KETAHANAN KELUARGA DAKWAH DI TENGAH TEKANAN EKONOMI GLOBAL


Oleh: Tini Wartini, S.Pd.

Keluarga merupakan institusi terkecil dalam masyarakat sekaligus fondasi utama bagi keberlangsungan peradaban. Dalam Islam, keluarga tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemenuhan kebutuhan biologis dan emosional, tetapi juga sebagai sarana pembinaan akidah, pembentukan kepribadian Islam, serta kaderisasi generasi penerus umat. Oleh karena itu, kokohnya sebuah keluarga akan sangat menentukan kokohnya masyarakat dan keberlangsungan dakwah Islam di tengah umat.

Tekanan ekonomi global berdampak langsung pada kehidupan rumah tangga . Kenaikan harga pangan, energy dan berbagai kebutuhan pokok menyebabkan biaya hidup meningkat, sementara daya beli masyarakat cenderung melemah. Dalam kondisi seperti ini, banyak keluarga yang harus melakukan penyesuaian terhadap pola konsumsi dan pengelolaan keuangan agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi.

Di sisi lain, ketidakpastian global akibat konflik geopolitik mendorong perubahan perilaku investor internasional. Dalam situasi kondisi risiko yang tinggi, investor cenderung memindahkan dana dari negara-negara berkembang ke instrument yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. 

Berbanding terbalik dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mengalami tekanan dan mencapai titik terlemah terbarunya. Pada hari selasa (9-6-2026), kurs dolar tercatat menyentuh level Rp18.209. Namun, berbagai pernyataan pejabat public dalam merespons kondisi tersebut menuai kritik karena dinilai kurang mencerminkan kesulitan yang dirasakan oleh sebagian masyarakat. Bahkan, sekelas presiden pun dengan santainya mengatakan bahwa mereka yang tinggal di pelosok tidak terganggu dengan kenaikan dolar terhadap rupiah. Alasan klisenya, rakyat di pedesaan tidak menggunakan dolar dalam bertransaksi.

Padahal, dampak kenaikan kebutuhan akibat kenaikan dolar tidak memandang seseorang domisilinya di mana. Jika pemerintah mau sedikit saja peka, dari rantai distribusi pasokan kebutuhan pokok, makin panjang rantai distribusi makin naik pula biaya yang dikeluarkan rakyat. Di pelosok, beberapa kebutuhan justru naik akibat jalur distribusi yang lebih panjang.

Sebaliknya, perlambatan ekonomi di perkotaan juga menciptakan efek domino terhadap desa. Saat masyarakat kota mulai menahan belanja, permintaan hasil pertanian maupun produk UMKM desa ikut menurun. Jadi, mana buktinya bahwa masyarakat pelosok yang tidak terdampak kenaikan dolar?

Miris, ketidakpekaan pemerintah terhadap realitas kondisi masyarakat, berujung pada kekeliruan penyelesaian masalah ekonomi ini. Selain mengeluarkan pernyataan blunder yang minim solusi, hingga saat ini pemerintah belum tampak mengambil langkah-langkah strategis di tengah naiknya harga-harga kebutuhan pokok.   

Ditambah, penurunan daya beli yang terus-menerus akan memengaruhi harga jual barang sehingga secara langsung berdampak pada pendapatan pelaku usaha. Perusahaan pun terpaksa melakukan efisiensi guna menjaga stabilitas bisnis, salah satunya dengan mengurangi jumlah karyawan. Kondisi ini menciptakan siklus pesimisme yang bisa berdampak lebih luas dan merusak struktur ekonomi.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga dakwah. Selain harus menjaga keberlangsungan kehidupan rumah tangga, keluarga dakwah juga memikul amanah pembinaan generasi, pelayanan umat, dan aktivitas dakwah yang tidak boleh berhenti meskipun tekanan ekonomi semakin berat.

Perekonomian dunia saat ini menghadapi berbagai tekanan yang saling berkaitan, mulai dari konflik geopolitik, ketidakstabilan pasar energi, inflasi global, hingga pelemahan mata uang di berbagai negara berkembang. Kondisi tersebut memengaruhi harga kebutuhan pokok, biaya produksi, serta tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum. Pada tingkat makro, berbagai indikator ekonomi mungkin masih menunjukkan stabilitas tertentu. Namun pada tingkat rumah tangga, banyak keluarga merasakan meningkatnya biaya hidup yang harus ditanggung setiap hari.

Masyarakat pada akhirnya menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problem tersebut. Bahkan, kebijakan yang dibuat makin memperburuk keadaan. Melemahnya rupiah terhadap dolar tidak hanya berdampak pada naiknya harga bahan pokok tetapi juga membuat jumlah utang makin melambung.

Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat masih sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi yang lebih luas. Harga pangan, energi, pupuk, dan berbagai kebutuhan lainnya dapat berubah mengikuti perkembangan pasar global dan kondisi ekonomi nasional. Akibatnya, banyak keluarga harus mengalokasikan pengeluaran yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan yang sama. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi kemampuan menabung, mempersempit ruang investasi keluarga, dan meningkatkan kerentanan ekonomi rumah tangga.

Tekanan ekonomi yang berlangsung terus-menerus berpotensi memengaruhi ketenangan rumah tangga. Ketidakpastian pendapatan, meningkatnya kebutuhan hidup, dan kekhawatiran terhadap masa depan dapat menimbulkan stres serta ketegangan dalam keluarga.

Apabila tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut dapat memengaruhi kualitas komunikasi keluarga, pola pengasuhan anak, bahkan keharmonisan rumah tangga. Oleh sebab itu, resesi ekonomi tidak hanya menjadi persoalan finansial, tetapi juga persoalan sosial dan kemanusiaan yang memengaruhi ketahanan keluarga secara menyeluruh.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, keluarga dakwah dituntut memiliki ketahan yang lebih kuat. Selain menghadapi persoalan ekonomi sebagaimana keluarga pada umumnya, keluarga dakwah juga memikul tanggung jawab pembinaan generasi dan aktivitas dakwah yang harus tetap berjalan. Karena itu, diperlukan fondasi yang kokoh agar keluarga tetap mampu menjalankan perannya di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Keluarga dakwah adalah keluarga yang menjadikan Islam sebagai landasan dalam seluruh aspek kehidupannya. Tujuan keluarga tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan duniawi, tetapi juga pada upaya meraih ridha Allah SWT melalui pembinaan iman, pendidikan generasi, serta keterlibatan dalam aktivitas dakwah dan pelayanan umat. Rumah tangga bagi keluarga dakwah bukan hanya tempat tinggal, melainkan pusat pembinaan, pusat pendidikan, dan basis perjuangan yang melahirkan kontribusi bagi masyarakat.

Resesi ekonomi yang berkepanjangan dapat memengaruhi stabilitas keluarga dakwah. Kekhawatiran terhadap kebutuhan hidup, pendidikan anak, dan masa depan keluarga berpotensi menimbulkan konflik apabila tidak dihadapi dengan kesabaran dan pengelolaan yang baik. Bagi keluarga dakwah, melemahnya ketahanan keluarga tidak hanya berdampak pada anggota keluarga itu sendiri, tetapi juga dapat mengurangi kapasitas dakwah dan kontribusi mereka kepada masyarakat. Oleh karena itu, menjaga ketahanan keluarga merupakan bagian penting dari menjaga keberlangsungan dakwah.

Dengan banyaknya berbagai tantangan yang dihadapi keluarga dakwah, diperlukan langkah-langkah yang dapat memperkuat ketahanan keluarga agar tetap mampu menjalankan fungsi dakwah di tengah tekanan ekonomi.


Memperkuat Pondasi Akidah dan Tawakal

Ketahanan keluarga dakwah harus diawali dengan keyakinan yang kokoh bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Memberi Rezeki. Keyakinan tersebut melahirkan ketenangan, optimisme, dan kekuatan mental dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup. Allah SWT berfirman: "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS. At-Talaq: 2–3)

Tawakal bukan berarti pasif, melainkan menggabungkan keyakinan kepada Allah dengan ikhtiar yang maksimal.


Menjaga Semangat Dakwah dan Pengabdian

Krisis ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan dakwah. Justru dalam masa-masa sulit, keluarga dakwah perlu memperkuat hubungan dengan Allah SWT, mempererat ukhuwah, dan meningkatkan kontribusi kepada masyarakat. Allah SWT berfirman: "Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)


Pengelolaan Keuangan yang Bijak

Keluarga dakwah perlu menerapkan pola hidup sederhana, menghindari pemborosan, membuat perencanaan keuangan, serta memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan kebutuhan konsumtif. Dana darurat, pencatatan keuangan, dan penghindaran utang yang tidak mendesak merupakan langkah penting untuk menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.


Kemandirian Pangan dan Produktivitas Keluarga

Bagi keluarga yang tinggal di wilayah perkampungan, pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan dapur atau memelihara ternak dan ikan skala kecil dapat membantu mengurangi beban pengeluaran keluarga.

Langkah sederhana ini dapat menjadi bentuk ketahanan pangan keluarga yang efektif dalam menghadapi fluktuasi harga pasar. Namun hal tersebut akan cukup memadai jika negara berperan dalam mengurusi urusan rakyatnya. Penguasa Islam (khalifah) akan menerapkan politik ekonomi Islam untuk mengatur pemenuhan seluruh kebutuhan rakyat, terutama kebutuhan primer berupa sandang, pangan, dan papan. Sebagai kunci pemenuhan kebutuhan pangan, pertanian akan dikelola tanpa berbasis impor. 

Islam memandang bahwa yang terjadi dalam sistem ekonomi kapitalisme ini membutuhkan koreksi total. Salah satunya dari aspek mata uang yang digunakan. Jika mata uang dalam kapitalisme menerapkan prinsip ribawi, rawan spekulasi, dan berbasis pada ekonomi nonriil, Islam memandang bahwa permasalahan krisis ekonomi dapat diatasi dengan menata kembali sektor riil. Dengan sistem ini pelaku pasar rakyat cakupannya lebih luas, dengan barang dan jasa yang nyata.

Selain memberlakukan mata uang berbasis dinar dirham, negara juga berperan dalam menjaga stabilitas harga-harga dengan mekanisme tertentu yang ditetapkan syariat, seperti larangan riba, jaminan distribusi, pengaturan kepemilikan, dll. Penyelenggaraan transaksi ekonomi dalam Islam tegak atas landasan keimanan.

Oleh karena itu, setiap individu akan melakukan aktivitas ekonomi atas dasar ibadah. Transaksi ekonomi terbangun bukan tentang materi tetapi karena ridha Allah semata. Dengan landasan ini, tindakan ekonomi yang menghalalkan segala cara praktis ditiadakan. Hal ini akan menciptakan iklim ekonomi yang lebih manusiawi, jauh dari eksploitasi. Khilafah akan mengupayakan berbagai kebijakan sehingga kemaslahatan publik terpelihara dengan baik. Wallahu a’lam bish shawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar