Pembunuhan Terus Berlanjut di Gaza, Zionis Lakukan Gencatan Senjata Palsu


Oleh : Nikmatus Sa’adah

Gencatan senjata atau kesepakatan antar pihak yang berkonflik untuk menghentikan pertempuran dalam jangka waktu tertentu, merupakan angin segar untuk warga gaza hidup dengan damai. Namun nyatanya ditengah gencatan senjata yang dimediasi AS pada Oktober 2025, Israel tetap melakukan serangan terhadap warga gaza. Korban yang tewas akibat serangan Israel ditengah gencatan senjata ini mencapai 1.000 jiwa (Aljazeera.com 29/6/2026).

Komisi Penyelidik PBB melaporkan bahwa Israel sengaja menargetkan anak-anak Palestina untuk dihancurkan masa depannya dengan dibunuh, dihancurkan fisik dan mentalnya (bbc.com 29/6/2026). Ahli hukum asal India Srinivasan Muralidhar juga menegaskan bahwa “setelah gencatan senjata Oktober 2025, anak-anak gaza terus terbunuh dan terluka parah, dengan terus diabaikannya gencatan senjata oleh Israel serta perlindungan yang seharusnya diberikan kepada anak-anak Palestina berdasarkan hukum Internasional” (bbc.com 29/6/2026).  

Kondisi ini semakin menyakinkan bahwa Israel sesungguhnya tidak akan pernah berhenti untuk menghancurkan Palestina, bahkan di waktu gencatan senjata pun mereka terus menyerang Palestina dengan berbagai alasan. Sementara itu, Amerika Serikat yang memediasi gencatan senjata juga diam saja dengan peristiwa ini. Karena sesungguhnya AS adalah sekutu setia dari Israel. Maka AS akan terus mendukung Israel dengan berbagai macam dukungan seperti militer, politik dan diplomatik. 


Gencatan Senjata Palsu  

Gencatan senjata yang disepakati untuk perdamaian kepada Palestina sesungguhnya tidak pernah benar-benar menciptakan perdamaian, melainkan strategi meredam opini dunia sambil membiarkan zionis terus membunuh secara terukur. Karena pada faktanya gencatan senjata yang senantiasa digaungkan itu tidak pernah benar-benar bersih dari korban yang kehilangan nyawa. Israel senantiasa melakukan pelanggaran operasi militer secara berulang di berbagai wilayah Gaza. 

Respon dunia internasional terhadap kondisi ini nyatanya juga belum mampu menghentikan kekerasan secara efektif. Hal ini menjadi bukti bahwa dunia Internasional telah gagal dalam menjamin perlindungan bagi masyarakat gaza. Negara-negara Islam juga tutup mata dengan keadaan ini. Mereka tidak bisa mengambil langkah tegas untuk menghentikan kebohongan Israel dalam gencatan senjata ini. 

Sementara itu, berharap solusi dari negara pendukung Israel adalah sebuah kebodohan. Amerika Serikat jelas adalah negara yang menjadi tokoh utama dalam peperangan ini. Maka mengadalkan negara penjajah untuk meredam urusan umat Islam adalah kesalahan fatal dan bagain dari langkah melanggengkan penjajahan. 

Maka sesungguhnya akar dari permasalahan ini bukanlah pelanggaran gencata senjata yang terus diulangi oleh Israel, melainkan hilangnya pelindung umat Islam secara menyeluruh. Umat islam yang harusnya bersatu dengan satu komado dari Khalifah, hari ini tidak ada. Ketiadaan Khalifah inilah yang mengakibatkan umat tidak bisa bersatu dan tidak bisa menolong Palestina. Sekat-sekat nasionalisme negara islam hari ini juga yang mengakibatkan umat Islam lemah dan tidak berdaya mengahdapi Amerika Serikat. 


Jihad adalah Solusi 

Dari peristiwa ini, dapat dilihat bahwa kondisi kaum muslimin hari ini lemah dan memiliki ketakutan terhadap AS untuk melawan mereka. Padahal sesungguhnya jika kaum Muslimin seluruh dunia bersatu maka sudah pasti akan menang. Maka sesungguhnya solusi atas permaslahan Palestina tidaklah cukup dengan gencatan senjata atau berharap pertolongan dari negara kafir. Satu-satunya Solusi adalah dengan bersatunya kaum muslimin dengan satu kepemimpinan dan mengerahkan kaum muslimin untuk melawan Israel dengan jihad fi sabilillah. Oleh karena itu, hadirnya pemimpin kaum muslimin hari ini adalah hal yang urgent untuk melindungi umat dari penjanjahan, perampasan, dan penindasan yang mengakibatkan umat kehilangan tanah mereka. Wallahu’alam




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar