Oleh: Isnawati (Muslimah Penulis Peradaban)
Dunia kembali dikejutkan oleh kabar pilu dari Gaza. Namun bagi penduduk yang hidup di tanah itu, dentuman bom, tangisan, dan kehilangan bukanlah peristiwa sesaat. Semua itu telah menjadi bagian dari hari-hari yang mereka jalani. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diberitakan BBC Indonesia mengungkapkan bahwa sejak Oktober 2023 lebih dari seribu anak menjadi korban. Sebagian meregang nyawa, sementara yang masih bertahan hidup harus menanggung luka berat, kehilangan anggota tubuh, dan trauma yang mungkin akan menemani mereka sepanjang usia. Masa depan generasi Gaza kini berada dalam ancaman yang sangat nyata. (BBC Indonesia, 24 Juni 2026).
Luka Bagi Kemanusiaan
Betapa hati ini terasa sesak membayangkan seorang anak kecil yang seharusnya berlari riang mengejar impiannya, justru berlari ketakutan menghindari ledakan bom. Tangan mungil yang semestinya menggenggam buku pelajaran kini harus menggenggam tubuh saudaranya yang berlumuran darah. Mata yang seharusnya berbinar karena cita-cita justru dipenuhi ketakutan dan kesedihan. Lebih memilukan lagi, tidak sedikit anak yang harus mengantar ayah, ibu, atau saudara mereka ke pemakaman sebelum mereka benar-benar memahami arti kehilangan. Tidak ada rangkaian kata yang sanggup melukiskan luka sedalam itu.
Anak-anak yang gugur bukanlah sekadar angka dalam laporan. Mereka memiliki nama, wajah, impian, dan harapan yang belum sempat tumbuh. Mereka pernah tertawa, bermain, bercanda, dan memimpikan masa depan yang indah seperti anak-anak di belahan dunia lainnya. Semua itu dirampas begitu saja oleh perang yang tak kunjung usai. Di balik setiap jasad kecil yang terbujur kaku, ada seorang ibu yang menangis hingga tak lagi bersuara, ada ayah yang memendam kepedihan yang tak mampu diungkapkan, dan ada keluarga yang kehilangan sebagian jiwanya. Luka itu bukan hanya milik Gaza, melainkan luka bagi seluruh kemanusiaan.
Yang lebih menyayat hati, penderitaan yang terus berlangsung itu perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Tayangan anak-anak yang menjadi korban kini seolah hanya menjadi berita yang lewat begitu saja. Dunia terus menyampaikan kecaman, para pemimpin dunia terus menggelar pertemuan, dan berbagai resolusi terus diterbitkan. Namun semua itu belum mampu menghentikan jatuhnya korban. Ucapan belasungkawa terus terdengar, tetapi bom masih menghancurkan rumah-rumah warga. Pernyataan demi pernyataan terus disampaikan, tetapi anak-anak tetap kehilangan hak untuk hidup dengan aman. Ketika tindakan nyata tidak sejalan dengan besarnya penderitaan, wajar jika harapan masyarakat terhadap berbagai mekanisme penyelesaian konflik semakin memudar.
Saatnya Umat Bersatu
Bagi kaum muslim, luka Gaza bukan sekadar persoalan sebuah wilayah. Luka itu adalah luka umat. Rasulullah SAW menggambarkan kaum mukmin seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak dapat tidur. Hadis ini tidak boleh berhenti sebagai teori yang hanya indah disampaikan di mimbar-mimbar. Ia tidak boleh sekadar menjadi kalimat yang menggetarkan hati tanpa melahirkan tindakan. Sebab, jika setiap nas hanya berhenti sebagai teori, maka ajaran Islam hanya akan menjadi bahan ceramah, semangat persatuan tinggal slogan, dan cita-cita menghadirkan keadilan hanya akan berubah menjadi opini yang tidak pernah benar-benar terwujud.
Karena itu, kepedulian terhadap Gaza harus diwujudkan dalam bentuk doa yang tulus, bantuan kemanusiaan yang nyata, dakwah yang terus menguatkan kesadaran umat, serta kesungguhan mencari solusi yang membawa kemaslahatan. Dalam pandangan Islam yang diyakini penulis, solusi itu adalah terwujudnya penerapan syariah dan khilafah.
Sudah saatnya setiap muslim bermuhasabah dengan jujur. Mengapa penderitaan saudara-saudara kita dapat berlangsung begitu lama? Mengapa umat yang jumlahnya begitu besar justru kehilangan kekuatan karena perpecahan, kepentingan politik, dan berbagai konflik di antara negeri-negeri muslim? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa jawaban. Semuanya harus menjadi bahan renungan agar umat mampu kembali membangun persatuan yang kokoh.
Pada saat yang sama, kecintaan yang berlebihan terhadap kepentingan dunia juga menjadi ujian besar. Ketika kekuasaan, ekonomi, dan kepentingan politik lebih diutamakan daripada ukhuwah Islamiah dan keadilan, keberpihakan kepada mereka yang tertindas semakin melemah. Padahal, membela orang-orang yang dizalimi merupakan bagian dari nilai luhur yang diajarkan Islam.
Karena itu, kebangkitan umat tidak cukup diwujudkan dengan air mata, kemarahan, atau rasa iba yang hanya bertahan sesaat. Umat memerlukan ilmu yang benar, dakwah yang istiqamah, persatuan yang kokoh, kepedulian yang nyata, dan keberanian untuk terus mengingatkan masyarakat maupun para pemimpin agar menegakkan keadilan, melindungi warga sipil, serta tidak membiarkan tragedi kemanusiaan terus berulang.
Anak-anak Gaza tidak membutuhkan janji yang indah ataupun pidato yang panjang. Mereka mendambakan perlindungan yang nyata. Mereka ingin kembali duduk di bangku sekolah tanpa dihantui rasa takut. Mereka ingin berlari, bermain, dan tertawa tanpa suara ledakan yang mengancam nyawa. Mereka ingin memejamkan mata dalam pelukan ayah dan ibu, bukan di tengah reruntuhan bangunan. Setiap anak yang pergi untuk selamanya sesungguhnya adalah kehilangan besar bagi seluruh peradaban manusia.
Jangan biarkan air mata yang mengalir hari ini berhenti sebagai rasa iba yang esok terlupakan. Jadikan tangis Gaza sebagai panggilan yang menggugah nurani, menguatkan persatuan umat, dan menggerakkan ikhtiar sungguh-sungguh menuju penerapan syariah dan khilafah sebagai jalan yang diyakini mampu menjaga darah, kehormatan, serta masa depan setiap anak, baik di Gaza maupun di mana pun mereka berada. Wallahu a'lam bissawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar