Oleh: Winda Raya, S.Pd., Gr
Apakah peran pemuda dalam pembangunan cukup sebatas menyampaikan ide, mengikuti forum diskusi, dan terlibat dalam berbagai program pemerintah? Ataukah pemuda justru memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yakni mengawal lahirnya kebijakan yang berpihak kepada rakyat, menegakkan keadilan, serta mendorong terwujudnya tata kelola pemerintahan yang bersih dan bermoral? Pertanyaan inilah yang patut direnungkan di tengah ajakan Pemerintah Kota Medan kepada generasi muda untuk menjadi agen perubahan.
Dilansir dari Radarmedan.com pada tanggal 18 Juni 2026, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menerima audiensi Forum Pemuda dan Mahasiswa Sumatera Utara (FPM-SU) di Rumah Dinas Wali Kota Medan. Pertemuan tersebut membahas pentingnya peran generasi muda dalam mendukung pembangunan Kota Medan melalui kolaborasi antara pemerintah, pemuda, dan mahasiswa. Dalam kesempatan itu, Rico Waas menegaskan bahwa pemuda merupakan agen perubahan yang memiliki peran strategis dalam menyampaikan gagasan, kritik, serta inovasi untuk kemajuan daerah.
Selain itu, Rico Waas menyatakan bahwa Pemerintah Kota Medan membuka ruang kolaborasi bagi pemuda dan mahasiswa agar ide-ide yang disampaikan dapat diwujudkan menjadi program yang bermanfaat bagi masyarakat. Ketua Umum FPM-SU, Ilham Panggabean, juga menyampaikan komitmen organisasinya untuk bekerja sama dengan Pemerintah Kota Medan, khususnya dalam bidang pemberdayaan pemuda, pengembangan ekonomi kreatif, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Keterlibatan pemuda dalam pembangunan Kota Medan merupakan langkah yang patut diapresiasi. Namun, pertanyaan mendasar yang perlu dikaji adalah sejauh mana ruang partisipasi yang diberikan kepada generasi muda benar-benar menyentuh akar persoalan yang dihadapi masyarakat.
Selama ini, pelibatan pemuda sering kali diarahkan pada kegiatan yang bersifat teknis, seperti mendukung pembangunan infrastruktur, menjaga kebersihan lingkungan, atau terlibat dalam kegiatan seremonial. Padahal, kontribusi pemuda seharusnya tidak dibatasi pada aspek fisik semata, melainkan juga diarahkan untuk membangun sistem sosial yang mampu melahirkan tata kelola pemerintahan yang adil, berintegritas, serta mampu mencegah berbagai bentuk penyimpangan yang merusak kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, berbagai persoalan seperti penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, praktik korupsi, kriminalitas, hingga ketimpangan sosial menunjukkan bahwa pembangunan tidak cukup hanya diukur dari kemajuan infrastruktur atau peningkatan indikator ekonomi. Pemuda dan mahasiswa sebagai kelompok intelektual semestinya didorong untuk berperan dalam memberikan kritik yang konstruktif terhadap kebijakan publik serta menawarkan solusi yang berorientasi pada perubahan sistem yang lebih baik.
Sayangnya, gerakan kepemudaan di berbagai daerah masih kerap terjebak pada aktivitas yang bersifat simbolis sehingga daya kritisnya cenderung melemah. Pemuda diajak jadi mitra pembangunan tapi kerangkanya sekuler. Lihatlah segala problem daerah dan pusat hari ini taring mahasiswa hanya berhenti pada konten tak berasas mabda. Tidak sedikit gerakan mahasiswa yang lebih aktif dalam menghasilkan konten di media sosial dibandingkan membangun kajian yang mendalam dan menawarkan gagasan yang memiliki landasan ideologis maupun konseptual yang kuat.
Dalam Sistem Islam, pembangunan tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik dan ekonomi, tetapi juga bertujuan mewujudkan kemaslahatan masyarakat melalui penerapan nilai-nilai syariat. Allah SWT Berfirman: "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS. Ali 'Imran [3]: 104). Selain itu, Allah juga berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan..." (QS. An-Nahl [16]: 90).
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa pemerintah bersama masyarakat, termasuk pemuda, memiliki tanggung jawab untuk membangun kehidupan yang berlandaskan keadilan serta menjaga masyarakat dari berbagai bentuk kemaksiatan dan kerusakan.
Rasulullah saw memberikan teladan bahwa pemuda merupakan aset penting dalam membangun peradaban Islam. Beliau membina para sahabat muda seperti Ali bin Abi Thalib, Mu'adz bin Jabal, Usamah bin Zaid, dan Abdullah bin Abbas menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, serta siap memikul amanah kepemimpinan. Rasulullah saw bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya" (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang harus dijalankan sesuai syariat Allah demi kemaslahatan umat.
Dengan demikian, solusi Islam terhadap pembangunan daerah tidak berhenti pada pelibatan pemuda sebagai mitra dalam berbagai program, tetapi juga membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan memiliki keberanian untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar. Pemerintah hendaknya menyusun kebijakan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, memperkuat pendidikan akhlak dan kepemimpinan, serta menegakkan hukum secara adil tanpa pandang bulu. Melalui penerapan prinsip-prinsip yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, pembangunan diharapkan tidak hanya menghasilkan kemajuan material, tetapi juga melahirkan masyarakat yang bertakwa, berkeadilan, dan memperoleh keberkahan dari Allah SWT. Wallahua’lam Bisshowwab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar