Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup


Oleh: Asih Lestiani

Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional yang harus dipenuhi. (Kompas.com, 12/08/2026)

Padahal di satu sisi, sebenarnya fenomena pemenuhan di atas dengan alasan self-reward dan sebagainya jika dibiarkan terjadi akan menyebabkan Gen Z terhimpit oleh dua tekanan sekaligus. Pertama, mereka para Gen Z terhimpit oleh persoalan ekonomi. Namun, di sisi lain mereka terus dibombardir budaya konsumsi sebagai jalan untuk menawarkan kesenangan instan.

Namun, di sinilah sebenarnya persoalan ini dimulai. Ada persoalan struktural yang lebih besar yang menyebabkan semua ini terjadi yakni sistem kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z di mana lapangan pekerjaan yang juga tidak semudah itu untuk diakses, ditambah biaya hidup yang terus naik, sementara gaji stagnan.

Negara juga lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda berjuang sendiri tanpa periayahan dari negara. Kemudian ditambah adanya tekanan ekonomi yang diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai "solusi" pelarian. Sehingga ini semua dijadikan solusi praktis untuk mengalihkan perhatian mereka dari akar masalah yang sebenarnya.

Media sosial pun tidak kalah berpengaruhnya, dimana media sosial di sistem kapitalis sekuler ini yang terus menerus mencekoki generasi dengan tren popular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif.

Dan di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari ridha Allah dan kemuliaan Islam. Begitulah sistem kapitalis sekuler yang menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan, tanpa memandang halal ataukah haram, tanpa memandang apakah itu termasuk sesuatu yang Allah ridha ataukah malah menjauhkan dari keridhaan-Nya.

Padahal, jika kita melihat kembali pada sejarah ke belakang yakni ketika Islam dijadikan aturan kehidupan, negara sangat memahami dan menjalankan peran semestinya yakni mengurusi umat. Negara dalam sistem Islam akan menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat, termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri.

Islam juga akan menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Ketika ditemukan konten yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh syariat atau dalam kata lain melenceng dari syariat maka hal ini akan ditindak tegas oleh negara. Media dalam khilafah akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat. 

Islam juga akan membangun paradigma atau cara pandang yang benar tentang hakikat hidup manusia yakni untuk beribadah kepada Allah. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah.
ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ ٱلْجِÙ†َّ ÙˆَٱلْØ¥ِنسَ Ø¥ِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُونِ
Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Dengan akidah yang kokoh yang ditanamkan pada setiap individu baik itu melalui pendidikan yang bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam (berpikir dan berperilaku (pola sikap) sesuai akidah Islam, maka insyaaAllah generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam yang gemilang sebagaimana hal ini pernah terjadi ketika Islam dijadikan aturan hidup. Wallahu a'lam bishawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar