KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ٢٧ (اَلْأَنْفَالُ)
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di bulan mulia, Muharram. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Tirmidzi).
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah adanya pekerjaan yang halal untuk menafkahi keluarga. Namun hari-hari ini, tidak sedikit saudara-saudara kita yang harus menghadapi ujian kehilangan pekerjaan akibat gelombang PHK. Ujian ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut ketenangan rumah tangga dan masa depan keluarga.
Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sepanjang JanuariNovember 2025 hampir 80 ribu pekerja terkena PHK. Sementara itu, pada JanuariMei 2026 sudah lebih dari 23 ribu pekerja kehilangan pekerjaan di 34 provinsi, dengan Jawa Barat menjadi yang tertinggi, yakni sekitar 5.044 orang (Kompas.com, 26 Juni 2026). Padahal, jumlah pengangguran di Indonesia telah mencapai sekitar 7,24 juta orang (BPS, Mei 2026). Pemerintah memang mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menyerap 1,4 juta tenaga kerja dan telah membentuk Satgas Penanganan PHK serta menyiapkan berbagai langkah perlindungan bagi pekerja. Namun, upaya tersebut belum menjawab kenyataan bahwa jutaan orang masih menganggur, sehingga muncul pertanyaan: apakah kebijakan-kebijakan ini benar-benar menyelesaikan akar persoalan PHK, atau hanya meredam dampaknya untuk sementara?
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam mengajarkan kita untuk mencari akar persoalan, bukan sekadar mengatasi dampaknya. Maraknya PHK dan tingginya pengangguran berakar pada sistem ekonomi kapitalisme, yang menjadikan negara hanya sebagai regulator, sementara sektor-sektor strategis dikuasai pemilik modal. Akibatnya, ketika investor menutup atau memindahkan usahanya, negara tidak memiliki kendali yang cukup untuk mencegah PHK massal.
Selain itu, banyak sumber daya alam yang menjadi milik rakyat (seperti minyak, gas, batubara, nikel, emas, tembaga, timah, bauksit, hasil laut, hutan, serta kekayaan alam lainnya dalam jumlah yang luar biasa) justru dikelola pihak swasta/asing. Dampaknya, penerimaan negara dari SDA dalam APBN 2025 hanya sekitar Rp290,08 triliun, jauh di bawah penerimaan pajak yang mencapai Rp2.387,2 triliun. Akibatnya, ruang fiskal negara terbatas dan sulit membuka lapangan kerja serta menjamin kesejahteraan rakyat, sementara ketergantungan pada pajak terus meningkat.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam bukan hanya mengajarkan kita untuk mengidentifikasi akar persoalan, tetapi juga memberikan solusi yang nyata. Dalam Islam, pemerintah adalah râ'in (pengurus rakyat), sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus" (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, negara tidak boleh membiarkan rakyat terjerat kemiskinan, pengangguran, dan kesulitan ekonomi. Hal ini juga tampak dalam kisah seorang laki-laki yang meminta bantuan kepada Rasulullah ﷺ. Beliau tidak sekadar memberinya makanan, tetapi membantunya memiliki kapak agar dapat bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri (HR. Abu Dawud). Hadits ini menunjukkan bahwa negara wajib membantu rakyat agar mampu bekerja, bukan membiarkan mereka hidup dalam ketergantungan. Karena itu Islam menetapkan:
Pertama, negara wajib membuka lapangan kerja seluas-luasnya melalui pembangunan industri manufaktur dan industri hilir sehingga kekayaan alam diolah menjadi produk bernilai tinggi yang mampu menyerap jutaan tenaga kerja.
Kedua, sumber daya alam yang menjadi milik umum haram diserahkan kepada swasta atau asing, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:
المُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ فِيْ ثَلَاثٍ فِي المَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ، وَثَمَنُهُ حَرَامٌ
”Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api. Dan harganya adalah haram” (HR. Ibnu Majah). Keuntungan pengelolaannya wajib dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat.
Ketiga, negara wajib meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang bermutu agar tenaga kerja memiliki kemampuan dan daya saing yang tinggi.
Keempat, negara wajib memberikan perhatian besar pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan melalui dukungan sarana produksi sehingga mampu menciptakan banyak lapangan kerja.
Kelima, negara tidak boleh membiarkan kekayaan hanya beredar di kalangan orang kaya, sebagaimana firman Allah SWT:
كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْ
"Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian" (QS. Al-Hasyr [59]: 7).
Keenam, negara wajib melarang penimbunan harta, sesuai firman Allah SWT:
وَالَّذِيْنَ يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُوْنَهَا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ
"Orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka azab yang pedih" (QS. At-Taubah [9]: 34), agar harta terus berputar dalam kegiatan ekonomi yang produktif.
Ketujuh, bagi keluarga yang terdampak PHK, negara wajib menjamin kebutuhan pokok mereka hingga pencari nafkah kembali memperoleh pekerjaan. Dengan demikian, persoalan PHK dan pengangguran tidak cukup diselesaikan melalui satgas, bantuan sementara, atau perubahan regulasi ketenagakerjaan semata. Islam menawarkan solusi yang menyeluruh melalui penerapan syariat secara kaffah, sehingga negara benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pengurus rakyat dan mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Pada akhirnya keberhasilan sebuah sistem ekonomi bukan diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi dari sejauh mana rakyat dapat bekerja, hidup layak, dan merasakan keadilan. Untuk mewujudkan hal itu diperlukan peran negara yang mengatur kehidupan dengan syariah Islam. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Mawardi:
الإِمَامَةُ مَوْضُوْعَةٌ لِخِلاَفَةِ النُّبُوَّةِ فِيْ حَرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا
"Imamah (Khilafah) ditetapkan sebagai pengganti tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia." Karena itu, agama dan kekuasaan tidak boleh dipisahkan. Imam al-Ghazali menegaskan:
الدِّيْنُ وَالسُّلْطَانُ تَوْأَمَانِ
"Agama (Islam) dan kekuasaan adalah dua saudara kembar."
Islam memerlukan kekuasaan agar seluruh syariahnya dapat diterapkan, sementara kekuasaan memerlukan syariah agar mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ melalui berdirinya Daulah Islam di Madinah, kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah sesudahnya. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar