Gen Z dari Depresi menuju Resistensi


Oleh: Tsaqif Farhana

Gen Z, mereka disebut sebagai generasi paling beruntung sepanjang sejarah. Lahir di era internet, tumbuh bersama kemajuan teknologi, dan memiliki akses informasi tanpa batas. Di atas kertas, Generasi Z seharusnya memiliki peluang lebih besar untuk meraih masa depan yang cerah. 


Kecemasan Menghantui

Namun kenyataannya justru berbanding terbalik. Di balik unggahan media sosial yang tampak penuh pencapaian, tidak sedikit anak muda yang diam-diam dihantui kecemasan tentang masa depan.

Mulai dari sulitnya mendapatkan pekerjaan, tingginya biaya hidup, hingga ketidakpastian kondisi dunia membuat optimisme perlahan berganti menjadi kegelisahan.

Kegelisahan itu bukan sekadar asumsi. Survei GoodStats menunjukkan enam dari sepuluh Gen Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa generasi ini menjadi kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi tren global. 

Ketidakpastian ekonomi, meningkatnya pengangguran usia muda, hingga perubahan dunia kerja yang sangat cepat membuat banyak anak muda merasa masa depan semakin sulit diprediksi.


Apa Penyebabnya

Selama ini media sosial sering dituding sebagai penyebab utama meningkatnya kecemasan Gen Z. Memang, banjir informasi dan budaya membandingkan diri dengan orang lain dapat memperparah tekanan psikologis.

Namun, menjadikan media sosial sebagai kambing hitam tentu terlalu menyederhanakan persoalan. Media sosial lebih tepat dipahami sebagai pemicu yang memperbesar tekanan, bukan akar masalahnya.

Sesungguhnya, Gen Z tumbuh di tengah krisis multidimensi yang diwariskan oleh sistem kehidupan hari ini. Mereka menghadapi biaya pendidikan yang terus meningkat, persaingan kerja yang semakin ketat, harga hunian yang sulit dijangkau, hingga konflik geopolitik dan krisis lingkungan yang menambah ketidakpastian.

Di saat yang sama, standar keberhasilan juga semakin tinggi. Anak muda didorong untuk selalu produktif, sukses di usia muda, memiliki karier cemerlang, dan menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. 

Ketika realitas tidak berjalan sesuai harapan, kecemasan pun menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.


Kapitalisme Biang Kerok

Inilah wajah peradaban kapitalistik yang mengukur manusia dari produktivitas dan pencapaian materi. Nilai seseorang perlahan direduksi menjadi angka. IPK, gaji, jabatan, jumlah pengikut di media sosial, atau simbol-simbol kesuksesan lainnya. Akibatnya, banyak anak muda merasa tidak cukup baik ketika gagal memenuhi standar tersebut. 

Lebih jauh lagi, negara pun semakin abai dalam menjalankan perannya sebagai pelindung generasi. Pendidikan, lapangan kerja, hingga kebutuhan dasar semakin banyak diserahkan kepada mekanisme pasar, sehingga generasi muda dipaksa berjuang sendiri menghadapi kerasnya kehidupan.

Ironisnya, ketika mereka mengeluhkan tekanan tersebut, Gen Z justru kerap mendapat stigma sebagai generasi yang manja, rapuh, atau tidak tahan menghadapi tantangan. Padahal, kegelisahan yang mereka rasakan merupakan respons yang wajar terhadap realitas yang memang penuh ketidakpastian. 

Persoalannya bukan semata-mata terletak pada mental individu, melainkan pada sistem yang gagal menghadirkan rasa aman dan harapan bagi generasi penerus.


Bangkit dan Sadar

Namun, di balik kecemasan itu tersimpan peluang yang tidak boleh diabaikan. Semakin banyak anak muda mulai mempertanyakan budaya kerja yang tidak manusiawi, ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, hingga arah pembangunan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. 

Sikap kritis ini menunjukkan bahwa kegelisahan tidak selalu berakhir pada keputusasaan. Sebaliknya, ia dapat menjadi awal lahirnya kesadaran untuk mencari tatanan kehidupan yang lebih adil.

Islam menawarkan arah perubahan tersebut. Islam tidak hanya mengajarkan ketenangan batin melalui kedekatan kepada Allah Swt., tetapi juga menghadirkan aturan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesama manusia, dan dengan negara. 


Energi Perubahan Hakiki

Dalam pandangan Islam, manusia tidak diukur oleh banyaknya harta atau pengakuan sosial, melainkan oleh ketakwaannya. Orientasi hidup yang benar inilah yang mampu membebaskan manusia dari tekanan untuk terus mengejar validasi dunia.

Di saat yang sama, Islam menempatkan negara sebagai raa'in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyat. Negara bertanggung jawab menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, menyediakan pendidikan yang berkualitas, membuka lapangan pekerjaan, mengelola kekayaan alam untuk kemaslahatan umum, serta menciptakan lingkungan yang memungkinkan generasi muda berkembang secara optimal.

Dalam sejarah peradaban Islam, lahir banyak pemuda yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan keberanian karena tumbuh dalam sistem yang membentuk kepribadian Islam sekaligus memberikan jaminan kehidupan yang adil.

Barangkali benar bahwa Gen Z adalah generasi yang paling cemas. Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari generasi yang berani mempertanyakan zamannya. 

Kegelisahan tidak harus berakhir menjadi depresi atau keputusasaan. Dengan arah perjuangan yang benar, kegelisahan dapat berubah menjadi energi untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi.

Disinilah Islam menawarkan harapan, bukan hanya sebagai penenang jiwa, tetapi sebagai sistem kehidupan yang mampu melahirkan generasi tangguh dan menghadirkan masa depan yang benar-benar layak diperjuangkan.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar