Oleh: Suprihatin, Amd. Kep.
Gen-Z dianggap memiliki kecakapan kreativitas, kecerdasan dan adaptasi global yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya. (Kompasiana, 12 Juni 2024), tapi disisi lain mereka menjadi fokus penelitian Jonathan Haidt dalam bukunya "The Anxious Generation", membedah tentang generasi muda (Gen-Z) yang cenderung mengalami kecemasan. (Kompasiana, 6 Mei 2026).
Prevalensi depresi di Indonesia saat ini paling banyak ditemui pada kelompok anak muda usia 15-24 tahun. Bahkan, menurut data SKI 2023, jumlah anak muda yang mengalami depresi di rentang usia tersebut adalah yang tertinggi. 61 % anak muda di Indonesia Depresi, bahkan sempat punya fikiran akan mengakhiri hidupnya. (detikHealth, 12 Juni 2024)
Fenomena ini memunculkan dua wajah yang kontras: ada yang menjadi "generasi emas" produktif, berakhlak, dan visioner. Namun tidak sedikit pula yang terjebak sebagai "generasi cemas", yakni generasi yang dibebani kecemasan, krisis identitas, dan kehilangan arah hidup.
Hal ini bisa kita lihat dari perspektif Islam kaffah, yakni cara beragama yang menyeluruh, mencakup akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah sebagai satu kesatuan yang utuh. Generasi muda saat ini menghadapi tingkat kecemasan dan tekanan mental yang tinggi, dipicu oleh tekanan media sosial, budaya membandingkan diri (comparison culture), ketidakpastian ekonomi, dan krisis makna hidup.
Dalam pandangan Islam, akar dari kegelisahan jiwa ini sering kali bukan semata faktor eksternal, melainkan kekosongan spiritual yakni jauhnya hati dari mengingat Allah.
Al-Qur'an menegaskan bahwa hati menjadi tenang hanya dengan mengingat Allah (QS. Ar-Ra'd: 28), sehingga ketika manusia mencari ketenangan dari sumber-sumber duniawi semata, validasi sosial, harta, popularitas. Maka kecemasan justru semakin menjadi-jadi.
Islam kaffah bukan sekadar slogan, melainkan konsep menyeluruh yang menempatkan iman sebagai fondasi, ibadah sebagai sarana ketenangan, akhlak sebagai buah, dan kontribusi sosial sebagai tujuan akhir.
Generasi emas dalam perspektif Islam kaffah dicirikan oleh:
1. Kekuatan Akidah
Keyakinan yang kokoh terhadap sang pemberi kehidupan sehingga tidak mudah goyah oleh tren atau opini yang berubah-ubah.
2. Kedisiplinan Ibadah
Shalat, dzikir, dan taat terhadap syariat menjadi mekanisme regulasi emosi yang telah terbukti efektif menenangkan jiwa.
3. Akhlak dan Adab
Kejujuran, kesabaran, dan kepedulian sosial yang menjadi penangkal budaya individualisme dan kompetisi yang toksik.
4. Produktivitas dan ilmu
Semangat menuntut ilmu dan berkarya sebagai bentuk ibadah, bukan sekadar mengejar validasi.
"Generasi emas vs generasi cemas" perlu dipahami secara hati-hati agar tidak menjadi generalisasi yang menghakimi anak muda yang memang berjuang dengan masalah kesehatan mental nyata. Islam tidak mengajarkan untuk meremehkan kecemasan sebagai sekadar "kurang iman", karena ada faktor biologis, sosial, dan lingkungan dan sistem yang juga berperan.
Perspektif Islam kaffah menawarkan kerangka holistik: bukan memisahkan agama dari kehidupan, melainkan menyatukan keduanya sebagai jalan menuju ketenangan dan produktivitas. Menjadi generasi emas bukan berarti generasi yang tidak pernah cemas, melainkan generasi yang memiliki fondasi spiritual kuat untuk mengelola kecemasan tersebut secara sehat dan bermakna.
Allahu a'lam bishawwab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar