Oleh : Haura (Pegiat Literasi)
Konflik di Gaza masih terus berlangsung. Akibat konflik, wilayah Gaza luluh lantak, bangunan, fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, dan kamp pengungsian hancur, aktivitas masyarakat terbatas dan hidup seadanya. Begitu pula masa depan bangsa yang berada di tangan anak-anak direnggut tanpa belas kasihan dan berkemanusiaan.
Dilansir dari kompas.com (26/06/2026) laporan terbaru Komisi Penyelidikan Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa, Selasa (23/6/2026), menyebutkan, otoritas dan tentara Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina selama perang yang terjadi sejak serangan Hamas ke Israel, 7 Oktober 2023. Temuan tersebut membuat komisi menyimpulkan adanya indikasi genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang di Gaza, serta kejahatan perang di Tepi Barat yang diduduki Israel. Fakta tersebut secara nyata menunjukan betapa Zionis adalah penjahat perang sesungguhnya. Zionis sengaja menargetkan anak-anak Gaza sebagai bentuk upaya genosida untuk menghabisi muslim Palestina.
Kebiadaban Zionis
Zionis melakukan segala cara untuk memusnahkan dan menghancurkan kaum muslim di Palestina. Tak terkecuali membunuh anak-anak yang tak berdosa demi menguasai seluruh wilayah Palestina dan mewujudkan Israel raya. Mereka tidak peduli gencatan senjata dan kecaman lembaga PBB. Meskipun melakukan pelanggaran terhadap hukum Internasional, genosida terus dilakukan.
Mata dunia semua tertuju pada Gaza, namun sampai detik ini dunia tidak mampu melawan bengisnya Zionis. Dunia tidak bisa berharap Zionis melunak oleh tekanan internasional, perlawanan domestik, keterikatan perjanjian internasional atau misalnya dengan pergantian Perdana Menteri. Dunia juga tidak bisa berharap pada PBB, karena struktur kekuasaan internal PBB khususnya hak veto adalah sekutu utama Israel yaitu Amerika Serikat (AS). AS kerap menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB untuk menggagalkan resolusi yang mengikat yang dapat menjatuhkan sanksi atau memaksa Israel menghentikan agresinya.
Begitu pun sulit untuk berharap pada dunia Islam yang makin merapat pada AS dan Zionis. Negara mayoritas Islam memprioritaskan keamanan dalam negeri dan hubungan ekonomi dengan kekuatan global yang dimiliki AS. Ini semata sebagai akibat pemahaman nasionalisme dan politik kapitalistik yang mengakar pada dunia Islam.
Sekalipun solidaritas kemanusiaan dan dukungan moral terhadap pembebasan Palestina tetap kuat, namun belum membuahkan hasil. Penyelesaian konflik secara konkret memerlukan langkah yang lebih solid dari seluruh negeri-negeri Islam dan kaum Muslimin seluruh dunia.
Satu-satunya harapan pembebasan Palestina ada pada bersatunya negeri-negeri muslim pada naungan Khilafah. Karena sistem ini menyatukan seluruh kekuatan politik dan militer umat Islam di bawah satu komando. Khilafah mampu menghilangkan batas-batas nasionalisme yang memecah belah. Khilafah memungkinkan pengerahan pasukan secara langsung untuk membela wilayah kaum Muslimin.
Khilafah adalah satu-satunya institusi politik Islam yang akan melakukan jihad fisabilillah untuk mengalahkan Zionis dan membebaskan Palestina. Khilafah dengan berpegang pada hukum syara’ membawa misi utama rahmatan lil alamin, memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Termasuk mewujudkan perlindungan bagi anak-anak Palestina, baik terhadap jiwa, kesehatan fisik dan mental, pendidikan, kesejahteraan, maupun seluruh aspek masa depan mereka. Karena Islam melarang keras anak-anak dan perempuan menjadi target pembunuhan dalam kondisi perang.
Khilafah adalah qadhiyah masiriyah umat yang harus diperjuangkan penegakannya. Sehingga tercipta rahmat bagi seluruh alam. Tidak hanya dirasakan oleh kaum Muslim semata, namun juga dirasakan segenap manusia di bumi Allah. Wallahu a'lam.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar