Selawat Jangan Kehilangan Makna


Oleh: Isnawati (Muslimah Penulis Peradaban)

Kementerian Agama menggelar gerakan nasional Gema Selawat Kebangsaan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini menargetkan 1.781.945 umat Islam berselawat secara serentak. Angka tersebut dipilih sebagai simbol tanggal kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Kemenag menyebut gerakan ini diharapkan tidak berhenti pada selawat, tetapi mendorong keteladanan Nabi berupa kasih sayang, persaudaraan, kepedulian, persatuan, dan kemaslahatan masyarakat. Peluncuran resminya dijadwalkan pada Rabu, 26 Agustus 2026. (detikNews, Senin, 24/8/2026)

Gerakan tersebut juga dikaitkan dengan kepedulian terhadap masyarakat yang tertimpa musibah, termasuk gempa di Nusa Tenggara Timur serta kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Salah satu rangkaiannya adalah pembacaan dan khataman Dala'il al-Khayrat selama sepekan. Masyarakat dapat mengikutinya melalui masjid, majelis taklim, pesantren, lembaga pendidikan, maupun dari rumah.


Cinta Bukan Seremonial

Ada satu kalimat dari Kemenag yang justru layak direnungkan lebih dalam: cinta kepada Rasulullah tidak cukup berhenti pada lantunan selawat. Kalimat ini benar. Sebab cinta memang tidak seharusnya berhenti di bibir. Cinta semestinya melahirkan ketaatan.

Disinilah persoalan pentingnya. Keteladanan Rasulullah SAW jangan dipersempit hanya menjadi ramah, peduli, bersaudara, menjaga persatuan, atau mencintai negeri. Semua itu memang bagian dari akhlak yang baik. Tetapi Rasulullah SAW bukan sekadar tokoh moral yang mengajarkan manusia agar menjadi pribadi santun.

Beliau adalah Rasul Allah yang membawa risalah Islam.

Rasulullah SAW mengajarkan tauhid, membina umat, menjalankan ibadah, mengatur hubungan antar manusia, menyampaikan wahyu, menghadapi kemungkaran, dan berdakwah tanpa mengenal lelah. Dakwah bukan bagian kecil dalam kehidupan beliau. Dakwah justru menjadi jalan utama untuk mengubah masyarakat dari kehidupan jahiliah menuju kehidupan yang tunduk kepada Allah.

Oleh karena itu, pertanyaan paling penting bukan berapa juta orang yang berselawat. Pertanyaannya adalah apa yang berubah setelah selawat selesai dilantunkan?

Jangan sampai seseorang menghadiri Maulid, berselawat, mengkhatamkan kitab selawat, lalu pulang dengan kehidupan yang sama. Jangan sampai suara selawat begitu keras menggema, tetapi kesadaran untuk mengikuti risalah Rasulullah justru semakin sunyi.

Allah memberikan ukuran cinta yang sangat jelas: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” (QS. Ali 'Imran: 31)

Ayat ini menunjukkan bahwa cinta bukan sekadar pengakuan. Cinta harus dibuktikan dengan ittiba’, yakni mengikuti Rasulullah SAW.

Sungguh, meneladani beliau tidak cukup mengambil bagian yang terasa nyaman saja. Meneladani Rasulullah juga berarti meneladani ketaatan beliau kepada Allah dan kesungguhan beliau dalam menyampaikan Islam.

Lihatlah fase Makkah. Rasulullah SAW tidak mengubah masyarakat dengan seremoni. Beliau menyeru kepada tauhid, membongkar kemusyrikan, membina para sahabat, menyampaikan kebenaran, dan menghadapi berbagai penolakan. Di Thaif beliau disakiti. Di Makkah beliau dihina dan ditentang. Namun dakwah tidak berhenti.

Inilah sisi keteladanan yang paling penting. Jangan sampai keteladanan itu hilang hanya karena Maulid lebih ditekankan sebagai perayaan emosional saja.


Hidupkan Risalah Nabi

Selawat tentu bukan sesuatu yang harus dipertentangkan dengan dakwah. Justru selawat seharusnya menjadi pintu untuk semakin mengenal Rasulullah SAW. Semakin mencintai beliau, semestinya semakin ingin mengetahui apa yang beliau bawa. Semakin mengenal risalahnya, semakin kuat keinginan untuk mengamalkannya. Dan semakin memahami kewajiban umat, semakin tumbuh keberanian untuk mengajak kepada kebaikan dengan cara yang benar dan penuh hikmah.

Dakwah bukan berarti semua orang harus berdiri di mimbar menjadi penceramah. Dakwah dapat dilakukan sesuai kemampuan, ilmu, dan tanggung jawab masing-masing. Intinya adalah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan ilmu serta cara yang bijaksana.

Sudah seharusnya, Maulid Nabi dapat menjadi momentum membangun kesadaran Islam. Umat tidak cukup hanya diajak memperbanyak selawat, tetapi juga perlu dibina agar memahami akidah, ibadah, muamalah, keluarga, pendidikan, ekonomi, hukum, kehidupan sosial, serta kewajiban amar makruf nahi mungkar.

Di sinilah solusi Islam tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Solusi dimulai dengan mengembalikan manusia kepada ketaatan kepada Allah, memperkuat akidah, memperdalam ilmu, membina keluarga, membangun kepedulian sosial, dan menghidupkan dakwah di tengah masyarakat dalam naungan Khilafah.

Khilafah adalah kewajiban syariat, pembahasan keteladanan Rasulullah juga tidak berhenti pada perubahan individu saja. Pada saat itu Rasulullah SAW membangun masyarakat Islam di Madinah dan menerapkan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dari perspektif ini, perjuangan menghadirkan kehidupan yang diatur dengan syariat dipandang sebagai bagian dari agenda umat yang harus diperjuangkan melalui dakwah, pembinaan, penyadaran, argumentasi, dan cara-cara damai—bukan kekerasan.

Maka slogan “Selawat untuk Negeri, Teladan Nabi untuk Indonesia” sebenarnya memiliki peluang untuk dibuat jauh lebih substantif. Jangan hanya bertanya bagaimana agar masyarakat semakin banyak berselawat. Tanyakan pula bagaimana agar masyarakat semakin memahami dan menjalankan risalah Rasulullah SAW.

Selawat melahirkan cinta. Cinta melahirkan keinginan mengikuti. Mengikuti melahirkan ketaatan. Ketaatan semestinya melahirkan kesungguhan menjalankan Islam dan berdakwah.

Kesimpulan kritisnya berselawatlah sebanyak-banyaknya. Tetapi jangan berhenti di sana.

Jangan hanya membesarkan gema selawat, sementara perjuangan Rasulullah yang diselawatkan justru dilupakan.

Maulid Nabi seharusnya tidak sekadar membuat lidah semakin sering menyebut nama Rasulullah SAW. Ia harus membuat umat semakin mengenal risalahnya, semakin tunduk kepada Allah, semakin serius mengikuti sunnahnya, dan semakin hidup semangat dakwahnya.

Mencintai Rasulullah itu bukan sekadar memuji beliau. Mencintai Rasulullah adalah berusaha mengikuti jalan hidupnya dan menjalankan risalah yang beliau perjuangkan. Wallahualam bissawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar