Sistem yang Lemah, Semuanya Serba Diam
Banyak guru takut bertindak karena diancam orang tua, takut dilaporkan, atau nggak dapat dukungan atasan. Akhirnya kasus dibiarkan menumpuk sampai parah banget. Sama persis kayak di sini, baru heboh kalau udah ada korban yang terluka parah, atau bahkan sampai ada yang nekat mengakhiri hidup. Sekolah sering pilih tutup mulut demi nama baik, padahal keadilan itu jauh lebih penting.
2. Perundungan Itu Terstruktur, Bukan Cuma "Berantem Biasa"
Ada yang jadi penguasa, ada yang jadi anak buah, bahkan kadang ada oknum yang melindungi. Korban disiksa berkali-kali, direkam videonya terus disebar biar makin malu, terus dibungkam biar nggak bisa lapor. Ini sering banget kejadian di sekolah, asrama, sampai pesantren.
3. Korban Ngerasa Nggak Ada Tempat Mengadu
Banyak yang akhirnya diam aja, putus asa, sampai berpikir mengakhiri hidupnya sendiri karena yakin nggak ada yang bakal bela mereka. Ngerasa guru, sekolah, bahkan orang tua pun nggak akan memihak. Makanya kasus-kasus tragis makin sering kita dengar.
Candaan Berlebihan? Bukan! Itu Kekerasan!
Sayang banget, masih banyak yang anggap perundungan itu cuma "perkelahian anak sekolah" atau "canda yang agak kenceng". Padahal itu tindakan kekerasan yang disengaja, diulang-ulang, dan karena ada yang lebih kuat menindas yang lemah.
Sistem kita sering banget gagal di sini. Sekolah lebih mementingkan jaga nama baik daripada selesain masalah dengan adil dan bijak. Kasus banyak ditutup, pelaku cuma ditegur sedikit, selesai begitu aja. Padahal hati korban udah hancur lebur! Bahkan nggak sedikit yang trauma seumur hidupnya.
Banyak yang juga kecewa karena pelaku masih di bawah umur, jadi sering lolos dari hukuman. Kata-kata "masih di bawah umur", “masih kecil, nggak bisa dipenjarakan” malah jadi tameng buat mereka berbuat jahat. Padahal, umur nggak bisa jadi alasan buat nyakiti orang lain. Walaupun tergolong usia anak-anak, kalo perilakunya menyimpang bahkan sampai mencelakai dan merenggut nyawa orang lain, itu tetap harus ditindak!
Kita emang kagum sama ketegasan di drakor itu, bagaimana mereka berani bela korban dan kasih efek jera. Tapi inget! Keadilan itu bukan bales kekerasan dengan kekerasan! Keadilan sejati itu kalau sistem berjalan dengan tegas, adil, dan sesuai aturan yang berlaku, kayak di UU Perlindungan Anak.
Masalahnya, kadang aturan udah ada, tapi pelaku yang punya koneksi atau "bekingan" malah dilepasin gitu aja, ah capek, deh! Kasihan banget si korban, makin nggak percaya sama hukum di negara ini.
Solusi Terbaik Hanya Ada di Islam
Perundungan itu namanya menzalimi orang lain. Hukumnya haram, dosa besar, entah itu fisik, kata-kata, nyebar aib, atau ungkapan di medsos. Islam melarang keras dan kasih jalan keluar yang paling adil, tegas tapi tetap berkasih sayang, bukan dengan cara balas dendam!
Allah SWT. telah berfirman sebagai berikut,
QS. Al-Hujurat ayat 11:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَا بَزُوْا بِا لْاَ لْقَا بِ ۗ بِئْسَ الِا سْمُ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
QS. Al-Humazah ayat 1:
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ
“Celaka bagi orang yang suka mencela dan mengumpat orang lain.”
QS. Ali Imran ayat 103:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
Rasulullah Saw. pun bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang selamat sesama Muslim dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari).
“Saling menghina saudaramu adalah cukup sebagai kejahatan. Darah, harta, dan kehormatan sesama Muslim itu haram bagimu.” (HR. Muslim).
“Tolong saudaramu saat dia menzalimi atau dizalimi.” Sahabat bertanya: “Bagaimana jika dia menzalimi?” Beliau menjawab: “Cegah dia berbuat zalim itulah cara menolongnya.” (HR. Bukhari).
Islam nggak boleh ada yang nyakitin orang lain, sekalipun alasannya mau mendidik. Hukum dan tindakan harus lewat jalur yang benar. Kendatipun demikian Islam juga nggak buta mata! Dengan syariat Islam cepat bertindak dengan tegas, berpihak pada yang lemah, dan benerin sistem yang rusak.
Saatnya kita sadar, hukum buatan manusia itu bisa aja dibeli dan diubah-ubah, tapi Hukum Allah itu paling adil, nggak bisa diotak-atik sama siapa pun.
Apa yang Harus Kita Lakuin? Kita nggak bisa cuma nunggu orang lain bergerak, persoalan ini itu tanggung jawab kita semua!
✅ Buat Sekolah: Jangan takut! Kalau ada indikasi perundungan, langsung selidiki dan lindungi korban. Jangan tunggu sampai parah baru bergerak. Jangan pandang bulu! Siapapun yang melakukan kesalahan, tindak tegas!
✅ Buat Orang Tua: Didik anak dari kecil perkara adab, menghargai, dan menghormati. Ajarkan anak tentang berkasih sayang kepada sesama, hormat dan patuh kepada guru, juga terapkan perinsip bahwa apapun yang dilakukan pasti mendapatkan balasan dari Allah SWT. Jadi jangan sampai anak menyakiti orang lain. Contohkan perilaku seperti yang diajarkan Rasulullah Saw.
✅ Buat Kita Semua: Jangan jadi penonton yang diam! Lakukan amar ma'ruf nahi munkar sesuai dengan ajaran Islam. Kalau lihat ketidakadilan, jangan diem aja! Suarakan kebenaran, bantu yang lemah. Sekecil apapun kepedulian kita, akan menjadi hujjah di akhirat kelak. Dan jangan lupa! Allah pasti mempertanyakan “diam”nya kita ketika kezaliman terjadi di depan mata.
Perundungan nggak bakal hilang kalau kita cuma diam aja. Jangan biarkan masa depan anak-anak hancur cuma karena kita nggak peduli. Mari berhenti tutup mata, bangun lingkungan yang aman, adil, dan penuh kasih sayang. Jadikan Rasulullah Saw. sebagai teladan hidup kita, dan jalani hidup sesuai sunnahnya.
Terus berusaha untuk menerapkan Islam secara kaffah, sebab hanya dengan penerapan syariat yang sempurna kita akan merasakan rahmatan lil alamin.
Wallahu’alam bishshawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar