Oleh : Pambayun Rahayu (Aktivis Muslimah)
Generasi muda dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Krisis global membuat generasi penerus peradaban harus berjuang sekadar untuk bertahan di tengah himpitan zaman. Faktanya, survei menunjukkan Gen Z di Indonesia mengalami tingkat kecemasan dan gangguan mental paling tinggi.
Tahun 2022, survei Harmony Healthcare IT mencatat 42% Gen Z terdiagnosis masalah kesehatan mental. Fakta lain dari American Psychological Association [APA] menyebutkan 90% Gen Z di Amerika Serikat mengalami gejala stres. Meski berada di negara maju, sebagian besar Gen Z merasa kewalahan dan cemas berlebihan.
Di tahun yang sama, Indonesia National Adolescent Mental Health Survey [I-NAMHS] menemukan 1 dari 20 remaja usia 10–17 tahun terdiagnosis gangguan mental, atau yang biasa disebut Orang dengan Gangguan Jiwa [ODGJ]. Sementara itu, sekitar 34,9% memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental atau tergolong Orang dengan Masalah Kejiwaan [ODMK].
Gen Z sering dinilai rapuh dan memiliki etos kerja buruk. Sebagian dari mereka dianggap terlalu sensitif, terlalu terpaku pada media sosial, memiliki pandangan hidup yang naif, dan menginginkan segala sesuatu serba instan. Akibatnya, sebagian Gen Z memilih tidak bekerja untuk menghindari tekanan di dunia kerja.
Data Badan Pusat Statistik [BPS] tahun 2023 menunjukkan pengangguran tertinggi berasal dari kalangan Gen Z, yaitu 19,40% dari total 7,86 juta penganggur. Artinya, sekitar 1,5 juta Gen Z usia produktif menganggur dan menjadi beban ekonomi.
Akar Masalah yang Kompleks
Penyebab masalah generasi ini sangat beragam. Pengaruh terbesar datang dari media sosial dan tekanan sosial. Faktor pendukung lainnya meliputi gangguan kecemasan, depresi mayor, gangguan perilaku, bullying, tekanan akademik, pertemanan yang toksik, masalah keluarga, perceraian orang tua, kecanduan gawai, trauma masa kecil, hingga himpitan ekonomi yang membuat orang tua melampiaskan stresnya kepada anak.
Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan mental Gen Z bukan semata karena individu yang rapuh, tetapi juga karena lingkungan dan sistem yang membentuknya.
Masalah Gen Z hari ini tidak lepas dari penerapan sistem kapitalisme yang merusak. Sistem ekonomi yang menekan membuat Gen Z harus bekerja keras dengan upah rendah. Dunia usaha yang lebih berpihak pada korporasi besar juga menyulitkan Gen Z mengembangkan bisnis. Negara pun tidak hadir sebagai penjamin kebutuhan hidup rakyat, melainkan membebankan segalanya kepada masyarakat melalui pajak.
Di sisi lain, sistem sosial yang liberal dan materialistis membuat Gen Z kehilangan arah. Arus media sosial yang masif mendorong mereka mengikuti tren demi perhatian, tanpa memikirkan dampaknya. Hidup hanya dipandang untuk mengejar materi dan kekuasaan. Kerja keras tanpa jeda demi gaya hidup konsumtif pun berujung pada gangguan kesehatan mental.
Sistem pendidikan sekuler turut berperan. Tanpa bimbingan agama yang kuat, pemahaman liberal dan materialistis menjadi tolok ukur berpikir Gen Z. Mahalnya biaya pendidikan layak juga membuat banyak dari mereka tumbuh tanpa literasi dan kompetensi memadai, sehingga kepribadiannya menjadi rapuh.
Potensi dan Jalan Keluar: Resistensi Mental
Kondisi Gen Z bukanlah akhir. Akan muncul gelombang resistensi yang dapat menjadi titik balik. Langkah pertama adalah menyadari akar masalah: semua ini merupakan buah dari sistem sekuler kapitalistik yang bertolak belakang dengan ajaran Islam.
Sebenarnya, Gen Z memiliki potensi besar. Tumbuh di era digital membuat mereka mahir teknologi dan sangat adaptif. Mereka juga perlu memahami akidah Islam dengan benar: tujuan hidup adalah beribadah kepada Allah. Pemahaman ini akan mendorong mereka berlomba menjadi manusia terbaik yang bermanfaat bagi sesama.
Kesadaran ini harus diikuti keyakinan bahwa hanya Islam yang dapat membawa keberkahan dan kemuliaan peradaban. Islam tidak cukup dipahami, tetapi wajib diterapkan secara menyeluruh atau _kaffah_. Penerapan Islam diyakini dapat membuat Gen Z dan masyarakat sehat secara mental serta terhindar dari berbagai krisis.
Penerapan Islam kaffah tidak akan terwujud tanpa institusi negara. Sebagian besar syariat hanya dapat dilaksanakan oleh negara. Sistem pergaulan, ekonomi, pendidikan, sanksi, hingga pengawasan media sosial yang tegas akan melindungi Gen Z dari tekanan yang memicu gangguan mental.
Dalam negara (daulah) islam, pertama sistem pendidikan fokus membina akidah, bukan sekadar mengejar angka. Pendidikan Islam mengajarkan tujuan hidup, adab, tanggung jawab, dan cinta ilmu, sehingga melahirkan generasi unggul dengan kepribadian Islam yang kuat. Kedua, peran keluarga menjadi benteng pertama. Orang tua harus menjadi teladan iman dan akhlak, serta tempat berlindung paling nyaman bagi anak.
Ketiga, negara (daulah) wajib menjamin seluruh aspek kehidupan rakyat, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan berkualitas, kontrol media, hingga pengelolaan kekayaan negara untuk kesejahteraan bersama. Dengan berkurangnya beban ekonomi, tekanan mental akan lebih mudah diatasi. Keempat, sistem sosial disertai peraturan pergaulan yang tegas membentuk masyarakat yang saling menasihati dalam kebaikan. Kesalahan diingatkan bersama, bukan dijatuhkan.
Gen Z harus berjuang di arah yang tepat di tengah situasi yang sulit. Hanya landasan iman dan takwa yang memberi kekuatan dan menjaga arah perjuangan menuju rida Allah. Dengan kesadaran dan pemahaman politik yang benar, Gen Z dapat memimpin umat menuju perubahan hakiki sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW, yaitu berjuang berjamaah mengembalikan kehidupan Islam.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar