Oleh : Desta Humairah, S.Pd
Berbagai survei di Indonesia menunjukkan gen Z paling banyak mengalami gangguan mental hingga mengalami rasa cemas berlebihan. Konselor profesional dalam bidang terapi kognitif dan perilaku, Janee Steele, mengatakan, 60% generasi Z melaporkan mengalami stres dan kecemasan sosial, (moojok.co). Hal ini ditandai dengan berbagai fakta diantaranya 60% pemicunya gangguan mental karena khawatir dengan masa depan, terkait karir, stabilitas ekonomi hingga kondisi global, (goodstats.id). Selain itu, tekanan finansial juga menjadi faktor signifikan 57%, diikuti oleh ekspektasi sosial 42% serta perasaan tidak berdaya terhadap situasi yang berada di luar kendali 36%, (goodstats.id). Tidak berhenti pada tataran itu saja, gen Z juga lebih mudah mengalami mood swing karena pengaruh media sosial, tekanan sosial dan sebagainya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun menggejala di seluruh dunia. Dengan ketidakpastian karir dan masa depan membuat gen Z bersikap skeptis. Tidak peduli dengan orang lain, tidak mau tau keadaan dan bersikap bodo amat dengan diri sendiri. Hal ini merupakan dampak yang paling mendominasi dan dapat di indra secara langsung oleh orang lain. Namun, dari ketidakberdayaan gen Z karena kondisi yang kacau tersebut dapat memunculkan gelombang resistansi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini.
Generasi Z Mengalami Krisis Multidimensi
Krisis multidimensi yang menggejala di penjuru dunia menjadi pemicu utama kecemasan gen Z. Berbagai permasalahan dunia yang menimpa seakan membuat gen Z harus tersadar dan dapat menumbuhkan solusi yang tepat diantara krisis yang terjadi. Krena krisis multidimensi yang terjadi tidak hanya krisis ekonomi, namun juga menyangkut masalah politik dunia, sosial, hukum hingga krisis kepercayaan. Memungkinkan sekali krisis kepercayaan dapat tumbuh pesat di tengah gen Z disebabkan oleh kepemimpinan yang tidak manusiawi. Kebijakan pemerintah yang dibuat tidak menguntungkan rakyat apalagi gen Z. Untuk itu, gen Z disinyalir dapat membawa perubahan sekaligus perbaikan untuk generasi ini.
Gen z memiliki berbagai potensi yang dapat menumbuh kembangkan akal dan pikiran yang sejalan. Namun, di era saat ini yang memasuki krisis multidimensi dari segi apapun gen Z adalah korban yang paling banyak terdampak. Sehingga mereka menjadi generasi yang cemas, paranoid dan mudah di lemahkan dengan merusak jati diri melalui peradaban sekuler kapitalistik. Alih-alih menjadi pakar solusi, gen Z yang tidak teguh pendirian, ilmunya kurang dan mudah terombang-ambing gelombang politik maka tidak bisa berpikir dengan jernih. Seharusnya hal ini membutuhkan perhatian penuh dari pemerintah.
Negara Sekuler Kapitalis Abai dengan Generasi
Kondisi saat ini, negara tidak lagi mempedulikan gen Z yang tergerus arus sekuler kapitalis. Karena pencipta utama sekuler kapitalis adalah negara itu sendiri. Sehingga gen Z tidak dirangkul dan mendapat perhatian khusus karena ganguan mentalnya. Untuk itu, gen Z sering klain mendapat stigma yang buruk dari segi kondisi sosial, kepribadian maupun kondisi mental. Tetapi, tidak sedikit juga gen Z yang sadar dengan krisis multidimensi saat ini dan bisa menyikapi dengan baik. Sehingga melahirkan generasi Z yang kritis dan dapat mengubah stigma sosial masyarakat. Bahwa generasi Z juga ada yang peduli dengan kondisi politik, sosial, masyarakat bahkan gejala iklim dunia. Dan mereka juga memiliki solusi dari suara-suara yang dilantnagkan lewat media sosial. Hal ini memicu perubahan kebangkitan menuju kondisi yang lebih ideal.
Kondisi ideal tersebut dapat dicapai dan bertahan lama hanya dengan menerapkan sistem islam dalam sebuah negara. Islam sendiri hadir sebagai agama dan juga aturan hidup manusia berjalan di muka bumi. Islam telah memberi solusi yang paripurna untuk krisis multidimensi saat ini, apalagi yang melanda generasi Z. Penerapan sistem islam dapat mendatangkan rahmatan lil alamin, membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia. Tidak hanya untuk generasi z saja, namun juga untuk generasi milenial, generasi X dan lain sebagaianya. Islam tidak memandang dari segeri generasi tapi mencakup seluruh penduduk di muka bumi.
Resistansi Gen Z dengan Islam Kaffah
Ketika islam diterapkan dengan baik dan konsisten maka masa kejayaan untuk mengubah krakter individu hingga lapisan masyarakat terbuka lebar. Karena islam akan menerapkan kurikulum berbasis syakhsiyah islam di setiap jenjang sekolah sehingga seluruh generasi dapat mengemban islam dan berkepribadian islam. Dalam hal ini kehadiran negara sungguh menjadi penentu generasi akan rentan atau resistan dengan berbagai gejolak permasalahan yang ada. Karena adanay negara merupakan pondasi sekaligus wadah kehidupan dengan menajlankan aturan Islam yang bersumber dari al-quran dan hadist.
Negara Islam juga menjadi pelindung dan pelayan umat. Tidak ada generasi yang mood swing, cemas terhadap masa depan, hingga mengalami gangguan mental. Berbagai kenegatifan tersebut akan menguar perlahan dan tidak menyisakan residu ketika yang diterapkan adalah sistem Islam. Selain itu, negara juga menjamin kebutuhan setiap individu dari berbagai lapisan masayarakat secara adil dan merata. Untuk itu, setiap pemuda akan dapat mengemban mabda islam dengan baik. Peduli dengan sesama umat. Agar masa depan bukan lagi sebatas kekhawatiran saja namun dapat terwujud dengan baik dan sejahtera.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar