Rakyat Butuh Diurusi Negara, Bukan Dibebani


Oleh : Mirawati

Negara ada untuk melayani, bukan untuk menyulitkan. Setiap kali harga naik, pajak bertambah, aturan rumit, dan layanan publik masih lambat, rakyatlah yang paling merasakan. Kita disuruh "mandiri" dan "bertahan", padahal di saat yang sama beban makin menumpuk. 

Rakyat butuh negara yang hadir saat harga pangan melambung, bukan hanya imbauan untuk berhemat. Butuh sekolah dan rumah sakit yang mudah diakses, bukan antrean panjang dan birokrasi berbelit. Butuh lapangan kerja yang layak, bukan janji yang diulang setiap pemilu.

Mengurusi berarti memastikan kebutuhan dasar terpenuhi: pangan murah, pendidikan gratis yang berkualitas, kesehatan terjangkau, dan hukum yang adil. Membebani berarti menambah pungutan, mempersulit perizinan, dan mengalihkan tanggung jawab negara ke pundak warga. Apabila negara hanya fokus menarik dan mengatur, tetapi lupa mengayomi, maka kepercayaan publik akan habis. 

Sudah saatnya kita membalik logikanya: kurangi beban, tambah pengurusan. Karena negara yang kuat itu diukur dari seberapa sejahtera rakyatnya, bukan dari seberapa patuh rakyatnya menanggung beban.

Sebab, dalam Islam penguasa itu amanah. Bukan karena keterpilihan oleh rakyatnya, akan tetapi merupakan tugas dan amanah yang harus dimaksimalkan. Sebagaimana dalam hadis Nabi saw.: "Imam adalah pengurus dan dia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang diurusnya."

Dengan demikian, Islam memberikan syarat bahwa menjadi pemimpin tidak asal-asalan. Pemimpin harus memastikan dirinya layak untuk mengurusi rakyatnya tanpa mengharap balasan, kecuali balasan dari Allah Swt. Sanksinya berat di akhirat jika ia tidak menjalankan kekuasaan yang diamanahkan kepadanya secara maksimal. Namun, jika ia menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh, ia akan mendapatkan kebaikan bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Sebagaimana dalam salah satu hadis, ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat, salah satunya adalah pemimpin yang adil.

Realitas dalam sistem demokrasi justru melahirkan pemimpin yang tidak amanah dan tidak layak, baik dari sisi ketakwaan maupun keahlian. Padahal Nabi telah mengingatkan bahwa ketika amanah diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran.

Jadi, rakyat itu butuh diurusi, bukan dibebani. Hanya Islam satu-satunya agama yang sangat fokus pada pemimpin yang mengurusi rakyatnya dengan baik dan sesuai syariat Islam. 

Maka, apa yang diinginkan dan diharapkan rakyat, yaitu terciptanya keadilan dan kesejahteraan, akan terwujud jika kembali kepada Islam secara kafah. Akan terciptalah negeri baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. Wallahu a'lam bissawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar