Oleh : Yulia Andriyani Syahputri, S.Ak
Sejak 7 Oktober 2023, Palestina khususnya di Jalur Gaza terus menghadapi genosida sampai dengan saat ini. Sudah hampir 3 tahun lamanya Palestina masih berjuang. Berita tentang Palestina sudah tidak lagi mendominasi media. Namun, menurunnya perhatian publik bukan berarti penderitaan warga Palestina telah berakhir. Kementerian Kesehatan di Gaza menyebutkan, secara statistik kumulatif sejak genosida 7 Oktober 2023 sampai dengan saat ini, jumlah korban jiwa sebanyak 72.993 dan korban cedera sebanyak 173.230.
Tindakan kejam Israel tidak hanya menargetkan orang dewasa saja, tetapi anak-anak dijadikan target utama mereka dalam genosida ini. Ada pernyataan dari salah satu Komisi Penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyatakan bahwa pasukan Israel terus melakukan genosida, kejahatan kemanusiaan dan perang terhadap warga Palestina dengan sengaja menargetkan anak-anak di jalur Gaza. Komisi tersebut menyatakan telah menemukan bukti tindakan sistematis operasi militer Israel yang mengakibatkan kematian, cedera dan trauma yang belum pernah terjadi sebelumnya dikalangan anak-anak. Israel secara langsung menargetkan anak-anak Palestina di Gaza dengan cara menembak organ vital mereka menggunakan senjata presisi, seperti drone quadcopter dan penembak jitu, serta menggunakan senjata berdaya ledak tinggi dalam serangan terhadap bangunan perumahan, sekolah, dan kamp pengungsian yang dipadati oleh anak-anak.
Ada pernyataan yang bocor di media Haaretz, Bluth menyatakan bahwa “Kita membunuh seperti yang belum pernah kita lakukan sejak 1967,” ditambah klaim telah membunuh 1500 “teroris”, sebuah istilah yang digunakan Israel untuk menyebut warga sipil yang tidak bersenjata. Berdasarkan data terhadap 54 kasus kematian selama 2025, terlihat pola tindakan yang mengkhawatirkan yaitu setidaknya 21 anak tewas dalam kondisi tidak melakukan perlawanan apapun terhadap pasukan Israel. Hal itu menunjukkan secara jelas bahwa perilaku keji dari Israel yang selama ini telah dilakukan menjadi peringatan keras bagi kita untuk tidak mendiamkan genosida ini.
Di wilayah Masoudiyeh, barat dari laut Nablus, Israel melakukan aksi dengan peluncuran bom gas yang menyerang para pemukim di rumah-rumah mereka hingga mengakibatkan banyak anak-anak mengalami sesak nafas. Menurut WHO, setidaknya 3 dari 10 orang belum makan selama berhari-hari dan lebih dari 2000 orang yang mencari makan telah tewas saat berada dikerumunan demi mendapatkan bantuan makanan karena penembakan oleh Israel. Diperkirakan lebih dari 3 juta tahun kehidupan di Gaza hilang dan itu melibatkan anak-anak dibawah usia 15 tahun. Setiap hari lebih dari 10 anak di jalur Gaza telah kehilangan satu atau kedua kakinya dan lebih dari 1000 anak kehilangan anggota tubuhnya. Dampak dari genosida besar-besaran ini tidak hanya menyangkut kesehatan fisik saja, tetapi juga kesehatan mental yang membuat anak-anak tertekan secara psikologis hingga membuat mereka trauma dalam jangka panjang.
Anak-anak menjadi generasi penerus masa depan bangsa, tetapi kini mulai dihilangkan secara brutal oleh zionis Israel demi mewujudkan misi Israel raya untuk menguasai wilayah Palestina. Dunia tidak bisa mengharapkan Israel menyerah, bahkan saat gencatan senjata saja tidak mengubah keadaan, mereka tetap melakukan aksinya secara kejam. Ditambah dengan bergabungnya keanggotaan negeri-negeri Muslim dalam BoP yang jelas menunjukkan bentuk dukungan terhadap kedzaliman demi kepentingan politik kapitalistik.
Genosida yang terjadi di Gaza merupakan tragedi yang melemahkan aqidah, usaha menyingkirkan syariat, umat yang tercerai-berai dan melumpuhkan ukhuwah antar sesama saudara. Kejadian ini menjadi saksi atas kejahatan yang melampaui batas dan tenggelam dalam kedzaliman. Tentu saja kita sebagai saudara satu tubuh tidak boleh diam saja. Genosida ini sudah cukup membuka mata kita, sehingga diperlukan agenda strategis untuk menyatukan seluruh potensi negeri-negeri muslim menjadi satu kekuatan politik dalam pemerintahan Islam secara global. Pemerintahan Islam yang nantinya akan mengembalikan kemuliaan yang telah lama hilang dan akan melindungi anak-anak Palestina, baik terhadap jiwa, kesehatan fisik dan mental, pendidikan, kesejahteraan, serta seluruh aspek masa depan mereka yang berhak untuk diperjuangkan.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar