Depresi Gen Z, Alarm Peradaban Modern


Oleh: Windi Permana S.sos

Generasi Z saat ini menjadi sorotan utama dalam isu kesehatan mental. Berbagai survei menegaskan bahwa anak muda Indonesia adalah kelompok yang paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan psikologis, dipicu oleh beragam faktor mulai dari pengaruh media sosial, tekanan sosial, hingga tuntutan akademik yang menyesakkan dan ketidakpastian masa depan bagi mereka. Lonjakan depresi di kalangan Gen Z Indonesia kini semakin nyata dan mengkhawatirkan. Faktanya,dalam 12 bulan terakhir sekitar 34,9% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, ini setara dengan: sekitar 15,5 juta remaja. (reports/12-i-namhs-report-bahasa-indonesia 26/05/23)

Melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026, Hampir 10% anak yang menjalani skrining menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa; Dari sekitar 7 juta anak yang telah diskrining, sekitar 338.000 anak (4,4%) menunjukkan gejala kecemasan dan sekitar 363.000 anak (4,8%) menunjukkan gejala depresi. (kemenkes.co.id, 09/03/26)

Survei Jakpat yang dipublikasikan dalam Gen Z Characteristics and Behaviors Outlook 2026 menunjukkan bahwa 60% Gen Z mengaku cemas terhadap masa depan, 57% terbebani tekanan finansial, 42% menghadapi tuntutan sosial, dan 36% merasa tidak berdaya menghadapi situasi di luar kendali. (data.goodstats.id, 08/04/26)

Fakta-fakta tersebut menegaskan bahwa krisis yang mereka alami bukan sekadar persoalan psikologis individual, melainkan cerminan dari sistem kehidupan yang rapuh. Krisis multidimensi - mulai dari ekonomi, sosial, hingga budaya digital - telah menjadi pemicu besar kecemasan generasi ini. Semakin meluasnya masalah ini menunjukkan adanya kegagalan struktural dalam menyediakan lingkungan yang sehat, sehingga depresi di kalangan Gen Z harus dipandang sebagai alarm keras atas buruknya sistem yang sedang kita jalani.

Fenomena ini sejatinya bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan menggejala di seluruh dunia, ketika ketidakpastian karier dan masa depan membuat anak muda bersikap lebih skeptis terhadap sistem yang ada. Namun, dari kondisi yang penuh tekanan itu, terlihat muncul gelombang resistensi—sebuah energi perlawanan yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini untuk menata ulang arah hidup sekaligus membuka jalan bagi perubahan sosial dan kehidupan yang lebih sehat di peradaban yang lebih mulia.


Negara Abai, Gen Z Tersisih 

Potensi besar yang dimiliki Gen Z sebagai generasi muda sering kali dilemahkan oleh arus peradaban sekuleristik kapitalistik yang merusak jati diri mereka. Budaya konsumtif, standar hidup berbasis materi, serta tuntutan popularitas di ruang digital membuat mereka kehilangan pijakan nilai yang kokoh. 

Di sisi lain, negara yang seharusnya hadir sebagai pelindung justru belum memberikan perhatian serius terhadap kesehatan mental generasi muda. Minimnya kebijakan yang menyehatkan membuat Gen Z sering merasa tidak mendapat ruang aman untuk berkembang. Lebih parah lagi, mereka kerap dilabeli dengan stigma negatif oleh generasi di atasnya - dianggap manja, rapuh, atau tidak tahan banting - padahal yang sesungguhnya terjadi adalah kebutuhan psikologis mereka tidak terpenuhi. Akibatnya, generasi ini semakin terasing dari dukungan sosial yang seharusnya bisa memperkuat daya juang mereka.

Meski demikian, kecemasan dan sikap kritis yang tumbuh di kalangan Gen Z tidak selamanya menjadi kelemahan. Justru, keresahan terhadap masa depan dan ketidakpuasan terhadap sistem yang ada dapat menjadi energi perubahan. Dari titik inilah mereka berpeluang bangkit, menuntut tatanan yang lebih adil, sehat, dan berpihak pada manusia, sehingga kesehatan mental bukan lagi sekadar isu pribadi, melainkan agenda kolektif untuk membangun peradaban yang ideal.


Islam Sebagai Rahmatan lil Alamin

Krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini tidak akan pernah selesai dengan sistem sekularisme dan kapitalisme yang hanya menambah beban manusia. Islam hadir sebagai solusi menyeluruh yang menata kehidupan dengan syariat Allah. Penerapan Islam bukan sekadar aturan ritual, melainkan sistem hidup yang mendatangkan ketenangan, keadilan, dan keselamatan bagi seluruh manusia dan alam. Inilah makna sejati dari Islam sebagai Rahmatan lil Alamin. 

Generasi Emas dalam Sejarah IslamSejarah mencatat, generasi muda di masa kejayaan Islam memiliki karakter yang kokoh. Mereka berkepribadian Islam, menjadikan aqidah sebagai identitas, dan unggul dalam berbagai bidang keilmuan. Dari Ibnu Sina hingga Al-Khwarizmi, dari para sahabat hingga tabi’in, semua menunjukkan bahwa generasi yang dibentuk oleh Islam mampu melahirkan peradaban yang gemilang.


Negara Sebagai Pelindung dan Pelayan Umat

Islam menempatkan negara bukan sebagai penguasa yang menindas, melainkan sebagai pelindung dan pelayan umat. Negara berkewajiban menjamin pemenuhan kebutuhan hidup rakyat secara adil, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga keamanan. Dengan riayah yang benar, generasi muda tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan aset berharga yang harus dirangkul, dididik, dibina dan disiapkan agar bisa menjadi penerus peradaban yang lebih baik. 


Menyadarkan Pemuda untuk Mengemban Mabda Islam 

Solusi Islam tidak akan terwujud tanpa kesadaran generasi muda hari ini. Pemuda harus kembali mengemban mabda Islam, menjadikan aqidah sebagai landasan berpikir dan bertindak, serta peduli terhadap kondisi umat. Dengan itu, masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan, melainkan kenyataan yang bisa diwujudkan. Kecemasan yang mereka rasakan hari ini justru bisa menjadi energi perubahan menuju peradaban Islam yang kaffah.


Jalan Pulang ke Islam 

Krisis yang menjerat Gen Z hanyalah cermin dari rapuhnya sistem yang dibangun di atas sekularisme dan kapitalisme. Dunia butuh arah baru, dan Islam telah menawarkan jalan yang jelas. Sejarah membuktikan sejak masa Rasulullah Saw memimpin negara Islam. Generasi emas lahir ketika Islam dijadikan mabda atau ideologi. Negara hadir sebagai pelindung umat, dan pemuda sadar akan peran besar mereka.

Hari ini, kebangkitan itu bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan panggilan nyata untuk masa depan. Pemuda harus berani menolak stigma, menyingkirkan kecemasan, dan menjadikan Islam sebagai landasan perjuangan. Dengan itu, masa depan emas bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang bisa diwujudkan bersama.

Wallahu a’lam bishawab




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar