Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi


Oleh : Leni Marlina, S.E

Berbagai survei di Indonesia menempatkan Gen Z sebagai kelompok yang paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental dibanding generasi lain. Pemicunya datang dari banyak arah. Media sosial jadi panggung perbandingan tanpa jeda. Tekanan sosial: harus sukses cepat, harus produktif tiap hari, harus punya “personal branding”. Ditambah lagi ketidakpastian karir dan masa depan membuat banyak anak muda jadi skeptis. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di seluruh dunia, Gen Z tumbuh di tengah krisis ekonomi, perubahan iklim, dan dunia kerja yang berubah lebih cepat dari kurikulum kuliah. Tapi di titik terendah inilah sesuatu mulai bergeser. Dari ruang-ruang diskusi, komunitas online, sampai aksi nyata, muncul gelombang resistensi. Resistensi ini bukan dengan bentuk amarah buta, namun lebih ke kesadaran. Dari kondisi tertekan itu, Gen Z justru menemukan titik balik. Mereka tidak menunggu masa depan yang tidak pasti, mereka membangunnya sendiri, dengan cara mereka sendiri. (https://data.goodstats.id/statistic/60-gen-z-di-indonesia-cemas-akan-masa-depan-84aBq)

Kecemasan Gen Z hari ini bukan muncul tiba-tiba. Ia lahir dari krisis multidimensi yang menghantam dunia, ekonomi yang goyah, iklim yang tidak pasti, sampai dunia kerja yang menuntut tapi tidak menjamin. Di tengah semua itu, Gen Z dipaksa tumbuh cepat sambil memikirkan masa depan yang tidak pasti. 

Di sisi lain, jati diri mereka juga digerus peradaban sekuleristik, kapitalistik, dan menekan lewat standar sukses yang sempit. Akibatnya potensi pemuda sebagai agen perubahan menjadi lemah. 

Abainya riayah negara terhadap generasi. Alih-alih dirangkul dan ditempa, mereka dibentuk menjadi konsumen yang melelahkan. Generasi muda mestinya dirangkul, diberi ruang dan arah. Faktanya, yang datang justru stigma negatif dari generasi di atasnya. Padahal stigma itu sendiri bagian dari luka yang membuat mereka semakin tertekan.

Tapi di balik kecemasan ada sisi lain yang jarang disorot. Mereka bertanya, membongkar, dan berani berkata tentang ketidak adilan. Sikap kritis itu jika disalurkan akan menjadi peluang. Dari rasa cemas akan lahir kesadaran, dari kesadaran akan muncul gerakan, dan dari gerakan tersebut, lahirlah sebuah perubahan ke arah yang lebih baik dan ideal. Jadi, depresi bukan akhir dari cerita Gen Z. Semua itu merupakan proses lahirnya resistensi, yaitu bangkit, melawan sistem yang merusak, dan membangun ulang tatanan yang lebih manusiawi.

Kecemasan yang mendera Gen Z hari ini bukan tanpa sebab. Krisis multidimensi, tekanan standar hidup, dan rasa tak pasti soal masa depan membuat banyak anak muda merasa kosong. Di titik inilah Islam hadir sebagai solusi. Penerapan Islam secara kaffah membawa rahmatan lil’alamin. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “ Dan tiadalah Kami utus engkau (ya Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS Al-Anbiya : 107). Islam datang dengan seperangkat aturan multidimensional, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama, dan dengan alam. Dari sana lahir ketenangan hati dan keselamatan hidup yang tidak bisa digantikan validasi medsos atau target duniawi. 

Melihat karakter generasi di masa kejayaan Islam. Para pemuda seperti Muhammad al-Fatih, Ibnu Sina, Fatimah al-Fihri, dan lainnya. Mereka kuat karena berkepribadian Islam. Akidahnya kokoh, akhlaknya terjaga, ilmunya luas di berbagai bidang. Mereka tidak cemas berlebihan karena memiliki tujuan hidup yang jelas yaitu, ridha Allah dan kemuliaan umat.

Kehadiran negara sebagai pelindung dan pelayan umat. Al-Qur'an secara tegas menetapkan bahwa fungsi utama pemerintahan dan negara adalah sebagai pelindung, penegak keadilan, dan pelayan umat. Tanggung jawab ini dibebankan kepada para pemimpin (Ulil Amri) untuk menjamin kesejahteraan, keamanan, serta pemenuhan hak-hak seluruh rakyat, (QS. An-Nisa Ayat 58). Negara menjamin kebutuhan pokok agar terpenuhi secara adil, pendidikan, kesehatan, keamanan bukan barang mahal. Dalam sistem Islam, pemuda tidak hidup dalam tekanan untuk bertahan hidup. Mereka memiliki ruang untuk tumbuh, berkontribusi, dan memimpin. 

Melihat masalah-masalah yang terjadi pada Gen Z, oleh karena itu tugas kita hari ini menyadarkan Gen Z untuk mengemban mabda Islam. Diharapkan Gen Z memiliki pondasi penting dalam pembentukan kepribadian Islam dalam diri mereka. Bukan hanya menjadi “good person”, tapi juga menjadi pribadi yang peduli kondisi umat. Peka terhadap penjajahan, kemiskinan, kerusakan moral. Dari kepedulian itu lahir resistensi. Melawan sistem rusak, menolak sekularisme kapitalistik, dan membangun peradaban baru, yaitu peradaban yang membawa “Rahmatan lil’alaamiin”.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar