Oleh : Khana Saputri, S.M., M.M. (Aktivis dan Tenaga Pengajar)
Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza telah melampaui batas nalar kemanusiaan modern. Meskipun komitmen gencatan senjata kerap kali diumumkan di panggung diplomasi internasional, realitas di lapangan menyajikan pemandangan yang bertolak belakang. Gencatan senjata terbukti menjadi apa yang disebut oleh UNICEF sebagai deadly illusion (ilusi mematikan). Faktanya, agresi militer terus berlangsung dan kelompok yang paling rapuh yakni anak-anak Palestina tetap menjadi korban utama yang berguguran setiap harinya. (www.aa.com, 19/6/26)
Berbagai laporan lembaga kemanusiaan global mengonfirmasi angka kematian anak yang terus melonjak tajam, bahkan di masa yang diklaim sebagai periode jeda pertempuran. Ketika rata-rata satu anak kehilangan nyawa setiap hari dan ribuan lainnya kehilangan masa depan, rumah, serta keluarga, dunia tidak boleh lagi menganggap ini sebagai dampak ikutan (collateral damage) yang tidak disengaja. Ada upaya sistematis yang menyasar generasi penerus Palestina. Menargetkan anak-anak bukan sekadar melumpuhkan fisik individu, melainkan upaya strategis untuk memutus mata rancangan eksistensi sebuah bangsa, menghapus keteguhan iman mereka, dan menjegal potensi bangkitnya kembali kehidupan Islam yang mulia. (Indeptnews.net, 30/6/26)
Sekuler Kapitalis Menghalalkan Darah Anak Gaza
Jika ditarik ke dalam peta geopolitik yang lebih luas, agresi ini berkelindan erat dengan ambisi teritorial jangka panjang. Proyek perluasan permukiman ilegal dan visi politik sayap kanan yang secara terbuka menolak kedaulatan negara Palestina menguatkan indikasi adanya agenda Greater Israel (Israel Raya). Untuk mewujudkan penguasaan penuh atas tanah bersejarah tersebut, kehancuran total baik infrastruktur maupun manusia dijadikan sebagai instrumen kebijakan. Ketika sekolah, rumah sakit, dan akses kehidupan dasar dihancurkan secara masif, bukan sekadar konflik melainkan keberlanjutan hidup generasi Muslim di masa depan.
Sayangnya, dalam menghadapi tragedi berskala genosida ini, tatanan dunia kontemporer menunjukkan kelumpuhan yang akut. Publik global dipaksa menyaksikan ketidakberdayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ratusan resolusi yang diterbitkan Dewan Keamanan tidak lebih dari sekadar tumpukan kertas tanpa taring di lapangan. Struktur politik global yang timpang, terutama melalui hak veto yang dimiliki oleh kekuatan adidaya seperti Amerika Serikat selaku pemasok utama persenjataan Israel, memastikan bahwa keadilan hukum internasional tidak akan pernah berpihak secara adil pada negeri-negeri Muslim.
Ironi terbesar justru datang dari dalam tubuh dunia Islam sendiri. Terjebak dalam sekat-sekat nasionalisme dan kalkulasi sistem ekonomi kapitalistik, banyak negara Muslim yang memilih bersikap pragmatis. Pertimbangan investasi, keamanan energi, dan hubungan strategis dengan negara-negara Barat sering kali menumpulkan keberanian politik mereka. Dukungan terhadap Palestina akhirnya mereduksi diri hanya sebatas retorika diplomatik dan pengiriman bantuan logistik, tanpa ada tekanan militer atau politik yang konkret. Selama kepentingan nasional masing-masing negara ditempatkan di atas kewajiban melindungi sesama Muslim, agresi di Gaza akan terus berlangsung tanpa bendung.
Solusi Sistemik Islam
Dalam perspektif sejarah dan akidah Islam, Palestina bukanlah sekadar isu kemanusiaan universal atau konflik regional bangsa Arab. Wilayah Syam adalah tanah *futuhat* yang diberkahi, yang status hukumnya adalah tanah kharajiyah milik seluruh umat Islam sejak era Khalifah Umar bin Khaththab ra. Oleh karena itu, pembebasan Palestina dari cengkeraman pendudukan adalah kewajiban kolektif yang mengikat seluruh kaum Muslimin.
Sejarah telah mengajari kita melalui kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi dalam Perang Hithin, bahwa bumi Palestina hanya bisa dimerdekakan melalui persatuan yang kokoh di bawah panji Islam, bukan lewat negosiasi di meja kapitalisme. Maka dari itu, penegakan institusi Khilafah ditempatkan sebagai agenda utama (qadhiyah masiriyah) umat Islam saat ini. Melalui solusi sistemik institusi Khilafah inilah, kekuatan militer dunia Islam dapat dikerahkan secara total dan terpadu untuk berjihad membebaskan Palestina sekaligus menghentikan hegemoni zionis.
Persatuan sistemik ini dikuatkan pula oleh sabda Rasulullah saw.: “Sungguh imam (khalifah) adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengan dirinya.” (HR Muslim).
Membiarkan bumi Palestina tetap terjajah, walau sejengkal tanah, adalah bentuk pengkhianatan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin. Tragedi Gaza hari ini harus menjadi momentum kebangkitan kesadaran ideologis umat. Solusi hakiki atas penjajahan ini tidak akan lahir dari ruang sidang PBB atau kompromi geopolitik yang semu, melainkan melalui penyatuan kekuatan politik dan militer dunia Islam dalam institusi Khilafah Islamiah untuk mengembalikan kemuliaan Islam dan membebaskan Palestina secara total.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar