Ambisi Israel Raya, Palestina Terselamatkan Dengan Bersatunya Umat Islam


Oleh : Rohmah.SE,Sy

Penjajahan merupakan salah satu bentuk kezaliman terbesar dalam sejarah manusia. Di mana pun terjadi, penjajahan selalu melahirkan penderitaan, perampasan hak, penghancuran kehidupan, dan hilangnya martabat suatu bangsa. Karena itu, berbagai hukum internasional dan deklarasi hak asasi manusia menyatakan bahwa penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi.

Namun hingga hari ini, dunia masih menyaksikan tragedi kemanusiaan yang berlangsung di Palestina. Bahkan, penjajahan yang dialami rakyat Palestina bukan semakin berakhir, melainkan terus meluas dengan berbagai bentuk agresi yang semakin brutal.

Puncak dari kelancangan ini terjadi di jantung kesucian umat Islam yaitu Masjid Al-Aqsa. Pengibaran bendera Israel di dalam kompleks suci tersebut menjadi simbol provokatif atas ambisi penguasaan mutlak zionis untuk mengalahkan kehormatan umat Islam. Laporan dari CNN Indonesia (Juni 2026) bahkan membongkar konspirasi mufakat jahat, di mana Amerika Serikat dan Israel secara diam-diam berupaya merebut hak pengurusan Masjid Al-Aqsa dari tangan Yordania. Apa yang kita saksikan hari ini adalah potret kebiadaban, kekejaman, kejahatan kemanusiaan, dan kerusakan terbesar di muka bumi yang dipertontonkan secara terang-terangan.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa entitas Zionis terus melancarkan serangan ke Gaza meskipun berbagai seruan gencatan senjata telah disampaikan oleh dunia internasional.Serangan demi serangan mengakibatkan ribuan korban jiwa, kehancuran infrastruktur, dan krisis kemanusiaan yang semakin parah. Pada saat yang sama, pembangunan permukiman ilegal di Tepi Barat terus diperluas. Ribuan unit permukiman baru dibangun sebagai bagian dari strategi penguasaan wilayah Palestina secara bertahap. Berbagai laporan menunjukkan bahwa perluasan permukiman ini berpotensi membuat sebagian besar wilayah Palestina jatuh ke tangan penjajah. Tidak hanya itu, dunia juga dikejutkan dengan berbagai tindakan provokatif yang menyasar Masjid Al-Aqsa. Pengibaran bendera Israel di kompleks Al-Aqsa bukan sekadar tindakan simbolik biasa, melainkan pesan politik yang menunjukkan ambisi penguasaan penuh atas salah satu situs suci umat Islam tersebut.

Mengapa kebiadaban ini bisa terus berlangsung berdekade-dekade tanpa bisa dihentikan? Jawabannya terletak pada dua hal: dukungan mutlak negara imperialis barat dan pengkhianatan terstruktur dari dalam tubuh umat Islam sendiri.

Amerika Serikat, sang polisi dunia, berdiri kokoh di belakang layar menyokong setiap jengkal perwujudan ambisi Israel Raya. Untuk meredam amarah publik dunia, AS meluncurkan narasi usang berupa “solusi dua negara” (two-state solution). Sebuah solusi racun yang sejatinya melanggengkan penjajahan, menjamin keamanan eksistensi entitas zionis, dan memaksa warga Palestina menerima sisa-sisa tanah yang telah dijarah.

Melawan ambisi ideologis Israel Raya tidak bisa dilakukan dengan mengemis keadilan pada hukum internasional yang bias, tidak pula bisa diselesaikan dengan diplomasi kosmetik. Ambisi ideologis yang batil hanya bisa dihancurkan dengan kekuatan ideologis yang haq.

Urusan Palestina bukan sekadar masalah kemanusiaan universal, ia adalah masalah akidah Islam. Tanah Palestina adalah tanah kharajiyah, bumi wakaf milik umat Islam hingga hari kiamat yang haram diserahkan walau sejengkal kepada penjajah.

Dari perspektif Islam, tindakan tersebut merupakan bentuk kezaliman yang nyata. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.” (QS Ibrahim: 42).

Ayat ini menunjukkan bahwa kezaliman tidak akan pernah mendapatkan pembenaran, meskipun dilakukan oleh pihak yang memiliki kekuatan militer dan dukungan politik yang besar.Lebih jauh, berbagai tindakan yang dilakukan entitas Zionis telah memenuhi unsur kejahatan kemanusiaan. Ribuan warga sipil menjadi korban, rumah-rumah dihancurkan, fasilitas kesehatan diserang, bantuan kemanusiaan dihambat, dan hak-hak dasar rakyat Palestina dirampas. Semua ini menunjukkan bahwa tragedi Palestina bukan sekadar persoalan politik regional, melainkan masalah kemanusiaan global.

Sayangnya, berbagai kecaman dunia internasional belum mampu menghentikan agresi tersebut. Salah satu penyebabnya adalah adanya dukungan politik, ekonomi, dan militer dari negara-negara besar, terutama Amerika Serikat. 

Dukungan ini membuat entitas Zionis memiliki ruang yang luas untuk melanjutkan berbagai kebijakan ekspansionisnya. Bahkan berbagai solusi yang ditawarkan sering kali hanya berorientasi pada pengelolaan konflik, bukan mengakhiri akar persoalan berupa penjajahan.

Di sisi lain, penderitaan rakyat Palestina yang terus berlangsung juga menunjukkan lemahnya persatuan dunia Islam. Negeri-negeri Muslim yang jumlahnya puluhan dengan sumber daya yang melimpah belum mampu menghadirkan langkah politik yang efektif untuk menghentikan penjajahan tersebut. Akibatnya, rakyat Palestina terus menghadapi tekanan dan penderitaan yang berkepanjangan.Dalam pandangan Islam, persoalan Palestina bukan semata persoalan teritorial, melainkan persoalan penjajahan atas tanah kaum Muslim dan kesucian Masjid Al-Aqsa. Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan kaum mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh turut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa penderitaan yang dialami kaum Muslim di Palestina seharusnya menjadi perhatian seluruh umat Islam, Islam juga memandang bahwa persatuan umat merupakan kekuatan yang sangat penting. Allah SWT berfirman: "Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS Ali Imran: 103). Ayat ini menegaskan pentingnya persatuan umat dalam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman. Karena itu, solusi hakiki atas persoalan Palestina tidak cukup hanya melalui bantuan kemanusiaan, diplomasi, atau kecaman internasional.

Yang dibutuhkan adalah kekuatan politik yang mampu melindungi umat Islam dan menghentikan penjajahan.Dalam Islam, kepemimpinan umat memiliki tanggung jawab untuk menjaga wilayah kaum Muslim, melindungi kehormatan mereka, dan membebaskan tanah yang diduduki penjajah.

Sejarah Islam menunjukkan bahwa Masjid Al-Aqsa pernah berada dalam perlindungan kekuasaan Islam selama berabad-abad. Di bawah kepemimpinan Islam, berbagai kelompok agama dapat hidup berdampingan dan memperoleh jaminan keamanan. Karena itu, banyak kalangan Muslim memandang bahwa persatuan politik umat merupakan salah satu kebutuhan penting untuk mengakhiri berbagai bentuk penjajahan yang masih berlangsung hingga hari ini.

Pada akhirnya, ambisi Israel Raya yang diwujudkan melalui penghancuran Gaza, perluasan permukiman di Tepi Barat, dan berbagai upaya penguasaan Masjid Al-Aqsa merupakan ancaman serius bagi rakyat Palestina dan dunia Islam. Tragedi ini menunjukkan bahwa penjajahan masih menjadi kenyataan yang harus dihadapi. 

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran yang lebih besar tentang pentingnya persatuan umat, keberpihakan terhadap keadilan, serta upaya nyata untuk menghentikan segala bentuk penjajahan agar rakyat Palestina dapat hidup merdeka di tanah mereka sendiri dan Masjid Al-Aqsa tetap terjaga kehormatannya.

Sejarah telah mengukir dengan tinta emas bagaimana Khalifah Umar bin Khaththab menerima kunci Al-Quds, dan bagaimana Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskannya dari cengkeraman tentara salib melalui kekuatan fisik militer. Jalur itulah—jalur kepemimpinan Islam dan jihad—yang harus ditempuh hari ini. Selama umat Islam belum menyatukan institusi politiknya di bawah naungan Khilafah, selama itu pula Al-Aqsa akan terus ternoda dan darah anak-anak Gaza akan terus mengalir. Saatnya umat tersadar dari tidur panjangnya, memutus rantai pengkhianatan para penguasa sekuler, dan bergerak bersama menjemput janji kemenangan Islam.

Wallahu a’lam bish-shawwab




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar