Oleh : Dewi Soviariani (Ibu Dan Pemerhati Umat)
Dunia masih terus disuguhkan oleh narasi sesat media tentang kabar gencatan senjata di Gaza. Padahal, fakta yang terjadi kondisi Gaza masih sama terkungkung dalam serangan mematikan para zionis keji. Rakyat dunia dipaksa menerima bahwa kondisi Gaza kini sudah lebih baik tanpa adanya serangan.
Korban jiwa masih tetap berjatuhan, Korban tewas akibat serangan Israel telah melampaui 1.000 jiwa sejak gencatan senjata yang dimediasi AS diberlakukan pada Oktober 2025. Dunia seolah dibuat untuk selalu bungkam. Ketika gejolak protes mulai bermunculan di negeri Paman Sam strategi politik kepentingan pun dijalankan. As diberitakan menghentikan bantuan militernya pada Israel bahkan mendapat persetujuan Netanyahu, sang perdana menteri negeri zionis.
Amerika Serikat dengan begitu lihainya bermain sandiwara, seolah tidak lagi berhubungan erat dengan Israel namun dibelakang layar tetap memasok senjata untuk menghabisi rakyat Gaza. Apakah perang benar-benar telah usai? ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas dan sistematis untuk melindungi hubungan AS– Zionis dari pengawasan publik. Alih-alih mengakhiri dukungan pada Israel, AS justru mengukuhkan diri sebagai penjamin dan sponsor utama Zionis.
Gencatan senjata tidak benar-benar terbukti, hanya sekedar narasi untuk meredam tekanan dunia internasional dan domestik dalam negeri AS. Pembunuhan dan perlakuan keji lainnya masih menjadi derita rakyat Gaza hingga kini. Kondisi geopolitik Timur Tengah tetap menjadi tujuan penjajahan bagi Israel dan AS.
Ini telah ditegaskan dalam UU Otorisasi Pertahanan Nasional (National Defense Authorization Act/NDAA) bagian 224 yang berjudul United States-Israel Defense Technology Cooperation Initiative, bahwa AS meletakkan dasar bagi penelitian dan pengembangan bilateral, produksi bersama persenjataan, usaha patungan, perjanjian lisensi, serta berbagai bentuk kerja sama militer dan industri antara AS dan Zionis.
UU ini telah menjadi bukti saling ketergantungan antara AS dan Zionis bak saudara kandung. Mereka akan membuat propaganda yang mengelabui dunia demi menjaga hubungan tersebut. Israel adalah tangan kanan AS di Timur Tengah, setiap keputusan dan kebijakan yang dilakukan Israel tentu atas restu AS. Tak heran segala cara dilakukan demi menjaga misi agung mereka disana, termasuk menghalalkan darah rakyat Gaza.
Timur Tengah yang terus bergejolak, kondisi ini telah menyiratkan misi penaklukan yang tidak sekedar tenang permasalahan ekonomi semata namun lebih ambisius dari itu yakni misi geopolitik, keamanan, ideologi dan dominasi global. Gencatan senjata yang ditawarkan adalah jeda bagi AS dan sekutunya Israel untuk memberi ruang menata ulang strategi militer mereka. AS sebagai penjamin sekaligus sekutu Zionis tak mungkin adil. Mengandalkan negara penjajah untuk urusan umat Islam adalah kesalahan fatal dan melanggengkan penjajahan.
Perdamaian bagi Gaza hanya ilusi semu. Fakta yang terjadi kaum muslimin masih belum mampu membentuk perisai umat yang hakiki. Jumlah yang banyak tak lantas menjadikan kaum muslimin memiliki kekuatan penuh untuk membebaskan Gaza. Umat Islam hanya disibukkan dengan berbagai perundingan gencatan senjata, boikot, donasi, kecaman, dan aksi solidaritas yang pada akhirnya tetap menjadikan Israel semakin kejam dan membabi-buta menguasai Gaza.
Persoalan ini harusnya menjadi momentum bagi kaum muslimin untuk bangkit dari keterpurukan. Kembali menganalisa akar masalah umat yang bersumber dari penerapan ideologi rusak buah pemikiran manusia. Dunia saat ini dipersatukan oleh ideologi Kapitalisme dengan AS sebagai negara adidaya. Dalam kendali politik kufur yang telah dengan nyata menjajah, merampok serta mendominasi atas negeri-negeri muslim dipenjuru dunia.
Padahal Rasulullah Saw telah mengingatkan, "Janganlah kalian meminta penerangan dengan api kaum musyrik (orang kafir).” (HR An-Nasa’i). Allah Swt. juga berfirman, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembalimu.” (QS Ali Imran [3]: 28).
Islam adalah agama sekaligus ideologi yang mampu menyelesaikan persoalan umat secara totalitas termasuk persoalan Gaza dan Palestina. Dengan institusi negara dalam naungan Khilafah yang menjadi ajaran Islam telah membuktikan bahwa tidak sejengkal pun tanah kaum muslimin bisa dikuasai oleh musuh-musuh Islam. Apalagi terjebak dalam tipu daya gencatan senjata sebagaimana yang dijalankan AS dan sekutunya hari ini atas Gaza.
Dengan seruan jihad fii sabilillah, Khalifah akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk mengusir penjajah Zionis dan ini merupakan kewajiban syar’i. Jihad fii sabilillah akan sangat mudah dan berkekuatan luar biasa apabila umat bersatu dalam naungan Khilafah. AS dan Israel tidak mengenal bahasa perundungan damai, gencatan senjata merupakan siasat licik mereka untuk terus menjajah.
Saatnya umat Islam sadar politik, upaya propaganda AS dan sekutunya tidak bisa dipercaya sedikitpun. Gaza hanya akan menang ketika umat Islam menyerukan satu komando kepemimpinan. Dengan tegaknya Khilafah Islam maka umat akan bisa membebaskan Gaza dan negeri Muslim lainnya dari tipu daya para penjajah.
Saatnya dunia kembali pada kehidupan Islam untuk menyelesaikan seluruh problematika hidup yang bersumber dari ideologi Kapitalisme yang rusak. Kaum muslimin akan memiliki pelindung sesungguhnya yang menjadi junnah atas tanah mereka. Dalam naungan Khilafah kebebasan Gaza yang dirindukan akan terwujud nyata.
Wallahua'lam bissawab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar