Gaza: Lesung Pipi yang Tak Lagi Menemukan Jalan Pulang


Oleh: Nurmalasari (Aktivis Muslimah Purwakarta)

Gelak tawa, senyuman manis serta sorot mata yang selalu memancarkan kebahagian yang dulu menghiasi anak-anak Gaza. Kini, hanya menyisakan trauma, duka, ketakutan dan harapan yang memudar sehingga lesung pipi itu telah hilang di wajah anak-anak Gaza. Batin mereka terluka, terkikis tanpa suara, hancur tanpa aba-aba seiring hancurnya tempat tinggal dan kota mereka akibat serangan Zionis Israel.

Di Gaza, perang tidak hanya menghancurkan bangunan, rumah sakit, sekolah, dan kamp pengungsian, tetapi juga masa depan bangsa yang berada di tangan anak-anak. Laporan terbaru Komisi Penyelidikan Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa, Selasa (23/6/2026), menyebutkan, otoritas dan tentara Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina selama perang yang terjadi sejak serangan Hamas ke Israel, 7 Oktober 2023. (Kompas.id, 25/06/2026) 

UNICEF melaporkan bahwa rata-rata satu anak Palestina dibunuh pasukan Israel setiap hari di Gaza selama lebih dari delapan bulan terakhir, sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025. Juru bicara UNICEF James Elder menyatakan, pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 265 anak-anak di Gaza sejak gencatan senjata diumumkan. Ia menyebut situasi gencatan senjata tersebut sebagai sebuah "ilusi yang kejam dan mematikan". (CNN Indonesia, 20-06-2026) 

Penderitaan Gaza tidak pernah berhenti tetapi dunia seolah bungkam, tutup mata dan telinga atas penderitaan rakyat Gaza. Kekuatan Zionis yang terus berkembang pesat dengan intensnya terus memberikan serangan untuk membunuh dan menghancurkan Gaza. Terutama menyerang anak-anak Gaza, tidak hanya fisiknya tetapi juga mentalnya. 

Entitas Zionis sengaja juga berupaya menghancurkan psikologis penduduk setempat seta menargetkan anak-anak dalam serangan mereka. Setiap kali Gaza melancarkan aksinya dengan brutal selalu ada luka besar yang kembali menganga. Anak-anak Gaza berlari ketakutan, bangunan runtuh menjadi abu serta jerit penduduk Gaza memenuhi langit malam. Anak-anak yang tak bersalah menanggung trauma yang begitu dalam hingga kehilangan kemampuan berbicara. Luka yag bertumpuk akan terus membekas hingga mereka dewasa.

Dunia hanya berani mengecam, mengutuk, dan beretorika. Memberikan aksi nyata hanya dengan sedikit bantuan kemanusiaan, mengirimkan dokter hanya untuk mengobati luka fisik dan psikoterapis untuk mengobati jiwa. Tetapi hal ini bukan solusi hakiki yang bisa mengurangi penderitaan anak-anak Gaza. Dan juga bukan solusi untuk menghentikan kekejaman entitas Zionis terhadap Palestina. 
 
Semenjak umat muslim kehilangan arah dan pelindungnya, yaitu sejak kekhilafahan Utsmaniyah runtuh. Negeri-negeri muslim pun menjadi tidak satu suara, negeri muslim tidak dapat diharapkan bantuannya seperti mengirimkan pasukan untuk melawan tentara Zionis Israel. Para penguasa muslim dunia justru berkhianat terhadap perjuangan muslim Palestina. Negeri-negeri muslim masih mementingkan keselamatan negaranya, mereka takut kehilangan kekuasaan jika membela saudaranya sesama muslim di Palestina. Karena itu penguasa negeri muslim memilih tunduk kepada penguasa adidaya, Amerika. 

Lemahnya negara-negara muslim untuk bersatu mengakibatkan Zionis Israel sebagai sumber kerusakan tidak pernah disanksi tegas, sebaliknya mereka justru mendapat suaka dari negara adidaya yang notabene semakin menguatkan posisi Zionis Israel.

Penderitaan anak-anak Gaza semakin parah dan memberikan taruma mendalam apabila tidak segera di tangani dengan solusi yang hakiki. Akan tetapi selama masih ada entitas Zionis, serangan demi serangan akan terus dialami oleh anak-anak Gaza. Masa depan anak-anak Gaza diambang kematian sungguh menyedihkan. 

Membebaskan Palestina dari cengkraman Zionis tidak hanya dengan mengecam, mengutuk, beretorika serta mendatangkan bantuan kemanusiaan saja. Akan tetapi rakyat Palestina membutuhkan negara-negara muslim bersatu. Dibutuhkan tindakan tegas dengan mengangkat senjata, jihad fi sabillah mengusir Zionis Israel dari tanah Palestina.

Sehingga Palestina mendapatkan kekuatan, kedamaian, kenyamanan untuk memulihkan mentalnya, menyembuhkan traumanya dan mencapai segala yang sudah di cita-citakan untuk menata kehidupannya kembali. Setelah mengalami guncangan mental, kehancuran, kebrutalan serangan Zionis Israel, yang telah lama menjajah. 

Oleh karena itu, dibutuhkan adanya kesadaran dan perjuangan bersama terhadap urgensi tegaknya negara Islam kembali. Satu-satunya institusi yang mampu membela dan menjaga darah kaum muslimin adalah hanya dengan sistem Islam. Sistem yang paripurna yang mampu menghentikan segala bentuk penjajahan tanpa harus menunggu korban berjatuhan terutama anak-anak. 

Dengan komando dibawah naungan negara Islam maka akan menyatukan negeri-negeri muslim. Menghimpun seluruh potensinya dan mempersatukan kekuatan militernya untuk jihad fisabilillah membebaskan Palestina. 

Maka sudah saatnya umat bangkit dan berpikir cemerlang dan mendalam untuk segera bisa mendirikan sistem Islam secara kaffah, karena hanya dengan sistem Islamlah yang bisa membebaskan trauma anak-anak Palestina serta mewujudkan kedamaian dunia. 

Wallahualam




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar