Oleh : Lia Julianti (Aktivis Dakwah Tamansari Bogor)
Komisi Penyelidik PBB melaporkan Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina di Gaza. Laporan tersebut menyebut tindakan itu mengakibatkan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang. PBB menyatakan, pemerintah dan pasukan keamanan Israel menyebabkan kematian serta penderitaan fisik dan mental yang berat. Korban yang terdampak disebut mencapai ratusan ribu anak Palestina. Menurut laporan itu, pembunuhan terhadap anak-anak Palestina terus terjadi bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025. Anak-anak lainnya mengalami luka fisik hingga banyak yang cacat sekaligus mengalami trauma psikologis yang berat.
Anak Gaza terus menjadi korban terbesar setelah 1.000 hari perang. Menurut Save the Children, sedikitnya 21.000 Anak Gaza telah dipastikan terbunuh sejak Oktober 2023. Selain itu, ratusan ribu Anak Gaza kehilangan rumah, pendidikan, dan rasa aman. Kondisi ini mencerminkan semakin dalamnya krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Save the Children menyebut dunia telah gagal melindungi sekitar satu juta anak di Gaza selama 1.000 hari terakhir. Organisasi itu memperkirakan jumlah korban sebenarnya lebih tinggi karena banyak anak masih tertimbun reruntuhan.
Lebih dari 800.000 anak, atau sekitar 80 persen populasi anak telah mengungsi. Sementara itu, sekitar 625.000 anak usia sekolah kehilangan tiga tahun pendidikan formal akibat perang yang terus berlangsung. (adararelief.com, 03/07/2026)
Tingginya jumlah korban anak-anak di Gaza memicu kecaman luas dari komunitas internasional. Banyak pihak menilai pola serangan yang menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar menunjukkan dugaan adanya kebijakan yang secara sistematis mengancam keberlangsungan hidup masyarakat Palestina, termasuk generasi mudanya.
Semua acara dilakukan Zionis termasuk dengan mengorbankan anak-anak Palestina demi meraih tujuan mereka, yaitu menguasai seluruh wilayah Palestina dan mewujudkan Israel Raya. Dalam politik modern, "Israel Raya" biasanya merujuk pada gagasan bahwa Israel seharusnya menguasai seluruh atau sebagian wilayah yang lebih luas daripada batas negara Israel saat ini. Wilayah yang sering dikaitkan dengan gagasan ini meliputi Tepi Barat, Yerusalem Timur juga Jalur Gaza.
Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi komunitas internasional kerap dilanggar. Pasukan Israel terus melancarkan pemboman dan serangan mematikan yang menewaskan lebih dari seribu warga Palestina pasca-pengumuman gencatan senjata.
Banyak pihak menilai bahwa harapan agar konflik segera berakhir tidak cukup hanya bergantung pada pergantian pemimpin politik di Israel. Selama kebijakan yang mendasari operasi militer dan pendudukan tidak berubah, penderitaan rakyat Palestina dikhawatirkan akan terus berlangsung. Di sisi lain, berbagai resolusi dan seruan dari PBB sering dinilai belum mampu memberikan perlindungan efektif bagi warga sipil maupun menghentikan kekerasan secara permanen. Sementara itu, negara-negara Muslim juga kerap dinilai belum menunjukkan langkah politik yang benar-benar bersatu dan kuat dalam membela hak-hak rakyat Palestina karena masing-masing masih dipengaruhi kepentingan nasional dan pertimbangan geopolitik.
Oleh karena itu, kita wajib mengambil solusi penjajahan di Gaza Palestina dari sumber yang telah ditetapkan oleh Allah SWT yaitu jihad, sebagaimana perintah Allah dalam Al Quran dan Sunnah, tidak kunjung dilakukan sehingga kondisi Gaza makin mengerikan. Apalagi penguasa negeri-negeri Muslim justru berkhianat pada umat Islam disana.
Allah berfirman dalam Al Quran Surah Al-Baqarah Ayat 190, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.
Umat Islam memiliki tanggung jawab terhadap Palestina hingga negeri tersebut dibebaskan dengan jihad yang akan dikomando khalifah. Khalifah mampu menjadi perisai hakiki umat sebagaimana dahulu Palestina berada di bawah naungan kekuasaan Islam. Barat dan sekutunya paham betul kekuatan sejati umat Islam ini.
Khilafah adalah ajaran Allah dan bisyarah Rasulullah yang pasti akan terwujud. Musuh Allah pasti menghalangi tegaknya khilafah.Begitu juga penguasa muslim pengkhianat akan mendukung mereka karena kecintaan mereka pada kekuasaan dan dunia.
Kebutuhan akan jihad dan Khilafah sebagai solusi paripurna bagi Palestina semakin mendesak dan nyata. Kewajiban kita dalam upaya membebaskan Palestina dari penjajahan dan penderitaan adalah dengan terus menyuarakan solusi paripurna ini. Dakwah yang berpengaruh harus terus diperjuangkan agar mampu mengubah pemikiran serta membersihkan pemahaman umat dari ideologi sekuler kapitalisme hingga terbentuk pemahaman Islam yang benar dan kaffah.
Tegaknya khilafah harus dipahami umat sebagai satu-satunya jalan mengembalikan kekuatan, persatuan, dan kekuasaan Islam yang membutuhkan penerapan syariat Islam kafah. Upaya berkelanjutan melalui pembinaan intensif secara personal dan komunal yang dilakukan kelompok dakwah yang lurus dan ideologis merupakan hal yang dibutuhkan saat ini agar umat memiliki pemahaman yang sama bahwa solusi hakiki dan nyata bagi Palestina adalah jihad dan Khilafah.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar