Oleh: Eka Sulistya (Aktivis Muslimah)
Di tengah kemajuan zaman yang begitu pesat, manusia berhasil menciptakan berbagai teknologi yang dahulu hanya menjadi angan-angan. Kecerdasan buatan, kendaraan tanpa pengemudi, hingga penjelajahan luar angkasa menjadi bukti betapa luar biasanya kemampuan akal manusia. Namun, di balik semua pencapaian itu, ada satu ironi yang tidak bisa diabaikan. Banyak orang mampu menjelaskan bagaimana dunia bekerja, tetapi tidak mampu menjawab mengapa dirinya hidup.
Pertanyaan sederhana seperti, "Dari mana aku berasal?", "Untuk apa aku hidup?", dan "Ke mana aku akan pergi setelah mati?" justru menjadi pertanyaan yang paling sering dihindari. Padahal, tiga pertanyaan inilah yang sesungguhnya menentukan arah kehidupan seseorang.
Akibatnya, tidak sedikit manusia menjalani hidup hanya mengikuti arus. Masa kecil dihabiskan untuk belajar, masa muda bekerja tanpa henti mengejar materi, kemudian memasuki usia tua dengan tubuh yang semakin lemah hingga akhirnya meninggal dunia. Rutinitas ini terus berulang dari generasi ke generasi, seolah kehidupan hanyalah siklus biologis yang berakhir tanpa makna.
Padahal, akal sehat menolak anggapan bahwa alam semesta yang begitu teratur, kehidupan yang begitu kompleks, dan manusia yang memiliki kemampuan berpikir diciptakan tanpa tujuan. Setiap ciptaan pasti memiliki pencipta, dan setiap penciptaan pasti memiliki maksud. Tidak mungkin manusia hadir di dunia ini hanya untuk makan, tidur, bekerja, lalu mati.
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa akar kegelisahan manusia sesungguhnya berawal dari tidak terjawabnya tiga pertanyaan mendasar tersebut. Selama seseorang belum mengetahui dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali, selama itu pula hidupnya akan dipenuhi kebingungan. Ia mungkin tampak sukses di mata manusia, tetapi batinnya tetap merasa kosong karena kehilangan arah.
Islam memberikan jawaban yang tegas, sederhana, sekaligus memuaskan akal. Manusia berasal dari Allah SWT sebagai Sang Pencipta. Kehidupan di dunia bukanlah kebetulan, melainkan ujian yang telah ditetapkan-Nya. Setiap manusia diberi amanah untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan seluruh aturan-Nya. Setelah kehidupan ini berakhir, setiap amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah pada hari kiamat.
Jawaban inilah yang menjadi pondasi cara berpikir seorang muslim. Ketika seseorang memahami bahwa dirinya adalah hamba Allah, maka ukuran benar dan salah tidak lagi ditentukan oleh hawa nafsu, tren, ataupun pendapat mayoritas. Standarnya adalah wahyu Allah. Begitu pula tujuan hidupnya tidak lagi sekadar mengejar kenikmatan dunia, tetapi mencari ridha Allah dan keselamatan di akhirat.
Sayangnya, kehidupan modern sering kali menggiring manusia untuk melupakan hakikat tersebut. Kesuksesan diukur dari jabatan, kekayaan, popularitas, dan pencapaian materi. Sementara keberhasilan menjadi hamba Allah justru dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak terlalu penting. Akibatnya, banyak orang yang terlihat bahagia di luar, tetapi merasa hampa di dalam. Mereka memiliki segala sesuatu, namun kehilangan ketenangan.
Islam tidak melarang manusia bekerja, menuntut ilmu, membangun peradaban, ataupun meraih kemajuan teknologi. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya menjadi manusia yang produktif dan bermanfaat. Namun semua aktivitas itu harus berada dalam bingkai penghambaan kepada Allah. Sebab, ilmu tanpa iman dapat melahirkan kesombongan. Kekuasaan tanpa ketakwaan dapat melahirkan kezaliman. Kekayaan tanpa syariat dapat melahirkan kerakusan.
Karena itu, memahami tiga pertanyaan mendasar bukan sekadar pembahasan filsafat atau renungan sesaat. Ia merupakan kebutuhan setiap manusia. Dari jawaban atas pertanyaan itu lahirlah keberanian untuk menentukan pilihan hidup, keteguhan dalam menghadapi ujian, serta keikhlasan dalam beramal. Orang yang mengetahui tujuan hidupnya tidak akan mudah goyah oleh perubahan zaman, tidak mudah putus asa ketika gagal, dan tidak mudah sombong ketika berhasil.
Setiap hari yang berlalu sesungguhnya sedang membawa kita semakin dekat kepada kematian. Cepat atau lambat, semua manusia akan meninggalkan dunia ini tanpa membawa harta, jabatan, ataupun kemasyhuran. Yang akan menyertai hanyalah amal yang telah dilakukan selama hidup.
Maka, sebelum waktu itu tiba, sudah sepatutnya setiap orang berhenti sejenak dari kesibukannya untuk bertanya kepada dirinya sendiri. Dari mana aku berasal? Untuk apa aku hidup? Dan ke mana aku akan kembali?
Jika tiga pertanyaan itu dijawab dengan benar berdasarkan petunjuk Allah, maka seluruh perjalanan hidup akan memiliki arah yang jelas. Sebab manusia tidak lagi hidup sekadar untuk menghabiskan usia, tetapi untuk menunaikan amanah sebagai hamba Allah, memperjuangkan kebenaran, dan mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Itulah hakikat kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang bukan hanya bermakna di dunia, tetapi juga membawa keselamatan hingga ke hadapan Allah SWT.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar