Surah Penuh Rahmat Dinodai Aksi Maksiat


Oleh: Ai Dewi Mulyawati

Pada Hari Minggu, 9 Agustus 2026, sekitar pukul 22.30 WIB, di sebuah festival musik The Sounds Project, kawasan Ecovention dan Ecopark, Ancol, Jakarta Utara, terjadi sebuah peristiwa yang sungguh memilukan dan memantik kemarahan segenap lapisan masyarakat khususnya umat Islam.
 
Di sebuah Booth merek minuman beralkohol Newport, pengunjung diajak mengikuti sebuah tantangan melafalkan Surah Ad-Duha dari awal hingga akhir. Seorang pengunjung perempuan berinisial M tampil maju, lalu melafalkan surah tersebut dengan lancar tanpa terputus sedikit pun.
 
Namun, sungguh mengiris hati dan memicu amarah dengan yang terjadi setelahnya. Selesai membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an, ia dinyatakan berhak menerima hadiah sebotol minuman beralkohol secara gratis. Di sekelilingnya terdengar riuh gelak tawa, tepuk tangan, dan sorakan dari petugas booth serta pengunjung lainnya, seolah-olah melafalkan firman Allah hanyalah sebuah pertunjukan yang pantas dihadiahi dengan barang yang diharamkan-Nya.

Video kejadian tersebut direkam dan tersebar luas di media sosial. Seketika gelombang kemarahan dan kecaman melanda seluruh negeri.


Tanggapan dan Tindakan Lanjut
 
- Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam keras perbuatan tersebut. Ketua MUI Bidang Fatwa menyatakan bahwa aksi tersebut merendahkan kesucian Al-Qur'an, mempermainkan ayat-ayat Allah, dan tidak dapat dibenarkan baik dari sisi agama maupun etika kemanusiaan.

- Penyelenggara festival menyatakan bahwa aksi itu dilakukan di luar pengetahuan dan persetujuan, mereka turut mengecam keras dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.

- Polda Metro Jaya telah menetapkan empat orang sebagai tersangka yaitu RES selaku pembawa acara (MC) di booth, AK dan I pihak yang merancang dan mengajukan tantangan, dan M pengunjung yang melafalkan Surah Ad-Duha. Dua di antaranya telah ditahan dan disangkut dengan pelanggaran terhadap UU Hukum Pidana.

- Pihak Newport selaku merek minuman beralkohol juga telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh umat Islam dan masyarakat Indonesia.


Hakikat Kemaksiatan di Balik Peristiwa
 
Yang sungguh memilukan dan membakar dada adalah pertemuan dua hal yang bertolak belakang secara mutlak:

Di satu sisi, kesucian ayat Allah SWT. yang dibacakan secara lantang dan lancar. Surah Ad-Duha adalah surah yang diturunkan untuk menghibur Rasulullah Saw, menyampaikan janji kemuliaan dari Allah, berisi perintah menyayangi anak yatim dan orang miskin, penuh rahmat dan petunjuk.
 
Di sisi lain, bacaan suci itu lalu dipertukarkan dengan minuman keras, sesuatu yang diharamkan Allah dengan tegas, sebab merusak akal sehat, memadamkan cahaya iman, dan melahirkan segala kejahatan.
 
Seakan-akan Firman Allah dijadikan alat tukar untuk mendapatkan kemaksiatan. Melafalkan Al-Qur'an bukan untuk diamalkan, bukan untuk dijadikan pedoman hidup, melainkan sekadar "kunci" atau "tawaran" untuk memperoleh apa yang dilarang oleh Al-Qur'an itu sendiri. Sungguh suatu pelecehan dan penghinaan yang tak pantas dibiarkan.

Al-Qur'an adalah kitab suci yang diturunkan Allah sebagai petunjuk kehidupan manusia, Allah SWT. telah meninggikan kedudukan Al-Qur'an dalam firman-Nya:
اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآ اَرٰىكَ اللّٰهُۗ وَلَا تَكُنْ لِّلْخَاۤىِٕنِيْنَ خَصِيْمًاۙ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan hak agar kamu memutuskan (perkara) di antara manusia dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu. Janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) para pengkhianat.” (QS. An Nisa: 105).
 
Allah SWT. juga menegaskan dalam firman-Nya:
وَاٰمِنُوْا بِمَآ اَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُوْنُوْٓا اَوَّلَ كَافِرٍ ۢ بِهٖۖ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًاۖ وَّاِيَّايَ فَاتَّقُوْنِ
"Berimanlah kamu kepada apa (Al-Qur’an) yang telah Aku turunkan sebagai pembenar bagi apa yang ada pada kamu (Taurat) dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga murah dan bertakwalah hanya kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 41).
 
Menukarkan ayat Allah yang suci, penuh petunjuk dan rahmat dengan minuman keras yang diharamkan, sungguh merupakan penukaran yang paling merugi. Al-Qur'an diturunkan agar manusia hidup dalam kebahagiaan dunia dan akhirat, bukan dijadikan alat untuk mendapatkan apa yang mendatangkan murka Allah.

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui(-nya).” (QS. Al-Baqarah: 42).

Larangan Allah SWT. tentang mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dalam hal ini adalah penggunaan tantangan hafalan surah tapi digunakan untuk mendapatkan hal yang Allah haramkan.
 
Hukum Islam atas Tindakan Penghinaan dan Pelecehan Ini
 
Dari sisi hukum Islam, perbuatan tersebut mengandung beberapa pelanggaran yang berat:
 
1. Menghina dan Merendahkan Al-Qur'an
 
Al-Qur'an adalah Kalamullah (Firman Allah SWT). Menjadikannya bahan permainan, bahan tantangan untuk mendapatkan barang haram, adalah bentuk penghinaan terhadap Allah dan Kalam-Nya. Allah berfirman:
 فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتٰبَ بِاَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هٰذَا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ لِيَشْتَرُوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ فَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا كَتَبَتْ اَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُوْنَ
"Celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, “Ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka, celakalah mereka karena tulisan tangan mereka dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat." (QS. Al-Baqarah: 79)
 
2. Menjadikan Hal Suci sebagai Sarana Kemaksiatan
 
Melafalkan Surah Ad-Duha adalah ibadah. Ibadah tidak boleh dijadikan sarana untuk mendatangkan hal yang dilarang Allah. Allah SWT. berfirman:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ…
"Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 2)
 
Memberikan hadiah berupa miras kepada seseorang yang baru saja membaca Al-Qur'an adalah membantu seseorang untuk berbuat dosa. Membaca Al-Qur'an seharusnya mendatangkan rasa takwa, bukan dihadiahi dengan sesuatu yang memadamkan takwa.
 
3. Minuman Keras Adalah Induk Segala Kejahatan
 
Islam mengharamkan minuman keras dengan tegas. Allah SWT. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah: 90).
 
Rasulullah Saw. bersabda: "Minuman keras itu induk segala kejahatan dan keburukan. Barangsiapa meminumnya, maka ia tidak akan menerima shalatnya selama ia menyimpan dalam perutnya." (HR. Ibnu Majah).
 
Maka sungguh ironis dan menyakitkan hati ketika bacaan yang menyembuhkan hati dihadiahi dengan minuman yang merusak akal dan jiwa.
 

Makna Surah Ad-Duha yang Dipermainkan
 
Surah Ad-Duha sendiri turun dengan penuh kasih sayang Allah kepada Rasulullah Saw. Allah SWT. berfirman:

 وَالضُّحٰىۙ ۝١
وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ ۝٢
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ ۝٣
وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ ۝٤
وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ ۝٥

"Demi waktu duha dan demi malam apabila telah gelap, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu. Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu engkau menjadi puas." (QS. Ad-Duha: 1-5)
 
Lalu diakhiri dengan perintah:
 
اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ ۝٦
وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ ۝٧
وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ ۝٨
فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ ۝٩
وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ ۝١٠
وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّث ۝١١

"Adapun terhadap anak yatim janganlah engkau menindasnya. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau menyebut-nyebutnya." (QS. Ad-Duha: 9-11)
 
Surah yang berisi janji kemuliaan, perintah menyayangi yang lemah, dan perintah mensyukuri nikmat lalu dijadikan syarat untuk mendapatkan minuman yang merusak akal, melalaikan kewajiban, dan memicu kejahatan. Sungguh sebuah pelecehan makna yang mendalam.

Peristiwa ini menjadi peringatan keras bagi kita semua:
 
🔹 Al-Qur'an adalah Kalam Allah yang suci, bukan bahan pertunjukan. Tidak boleh dipermainkan, dijadikan dagangan, apalagi dipertukarkan dengan hal-hal yang dilarang Allah.
 
🔹 Menghina Al-Qur'an sama dengan menghina Allah SWT. yang menurunkannya. Tidak ada harga yang pantas untuk menukarkan ayat Allah. Apalagi ditukarkan dengan minuman keras yang diharamkan-Nya.
 
🔹 Ibadah tidak boleh dijadikan sarana kemaksiatan. Membaca Al-Qur'an adalah ibadah yang mendatangkan pahala. Jika dihadiahi dengan barang haram, maka ibadah itu seakan-akan sia-sia dan justru mendatangkan dosa bagi yang memberi maupun yang menerima.
 
🔹 Hukum Allah harus ditegakkan. Al-Qur'an tidak boleh dipermainkan begitu saja di hadapan umum. Negara wajib melindungi kesucian agama dan menindak tegas setiap perbuatan yang merendahkan dan menghina ajaran Allah.
 
Allah SWT. berfirman:
لِتَسْتَوٗا عَلٰى ظُهُوْرِهٖ ثُمَّ تَذْكُرُوْا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ اِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُوْلُوْا سُبْحٰنَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقْرِنِيْنَۙ
"Agar kamu dapat duduk di atas punggungnya. Kemudian jika kamu sudah duduk (di atas punggung)-nya, kamu akan mengingat nikmat Tuhanmu dan mengucapkan, “Mahasuci Zat yang telah menundukkan (semua) ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya." (QS. Az-Zukhruf: 13).
 
Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga, agar kita senantiasa menjaga kesucian Al-Qur'an, mengamalkannya dengan benar, dan tidak sekali-kali menukarkan ayat Allah dengan harga yang sedikit, apalagi dengan kemaksiatan yang mendatangkan murka-Nya.

Semakin jelas bahwa mempelajari Islam secara kaffah adalah kebutuhan seluruh umat, sebab hanya dengan pemahaman yang kuat maka segala bentuk pengaruh-pengaruh negatif tidak akan dengan mudah mempengaruhi pikiran seorang muslim.

Wallahu’alam bishshawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar