Janji yang Menguap, Derita yang Berulang


Oleh: Ai Dewi Mulyawati 

Kesenjangan sosial di negeri ini kini telah menyentuh batas yang sungguh memilukan. Di satu sisi, ada segelintir orang yang menumpuk kekayaan hingga tak terhitung jumlahnya; harta yang mereka miliki bahkan melebihi total kekayaan yang dikumpulkan oleh 50 juta rakyat biasa yang bekerja keras seumur hidup. Sungguh sebuah fakta yang mengiris hati.
 
Di saat mereka bergelimang harta yang tak akan habis digunakan hingga tujuh turunan, jutaan rakyat lainnya masih berjuang habis-habisan sekadar untuk tetap bertahan hidup. Mereka melawan lapar, memeras keringat, dan bekerja sekuat tenaga, semata-mata demi sesuap nasi agar tidak mati kelaparan.
 
Inilah drama kehidupan paling menyedihkan yang terjadi saat ini. Kisah orang miskin yang mendadak kaya raya seolah hanya ada di layar kaca atau dalam alur cerita drama belaka. Sebab di dunia nyata yang penuh kepahitan ini, yang lebih sering kita saksikan justru orang miskin yang mendadak binasa.
 
Berbagai kisah pilu membuat dahi berkerut dan dada terasa sesak. Penyebab kepergian mereka sungguh tak pantas terjadi di negeri yang kaya raya akan sumber daya alam ini.
 
Ada kepala keluarga yang menghembuskan napas terakhirnya sambil menahan sakit luar biasa, hanya karena tak memiliki sepeser pun uang untuk berobat ke dokter.
 
Ada ibu rumah tangga yang putus asa, mengakhiri hidup bersama anak-anaknya, karena tak sanggup lagi melihat buah hatinya menderita kelaparan dan kesusahan. Ia memilih jalan pahit itu karena kenyataan hidup tak memberinya jalan keluar lain.
 
Bahkan ada anak kecil yang masih polos, nekat mengakhiri masa mudanya, hanya karena merasa malu tak mampu membeli sebatang pulpen—hal yang sepele bagi orang kaya, namun baginya menjadi sumber rasa malu dan ejekan dari teman-temannya.
 
Sampai kapan air mata dan penderitaan ini akan terus berulang? Di mana letak kepedulian para pemimpin yang berjanji akan memperjuangkan nasib rakyat kecil? Di mana keadilan yang selalu dijanjikan itu?
 
Ternyata semua janji manis yang terucap saat merayu suara rakyat demi merebut kursi di gedung wakil rakyat, hanyalah omong kosong yang menguap begitu saja setelah kemenangan diraih. Begitu terpilih dan memegang kekuasaan penuh, mereka justru berpesta pora, menghamburkan uang demi kemegahan perayaan dan kemewahan yang tak perlu.
 
Sumpah jabatan yang diucapkan dengan lantang seolah tak menjadi beban berat di pundak. Itu dianggap sekadar upacara seremonial belaka, syarat formal sebelum menikmati manisnya kekuasaan. Tak sedikit pun terlintas di benak mereka, bahwa segala harta dan kekuasaan yang diraih kelak akan dimintai pertanggungjawaban yang amat berat di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui.
 
Sungguh sangat berbeda dengan para pemimpin di masa lalu, para penerus mulia setelah wafatnya Rasulullah Saw. Abu Bakar berkata dengan rendah hati: "Wahai manusia! Aku telah diangkat untuk mengurus urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antaramu. Maka jika aku berbuat benar, bantulah aku; namun jika aku keliru, luruskanlah aku!"
 
Umar bin Khattab gemetar memikirkan tanggung jawabnya: "Seandainya seekor keledai terperosok di negeri Irak karena jalannya rusak, niscaya aku sangat takut dimintai pertanggungjawaban Allah di hari Kiamat: mengapa engkau tidak meratakan jalan itu?"
 
Utsman bin Affan menegaskan inti kepemimpinan: "Sesungguhnya yang kalian butuhkan adalah pemimpin yang adil, bukan sekadar orang yang pandai merangkai kata."
 
Dan Ali bin Abi Thalib pun berucap dengan jujur: "Demi Allah, sepatu usang yang tak berharga ini lebih kusukai daripada memimpin kalian, jika bukan demi menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan."
 
Keempat pemimpin agung penerus Rasulullah itu tak satu pun yang bersorak gembira atau mengucap syukur berlebihan karena terpilih. Tak ada yang merasa menang atau beruntung. Bahkan Umar bin Khattab meneteskan air mata karena ketakutan membayangkan betapa beratnya pertanggungjawaban kelak di akhirat.
 
Sementara itu, begitu banyak orang zaman sekarang yang gemar mengaku, "Kami Pecinta Rasulullah Saw!" Maka timbullah pertanyaan yang menusuk hati: seperti apa sebenarnya cinta yang kalian ucapkan untuk beliau, jika tingkah laku kalian justru jauh dari teladan yang beliau wariskan?
 
Berikut adalah dalil Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad Saw. mengenai kepemimpinan:
 
1. Amanah Kekuasaan Wajib Disampaikan dan Dijalankan dengan Adil
QS. An-Nisa Ayat 58:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil."
 
Maksud ayat tersebut, kekuasaan, jabatan, dan harta rakyat adalah amanah, bukan milik pribadi yang bisa dipergunakan sesuka hati. Seluruh kekayaan negara adalah milik rakyat, yang harus disalurkan secara adil dan merata.
 
2. Kekayaan dan Kekuasaan Akan Dipertanggungjawabkan
QS. Ali Imran Ayat 180:
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Dan janganlah sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepadanya dari karunia-Nya mengira bahwa hal itu baik bagi mereka, padahal hal itu buruk bagi mereka. Apa yang mereka kikirkan akan dilingkarkan pada leher mereka pada hari Kiamat."
 
Jabatan yang diamanahkan akan ditanya bagaimana pemanfaatannya; begitu pula harta yang diperoleh akan ditelusuri asal-usul dan peruntukannya.
 
3. Teladan Sejati Ada pada Rasulullah Saw.
QS. Al-Ahzab Ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat."
 
Allah telah mengutus Nabi Muhammad sebagai contoh tauladan bagi manusia, baik dalam memimpin rumah tangga maupun negara.
 
Hadits Nabi Muhammad Saw.
 
1. Setiap Pemimpin Akan Dimintai Pertanggungjawaban
(HR. Bukhari dan Muslim).
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Maka pemimpin negara adalah pengurus, dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya."
 
2. Pemimpin yang Mengkhianati Rakyat Haram Masuk Surga
(HR. Bukhari dan Muslim).
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
 "Tidaklah seorang hamba yang diberi amanah memimpin rakyat, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan mengkhianati rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan baginya surga."
 
3. Cinta Kepada Rasulullah Wajib Mengikuti Jalan-Nya
(HR. Bukhari).
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya."
 
Mencintai Rasulullah berarti meneladani akhlak dan kepemimpinannya, bukan sekadar ucapan di lisan belaka.

Berapa kali negeri ini berganti pemimpin? Silih berganti wajah dan kebijakan, namun apakah nasib rakyat menjadi lebih baik dibandingkan kepemimpinan sebelumnya? Apakah kesejahteraan benar-benar terasa menyentuh mereka yang berada di garis kemiskinan paling bawah? Apakah jumlah orang miskin semakin berkurang dan taraf hidup semakin layak? Dan yang terpenting, adakah di antara mereka pemimpin yang benar-benar mencintai rakyatnya, jauh melebihi kecintaannya kepada jabatan, harta, dan dirinya sendiri? Jawabannya: TIDAK.
 
Data Kemiskinan Indonesia Terbaru
- Jumlah penduduk miskin: 23,36 juta orang (8,25% dari total penduduk)
- Garis kemiskinan: Rp641.443 per orang per bulan (pengeluaran di bawah angka ini dikategorikan miskin)
- Perkotaan: 11,64 juta orang (6,60%)
- Perdesaan: 13,58 juta orang (10,72%) — kemiskinan di desa jauh lebih tinggi
- Kemiskinan ekstrem: sekitar 2,38 juta orang (hidup di bawah Rp12.885 per hari)
 
Badan Pusat Statistik mencatat, hingga saat ini masih ada 23,36 juta saudara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan. Angka ini bahkan belum menghitung jutaan orang yang nyaris jatuh miskin, hidup di batas tipis antara cukup dan kelaparan.
 
Sungguh ironis, di saat yang sama kekayaan segelintir orang yang berkuasa dan kaya raya bahkan melebihi total harta yang dikumpulkan oleh puluhan juta rakyat biasa yang bekerja keras seumur hidupnya.
 
Maka dapat ditarik satu kesimpulan sederhana namun mendasar: sekadar berganti pemimpin bukanlah solusi sejati untuk mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat. Akar masalahnya bukan pada siapa yang memimpin negara, melainkan pada sistem pemerintahan seperti apa yang dijalankan.
 
Ketika Rasulullah memimpin, beliau sepenuhnya menegakkan syariat Allah dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup seutuhnya. Keempat sahabat mulia penerus beliau, Khulafaur Rasyidin, pun meneruskan sistem murni yang dicontohkan Rasulullah. Terbukti, mereka berhasil menyejahterakan rakyatnya secara nyata.
 
Bukan berarti pada masa itu tak ada tantangan. Mustahil sebuah negara terbebas dari masalah; bahkan Rasulullah Saw, manusia pilihan yang terjaga dari dosa dan dijamin surga, tetap diuji dengan berbagai persoalan. Namun, masalah yang mereka hadapi bukan lahir dari kerusakan sistem, sehingga jalan penyelesaiannya menjadi lurus dan lebih mudah ditemukan.
 
Sangat berbeda dengan yang terjadi saat ini. Ketika masalah tumbuh dari sistem yang rusak, segala persoalan menjadi berlipat ganda, saling berkaitan, terstruktur, sistematis, dan sukar diberantas sampai ke akarnya.
 
Jelaslah sudah, kesejahteraan sejati hanya akan tercapai manakala sistem pemerintahan bersumber dari wahyu Allah dengan meneladani kepemimpinan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya.
 
Dalam pandangan Islam, kedaulatan mutlak berada di tangan Allah sebagai Pencipta dan Pembuat Hukum. Tugas pemimpin hanyalah melaksanakan dan menegakkan aturan Allah yang ada dalam Al-Qur'an secara sempurna, adil, dan penuh tanggung jawab.
 
Mari mulai dari diri kita sendiri untuk menerapkan syariat secara utuh. Janji Allah tercantum dalam QS. Muhammad Ayat 7:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
 
Wallahu’alam bishshawab.



Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar