Gen Z dari Cemas menuju Emas menurut Perspektif Islam


Oleh : Zulfi Nindyatami, S.Pd.

Kondisi saat ini menekan masyarakat dari berbagai sisi, mulai dari ekonomi hingga sosial. Terlebih tekanan tersebut juga dirasakan oleh para Gen Z (lahir antara pertengahan 1990–2010-an). Permasalahan yang terjadi baik dari diri sendiri maupun permasalahan di masyarakat. Keadaan ini merupakan salah satu faktor menurunnya kesehatan mental para Gen Z. Istilah-istilah yang menghantui lemahnya psikis dan fisik, kini sudah menggambarkan karakter Gen Z yang sulit diarahkan dan keinginannya yang cukup kuat.

Menurut laporan Depkes RI 2026 tentang krisis kesehatan mental di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 34,5% remaja/Gen Z mengalami gangguan kesehatan mental, bahkan ada indikasi peningkatan hingga hampir 40%. Artinya Gen Z di Indonesia paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental. Bentuk gangguan mental yang dialami Gen Z ini dapat berupa stres, depresi, kecemasan yang berlebih, overthinking, penyimpangan perilaku, eating-disorder, self harm, bahkan hingga berani untuk menghabisi nyawanya sendiri (30/06/2026, https://fikom.unpad.ac.id). 

Faktor pemicunya juga beragam. Pengaruh media sosial, kebiasaan asing, budaya barat, tekanan sosial, tekanan keluarga, hingga tekanan ekonomi. Jika kita amati, media sosial di ruang digital ini sangat masif menguasai dan memengaruhi dunia saat ini, terlebih Gen Z. Mereka ‘memantaskan diri’ demi viral di media sosial, tanpa menghiraukan dampak yang terjadi di dunia nyata. Adapun ekspektasi sosial yang membuat mereka melakukan segala cara untuk tetap jadi pusat perhatian. Selain itu, faktor kondisi keluarga yang mengalami konflik rumah tangga memicu anak berada di posisi yang tidak aman. Di sisi lain, mereka juga mengalami bullying dan cyberbullying, yang menimbulkan pengucilan sosial di tengah masyarakat. Ditambah istilah-istilah asing seperti FOMO (fear of missing out) merasa cemas jika tidak mengikuti trend masa kini. Pelabelan generasi stoberi yang memiliki mental lemah, juga kondisi pemuda yang burnout. Apabila semua faktor ini tidak ditangani segera, dampak besarnya bukan hanya kepada individu semata, namun juga kepada negara (30/06/02026, https://www.emc.id) 

Fenomena ini tidak hanya terjadi di skala nasional, tetapi juga menggejala di seluruh dunia. Gen Z merasakan ketidakpastian karir dan masa depan yang membuatnya bersikap lebih skeptis. Jika bukan dengan memperbesar karir di kondisi saat ini, mungkin masyarakat akan sulit bertahan hidup. Namun, ini balik lagi kepada negara yang memiliki kebijakan untuk memajukan karir rakyatnya. Gelombang ketidakpastian ini akan memicu kemarahan para pemuda. Bahkan kecemasan berlebih terhadap kebijakan negara yang dialami gen Z di salah satu negara, menjadikan gejolak demonstrasi yang brutal. Bahkan, mereka berani untuk ‘menggulingkan’ pemerintahan (30/06/20206, https://pacis.unpar.ac.id). 

Namun, dari kondisi tersebut muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini. Perlawanan aktif yang dilakukan Gen Z berupa tumbuhnya inovasi dan kreativitas yang mulai mengikuti arah perkembangan zaman. Selain itu, para pemuda yang aktif mengkritisi pemerintahan dinilai masyarakat sebagai kontrol sosial dan agen perubahan. Gelombang resistensi tersebut mulai muncul besar di media sosial. Tata kelola konsumen media sosial terbesar ada di para pemuda, termasuk penyebaran opini masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap para pemuda masih tersimpan baik, walaupun ada segelintir pemuda yang masih berpihak pada penguasa. (30/06/2026, https://www.kompas.co.id) 

Berdasarkan fakta dan berita yang nyata terjadi, menggambarkan bahwa krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini jadi pemicu utama Kecemasan Gen Z. Manajemen pemikiran yang tidak terkontrol, membuat Gen Z semakin overthinking dengan fakta-fakta tersebut. Akibatnya para pemuda sudah termakan emosi hingga mereka merasa depresi. Di sisi lain, mereka harus menyelesaikan permasalahannya secara mandiri tanpa adanya perhatian langsung dari pemerintah. Pasalnya tidak satu atau dua pemuda saja yang mengalami krisis multidimensi, bahkan hampir setengahnya dari penduduk usia produktif. Ini menjadi permasalahan global yang membutuhkan penanganan cepat.

Setiap manusia memiliki potensi dan karakteristik masing-masing. Potensi yang dimiliki Gen Z sebagai pemuda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekuleristik (memisahkan agama dengan kehidupan) kapitalistik. Budaya barat semakin leluasa untuk masuk dan meracuni para pemuda. Gaya hidup yang jauh dari syariat, menjadikan mereka dilenakan dengan kehidupan dunia yang fana. Bahaya jika manusia justru dijauhkan dari fitrahnya yang dekat dengan agama. Inilah yang terjadi pada peradaban sekarang, potensi para pemuda melawan fitrahnya sebagai manusia. Pengarahan potensi tersebut tidak diberikan ruang khusus untuk mereka mencari jati diri yang sesungguhnya. Mereka justru ditekan untuk memberikan manfaat semu bagi para penguasa. 

Di balik permasalahan tersebut, karena abainya riayah negara terhadap generasi. Negara masih memilah milih pemuda yang dapat memberi keuntungan semata, maka mereka yang akan mendapatkan perhatian. Namun, pemuda yang justru mengkritik kebijakan justru mereka diabaikan. Inilah periayahan parsial dengan asas manfaat. Di sisi lain, para pemuda juga mendapatkan perhatian buruk dari generasi sebelumnya. Alih-alih dirangkul, generasi muda justru seringkali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya.

Di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Gen Z bisa menjadi peluang perubahan untuk mereka bangkit menuju kondisi yang lebih ideal. Tidak sedikit para pemuda yang berani lantang mengkritik kebijakan pemerintah, di tengah kecemasan mereka. Peluang perubahan dapat berawal dari kerendahan yang membuat mereka termotivasi untuk bergerak menjadi agent of change di tengah masyarakat. 

Adanya motivasi menuju peradaban yang lebih stabil, memulainya dengan Islam sebagai solusi dari krisis yang melanda dunia hari ini. Islam bukan hanya sekedar agama spiritual yang diterapkan oleh individu saja. Namun, lebih daripada itu. Sistem Islam mampu mendatangkan kehidupan yang rahmatan lil alamin. Membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia. Problematika umat juga tekanan dan krisis kehidupan yang mengakibatkan kecemasan pada Gen Z, mampu diselesaikan dengan sistem Islam. Pengaturan kebijakan yang tersistem dengan baik, pengelolaan dan perhatian pada setiap individu yang berusaha untuk taat dan beriman, dapat melahirkan para pemuda yang bervisi cemerlang. 

Karakter generasi di masa kejayaan Islam sangat kuat. Mereka memiliki kepribadian Islam dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan. Pemuda di awal tegaknya Islam, seperti Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid, membuktikan keberanian, tanggung jawab, dan kemandirian mereka dalam mengemban amanah besar. Mereka mampu membawa Islam hingga tersebar ke wilayah yang lebih luas. Tidak hanya itu, Ali bin Abi Thalib sejak kecil sudah dibina langsung oleh Rasulullah dengan fondasi akidah Islam yang kokoh. Jika melihat dari bukti tersebut, bahwa pemuda saat ini pun mampu untuk bervisi Islam. Perlu adanya tekad yang kuat untuk berani memberantas ketidakadilan. Memiliki mental yang kuat dengan akidah Islam. Kecemasan yang dialami pemuda juga berasal dari jauhnya rasa keimanan dalam diri mereka. Hal ini, karena berbagai tekanan yang menjauhkannya dari akidah Islam. 

Oleh karena itu, kehadiran negara sebagai pelindung dan pelayan umat, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Negara memiliki akses luas dalam mengembangkan potensi para pemuda. Jika negara memperhatikan dengan baik para pemudanya, dalam mengarahkan pada fondasi akidah, maka akan terwujud peradaban yang sejahtera. Baik dari sisi mental pribadi para pemuda, maupun dari sistem negara yang kuat. Tidak akan adalagi pemuda yang FOMO, generasi stoberi, overthinking, burnout, dan lain sebagainya. 

Sudah saatnya seluruh masyarakat khususnya para pemuda Gen Z untuk sadar pentingnya mengkaji Islam sebagai akidah dan mabda (ideologi). Mereka pun harus dibekali dengan rasa peduli terhadap kondisi umat. Agar masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan. Di benak para pemuda yang bervisi Islam, sebuah peradaban cemerlang akan lahir. Dibentuk oleh sistem Islam yang mampu membawa pemuda yang tangguh dan cerdas dalam menghadapi segala problematika. 

Wallahu a'lam bishshowwab




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar